Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
198


__ADS_3

Lin qili menghela nafas, menengadah memandang langit yang menampilkan wajah-wajah pucat. "Intinya, ada seorang bandar yang ingin bermain-main."


"Aiyaa, mereka benar-benar keras kepala. Mencari nafkah dengan cara seperti ini, orang yang memesan jasa juga tolol. Sudah tahu resiko yang bisa menimpa, masih saja ...."


Suara pelayan tadi menyela, mengiringi wajah-wajah pucat yang bergulir. "Diberitahukan, telah terjadi kerusahan dan ini adalah buahnya. Siapapun, dimanapun, menengadahlah. Lokasi saat ini masih di pasar serba ada, di bawah gunung kunlun, daerah klan Lin. Akhir kata, kami mengucapkan turut berduka cita." Kalimat itu terputar berulang kali tak tahu kapan berhenti. Tenang saja, pelayan itu tidak akan lelah dia hanya perlu mengatakan satu kali dan dia akan menggunakan sihir untuk menggandakannya.


Lebih dari sepuluh lingkaran sihir dengan gambar wajah yang melayang menembus awan di atas sana, membuat Paman tadi berdecak. "... Tidak kapok atau mereka memang kekurangan saraf otak? Bandel sekali, masalahnya, yang terkena dampaknya bukan hanya dia saja."


"Orang-orang seperti itu, tidak akan mudah untuk memusnahkannya. Dalam sudut pandang kita, orang-orang itu adalah orang yang egois, sesat, dan tidak mementingkan orang lain. Tapi, jika melihat dari sudut pandang mereka, aku tidak yakin akan seperti ini. Manusia memang sudah pasti merasa dirinya baik."


Paman tadi tertawa singkat, dia melirik Lin qili yang tingginya sudah melampauinya. "Anak kecil, bagaimana bisa kau berbicara seperti orang dewasa?"

__ADS_1


"Aku sudah duapuluh tahun, Paman, bukan dua tahun."


Satu alis paman itu menaik, dengan sudut bibir yang sedikit monyong. Pandangannya jatuh pada sosok berbaju biru gelap hampir hitam di samping keponakannya. "Ah, benar, sudah duapuluh tahun, bahkan sudah punya calon."


Li na yang sedari tadi terpaku pada sesuatu di atas, dan suara pelayan yang bagaikan musik pengiring tidur---yang rusak--- seketika menjengit dengan kepala yang sontak menoleh ke samping.


Lin qili juga tak kalah terpukulnya. Dia tersedak ludah. "Bukan, bukan, ini, ini temanku, MingXia. Dia perawat, Kakakku."


Suara air jatuh sedikit mencairkan suasana.


Setelah satu tegukan besar dan ******* puas, Paman tadi menaikkan pandangan dan mengeluarkan kata. "Salam, Tuan Jin. Sejak kapan anda di sini?"

__ADS_1


"Dari limapuluh jam yang lalu."


"Wahhh, sangat mengagumkan."


Jangan tanyakan kenapa Tuan Jin menjawab dengan sinis. Tubuh sebesar setengah gajah, dan paman itu tidak melihatnyaa?!!! Dia tidak buta, dia hanya buta pada yang tidak ada. Jadi, sudah mengerti?


Karna kedua pihak tidak ada yang mengambil topik tadi lagi, Li na akhirnya bisa bernafas dengan benar. Dirinya memilih duduk, dan matanya tidak sengaja menangkap remahan kulit kacang dan kacang, di pangkuan lin qingxuan. Karna Li na terlanjur bodoh, dia tidak bereaksi apa-apa. Hanya duduk, minum, dan menyimak.


"Paman, hasilnya bagaimana?"


Suara kulit kacang yang tertekan, retak dan terbuka mengawali jawaban. "Aku dan mereka sudah memeriksa mayatnya, sebagian besar malah tidak ada luka fisik, itu artinya yang menyerang adalah hantu kelas rendah, aku berfikir tentang seberapa tebal kantong uang orang yang menyewa jasa---"

__ADS_1


__ADS_2