Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
79


__ADS_3

"Penagih harta?"


Sebelum menjawab, Xing'er melemparakan sihirnya pada lubang array, membuat lubang itu lenyap. Murid yang murah hati lainnya juga melakukan hal yang sama. "Untuk lebih jelasnya, kau bisa membeli paket pengetahuan tentang hantu-hantu dari kalangan masyarakat biasa."


"Ah, aku tidak mau. Harganya agak mahal, aku ingin mengirit kekuatan spiritual, kau ingat? Bisakah kau beritahukan saja."


Tatapan serius berubah miris bercampur sinis saat jawaban itu memembus gendang telinga. Si murid tersenyum manis saat raut sinis itu tertangkap iris. Lu wei juga tidak bisa menahan hasrat tersedak tawa. Li na? Dia dungu saat ini, jadi untuk apa dia dipaparkan?


Xing'er hanya bisa menahan amarah lewat hempasan nafas. "Baiklah, dengarkan baik-baik. Jika kau bertanya yang jawabannya sudah ada dalam penjelasanku, setiap kali kau bertanya itu dianggap hutang!"

__ADS_1


"Astaga perhitungan sekali pada kawan sendiri! Baiklah katakan!"


Sebelum mengeluarkan kata Xing'er lebih dulu melonggarkan tenggorokan dengan berdehem. "Penagih harta adalah hantu para orang fakir dan miskin yang berakhir mencuri atau bertindak yang tidak baik lainnya karna desakan kebutuhan, yang kemudian mereka mati dalam keadaan masih dalam kondisi sesat. Penagih harta bertugas menagihi---tidak, menghakimi orang-orang pelit dengan melilit aliran meridiannya, ataupun organ pencernaannya sampai si pelit tersebut mau menyedekahkan hartanya. Mereka hanya menyerang orang-orang kaya yang pelit, jika orang pelit itu miskin sifat pelit sedikit masuk akal untuk ada, karna pada dasarnya orang miskin tidak punya yang bisa dibagi ...."


Kalimat yang terlampir hampir terakhir sebelum jeda, membuat ginjal li na terpelintir. Hey!


Murid yang bertanya tadi ikut duduk dan mendekat. Xing'er melanjutkan, "Sejatinya---menurutku, ini adalah bentuk hukuman yang menghasilkan efek positif. Karna, walaupun mereka hantu tapi jika dicermati lebih lanjut mereka tidak terkesan seperti hantu. Memang nyanyian mereka terdengar mengerikan. Namun, cobalah berpikir lebih luas. Dengan mereka menuntut orang-orang pelit untuk bersedekah kemungkinan akan adanya perubahan kepribadian pada orang pelit akan ada. Karna suatu kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin bisa membuat perubahan besar. Dari yang berat tangan menjadi ringan tangan, dari yang pelit menjadi murah hati."


Penjelasan panjang lebar itu terhisap sebagaimana oksigen terhisap. Murid tadi mengangguk, kemudian menjawab disisipi pertanyaan. "Kau tadi bilang 'dilakukan secara rutin, jangan bilang mereka akan di ter---" Sebuah angggukan membuatnya menelan sisa huruf. Murid itu kembali bertanya, "Tapi ini terkesan seperti paksaan, apa masih bisa dianggap amal?"

__ADS_1


Xing'er menjawab, "Aku bukan dewi, kawan. Jangan tanyakan itu padaku."


Murid itu lantas berdecak. "Huh, kalau begitu kutanya sekali lagi, ini yang terakhir. Bagaimana jika usaha itu sia-sia? Dan orang pelit itu tidak menunjukan perubahan?"


"Mereka akan mengambil sedekah yang terakhir. Nyawa. Dan untuk hukuman, orang pelit itu akan dijadikan 'Penagih Harta' untuk meringankan pekerjaan para 'Penagih Harta' lainnya. Tugasnya sama."


Hasrat menggelengkan kepala tidak bisa tertahankan. Murid itu berdecak lagi. "Wuihh, mengerikan!"


"Jadi bagaimana, apa kau tertarik menjadi bagian mereka?."

__ADS_1


__ADS_2