Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
160


__ADS_3

Tawa garing mencoba melelehkan suasana, tapi tawanya saja garing bukan panas, mana bisa melelehkan. Li na meneguk ludah susah payah. "Ahhh, begitu, maafkan aku yang dungu. Kalau begitu, bisakah Anda membantuku?"


"Membantu apa?" Meski badan wanita itu sudah berbalik, tapi mata yang berotasi tadi masih sempat Lina tangkap.


Sabar, sabar, orang sabar kuburannya lebar. Kata-kata itu cocoknya untuk pihak yang dinistakan astaga, kenapa malah yang menistakan? Tidak tahu malu.


Senyum mengembang perlahan, saat ini hanya perlu sabar. "Begini, apa kalian benar-benar tidak takut? Belati itu datangnya dari tempat kalian, bagaimana bisa kalian tidak takut?"


"Orang-orang di 'Rumah Hangat' kami terlalu nyaman di kehangatan, bagaimana bisa memikirkan sesuatu yang mencelakakan?"


"Begitu ya ... Uhh, err, kalau begitu bisakah semua orang di rumah kalian keluar? Aku hanya ingin memuji karna kagum dan ingin mengatakan sesuatu juga." Pemborosan kata, seharusnya tadi langsung saja, kenapa perlu berputar lagi, berbasa-basi?


Merasa tidak ada yang salah, wanita itu menepuk tangan beberapa kali dan menjerat semua atensi. Dua orang pria menghampirinya, wanita itu mengeluarkan perintah. "Keluarkan semuanya."


"Baik." Dua orang itu menjawab berasamaan dan bersegera melaksanakan perintah.

__ADS_1


Sejurus kemudian, kerumunan dengan kulit yang lembab oleh keringat sudah berjejer rapi membentuk persegi.


Pertanyaan-pertanyaan mulai menyeruak, wanita itu menenangkan dengan berteriak.


Li na tidak menghadap mereka. Tubuh tinggi miliknya memunggungi kerumunan, dia sedang membesarkan api dewa miliknya. Tentunya dengan tambahan darah.


Senyum kecil miliknya membeku saat mendapati sesuatu di pinggangnya. Tangan halus lengkap dengan kulit seputih susu. Jarinya panjang, ramping, dengan kuku yang diwarnai warna merah darah.


Sudah pasti perempuan! Itulah yang membuat senyum manisnya menjelma menjadi senyum joker.


Mata Li na melebar dipenuhi ketidak percayaan, benaknya dipenuhi gunung berapi dengan lava kemarahan. Meski marah, dia hanya bisa terkekeh canggung. Dia berdehem, tangannya yang diremas ia bebaskan dan membalikkan posisi. Li na tidak meremas tangan indah wanita itu, tapi menggenggamnya dan memberi arahan untuk naik.


Naik, naik, ke puncak gunung ...


Tinggi, tinggi sekali ....

__ADS_1


Sudah sampai. Perkataan Li na dibumbui tawa. "Maaf, Nona. Anda sepertinya salah menilai."


Tangan indah itu mengejang saat mendapati sesuatu. Meski rasanya kecil, tapi itu tetap membuatnya terkejut sampai hampir terjungkal. Dia menjengit dan menjerit, "Aiyaaa ...."


Li na tersenyum miris dan berbalik. Dirinya merasa buruk.


Sudut mulut wanita itu berkontraksi, pupilnya menyusut dengan sorot keterkejutan yang pekat. "Maaf, maaf, maaf, sangat maaf! Aku tidak tahu anda adalah wanita. Tubuhmu tinggi, penampilanmu juga penampilan laki-laki, jadi, kupikir ... Kupikir .... "


Lagi-lagi senyum canggung dan kekehan yang masih bersandang canggung yang harus dikeluarkan. Lina menjawab seramah mungkin. "Tidak, tidak apa-apa. Aku yang salah, bukan Anda, Nona."


Benar, dirinyalah yang salah.


Tubuh tingginya dibalut kesan bahwa dia laki-laki. Hanfu yang dipakai hanya mencapai lutut, dan bagian tangannya tidak longgar disebabkan tiga kancing di sekitaran pergelangan tangan, sepatu bot meliputi betis jenjangnya.


Rambutnya juga hanya dikucir kuda. Soal pinggang ramping, pinggang ramping tidak pilih kasih, beberapa pria malah lebih ramping dari perempuan. Jadi, tanpa menunjukan dada, sudah pasti inilah yang akan orang-orang duga.

__ADS_1


__ADS_2