Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
43


__ADS_3

40


Jadi ini rasanya tidak diperhatikan? Huh, menyebalkan juga.


Bisik-bisik menarik perhatian. Li na menoleh ke arah kiri. Dua gadis berpakaian sama rapinya tengah menutupi wajah dengan kipas.


Satu gadis bersuara seusai melirik orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Tentunya setelah orang itu agak jauh. "Heh, lihat! Bukankah itu Nona ...."


Temannya menyahut, "Haha, benar. Bagaimana menurutmu? Dia bahkan tidak terlihat seperti bangsawan."


"Jauh dibawah Nona Muda kita tentu saja."


Warna merah mewarnai wajah-wajah mereka, akibat dari menahan sebuah tawa. Tetap saja, bagi mereka ini tidak pantas untuk tidak ditertawakan. Pada akhirnya mereka hanya bisa cekikikan.


Sebuah celetukan mengakhiri cekikikan. Rasa takut yang menenggelamkan hati menghampiri diri. Tubuh kedua gadis itu terinvasi rasa takut mengakibatkan mereka bergidik.


"Katakan, lidah kalian mau kuapakan? Kurajam? Potong tipis-tipis? Atau kujadikan kue lapis? Berbahagialah karna aku mengijinkan kalian yang memilih sendiri."


Kaki mereka yang bergetar hebat memang memalukan. Tanpa kontrol, lebih tepatnya memang mereka meniatkan hal ini. Sejurus kemudian mereka berlari tanpa memikirkan reputasi. Secepat kedipan mata, mencoba menghindari seseorang.


Sosok yang menyeletuk tadi berdecih. Mulutnya yang manis melontarkan kalimat pedas sepedas gunjingan tetangga. "Heh, lidah pisau mental ingus."

__ADS_1


Sosok itu masih membelakangi seseorang yang ia bela. Tubuhnya yang ramping sepertinya akan lebih menggemaskan jika lebih pendek sedikit.


Sebuah tepukan membuatnya membalik badan.


Sontak, saat mendapati siapa oknum keren itu, Li na terlonjak sampai rasanya dia kentut tanpa sadar.


Dia, Lu Wei!


Astaga!


Jangan tanya kenapa dia bisa tau. Bukan karna dia sudah menemukan cermin. Melainkan, sosok-sosok yang mengenalnya tidak menunjukan keanehan saat melihatnya. Jadi, dia menganggap wajahnya memang seperti Lu Wei Apa ini takdir?


Juga, dia masih ingat wajahnya, oke! Dia bukan dor--- ekhem, dia tidak buta! Itu wajahnya!


Suara lembut mengalun meluluhkan sanubari. "Anak nakal." Selentikan yang tidak tercampuri rasa marah itu menyentuh kening.


Rasa hangat memanjakan benak Lu Wei. Tertoreh dan dapat dilihat dari binar matanya. Ucapan didominasi keluhan sakit yang palsu ia keluarkan. "Sakit, Jiejie!"


Tunggu! Jika itu Lu Wei, maka dia. D-dia ... Kakaknya, Lu Shi? Pemeran dengan hati selembut dan secantik mawar putih! Satu-satunya saingan pemeran utama wanita!


"Sejak kapan kamu sampai?" Lain halnya dengan ucapannya yang sudah berakhir, tangannya mulai merapikan penampilan si adik. Menepuk baju, merapikan rambut melahirkan rasa senang yang lebih pada Lu Wei.

__ADS_1


"Belum lama ini."


"Lalu di mana mereka?"


"Kami berpencar, mungkin mereka sedang bermain."


Kedipan mata bertambah cepat untuk beberapa detik. Lu Shi bertanya lagi, "Dia juga?"


Tidak ada jawaban verbal, tapi dagu yang menunjuk suatu arah menjadi perwakilan. Mengikuti instruksi itu, Li shi membalik badan.


Satu sosok menubrukan diri, lalu memeluk tubuh kecilnya. Suara manja teredam di sekitar leher. "Shijie, aku merindukanmuu!!"


"Hei! Jangan memeluknya terlalu erat, bodoh!"


"Bilang saja kau iri." Lidahnya terjulur menggoda, memancing hasrat bertengkar milik seseorang.


Lu shi tertawa, tawanya anggun. Seanggun bunga teratai yang duduk di permukaan air. "Jangan berkelahi, kalian baru datang jangan mencari masalah."


"Baik-baik." Keduanya kompak menjawab. Hanya saja Lu wei menjawabnya dengan nada malas, dia bahkan menguap setelahnya.


"Ternyata sudah ketemu! Huh, aku pikir kalian tersesat."

__ADS_1


Siapa dia? Tentu saja si ...


__ADS_2