Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
56


__ADS_3

"Aku berharap bisa menjadi bagian heremnya, tidak apa tidak disentuh. Asalkan bisa melihatnya setiap hari, itu sudah merupakan berkah dewa bagiku."


"Aku bangga dengan ketampanannya! Dia adalah simbol dari kesucian! Wajahnya juga bercahaya, menyilaukan!"


Rasa bahagia yang tadinya mampir mengisi benak Lu wei terhempas habis saat telinganya menyerap kata-kata berisi pujian yang memualkan.


Berdecih, dia melirih, "Apa yang perlu dibanggakan? Kotorannya masih bau busuk, jadi apa bedanya dengan pria jelek diluaran sana?"


Ehhh? Melirih? Kenapa tidak berteriak saja? Padahal itu lebih epic, para pecinta war pasti akan menonton tanpa berkedip. Oke, ini bukan permasalahan Lu wei berani atau tidak, melainkan boleh atau tidak. Reputasi, bersikap baik, menjaga sikap, jari tengah untuk itu.


Tetap saja si A-li tersayang masih bisa mendengar, tawa tak mampu dia tahan. Ketidakadilan macam apa ini! Dia ingin tertawa! Berteriak! Bersikap bagaimana dia sesungguhnya! Perkelahian, adu mulut, atau hanya sekedar kerusuhan kecil Lu wei benar-benar tidak boleh melakukannya di tempat ini.

__ADS_1


Oh, f*ck.


••••


"Hitam dan putih, baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan. Itu adalah pasangan abadi. Namun berseberangan, bukan bersisihan. Musuh abadi, tak akan pernah terganti. Tidak ada penengah, jika buruk ya buruk, baik ya baik. Seorang manusia hendaklah mengetahui, memahami dan menjauhi hal-hal tidak benar. Dan orang yang berada pada jalur yang tidak benar haruslah diberantas agar para generasi selanjutnya dapat hidup dalam jalan kebenaran."


"Memberantas dengan cara apa?"


Ruangan yang awalnya hampir hening kini sepenuhnya tenggelam dalam keheningan. Suara kaki yang mengetuk lantai bisa didengar dengan jernih.


Sosok di depan sana terkekeh. Suara yang memberi kesan tegas tanpa ragu memasuki setiap telinga. "Apa kau benar-benar tidak tahu?"

__ADS_1


Jawaban itu membuat Lu wei menyunggingkan senyum manis tapi  sinis. "Guru mengatakan bahwasanya mereka adalah pasangan abadi, benar bukan? Dengan memberantas 'si tidak benar' bukankah itu berarti berusaha memisahkan mereka? Tidakkah itu menentang h---"


"Jangan memperjelas maksudmu!" Tubuh mulai dijajahi gemetar, suara yang bergetar, serta deru nafas yang menggelegar. Pelototan juga turut ia lakukan. Sudah dipastikan apa yang terjadi pada guru itu.


Lu wei terkekeh, berpikir bagus juga melihat seseorang seperti itu. Ayo, ayo! Sedikit lagi war akan terjadi!


Panas, panas, dan panas. Atmosfer itu menginvasi setiap jangka ruangan. Para murid yang sedari tadi duduk tanpa emosi beralih menjadi penuh minat saat pemandangan ini tercipta.


Mendapati emosi apa yang saat ini menjerat gurunya, Lu wei bukannya bertindak patuh malah semakin menunjukan bahwasanya dirinya menolak untuk patuh. "Memperjelas maksud apanya? Murid ini hanya bertanya kenapa harus repot-repot memisahkan pasangan abadi yang sudah jelas tidak bisa dipisahkan?"


Menampik rasa sabar untuk memasuki benak. Gemuruh amarah semakin menggelora. Dengan dongkol guru itu menyergah, "Apa maksudmu kenapa harus seperti itu?! Sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan itu! Kau! Kau jangan sampai kau beralih kubu!"

__ADS_1


Tawa lepas, dan kandas secepat helaan nafas. Gelitik menyerang otak Lu wei. "Guru berpikir berlebihan, saya hanya berbicara tanpa otak. Siapa memangnya yang mengatakan saya ada di kubu seberang?"


__ADS_2