Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
84


__ADS_3

85


"Benar, juga. Ayo, ayo, cepat coba."


"Bisakah?"


"Aku agak terkejut."


"Baiklah, akan kucoba." Lu wei menghela nafas, matanya tertutup bibirnya terkunci rapat, tapi belum sempat nilai estetis diberikan sebuah suara besar, keras, juga melengking itu menghancurkan semua keindahan yang sempat hampir diberikan. "KALIAN SEMUA DIAM!"


"AIYAAA!"


Lu wei tidak menyisakan bagian otaknya untuk memikirkan hal di belakang. Fokusnya kini diambil seutuhnya pada hal di depannya. Eh, tapi pada akhirnya dia membatin, Eh, apa terlalu keras, ya? Sampai-sampai mereka tertegun. Astaga, errr .... Seusai membatin, Lu wei kembali bersikap profesional. Dia berkata diawali deheman. "Penagih Harta yang bijak, bisa dengarkan saya dulu? Apakah kita tidak bisa mengobrol atau setidaknya basa basi busuk dulu sebelum beradu kekuatan? Bisakah saya menanyakan sesuatu?"


Awalnya, geraman membuat hati ragu. Namun, suara berat memunculkan sejumlah harapan. Ada beberapa jenis harapan juga. Harapan satunya tentang pertanyaan itu, dan satunya yang lain lagi.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Satu sosok melayang mendekat. Tubuhnya besar dibalut jubah hitam kelam sekelam kenangan mantan, menambah aura-aura yang berbeda pada setiap jiwa.


Lu wei berkedip cepat beberapa kali. Sebuah gumaman sontak terlepas. "Aku bisa mencium bau-bau wajah tampan dari badannya."


Li na yang sedari tadi menyimak dengan elit, tersedak seketika saat ucapan itu menerobos gendang telinga. Bagaimana bisa penilaian mereka sama?


Apa otakku dan otakmu itu jodoh?


"A-anu, err ... Bisakah dicicil saja? K-kami tidak membawa uang sekarang."


"Hanya saja, apa alasan bagi kami untuk menyetujui itu?" Sungguh, Lu wei hampir saja menerbitkan senyum tapi kata-kata itu benar-benar membuat lu wei menelan kembali ekspresinya


Seketika semburan tawa menggetarkan udara, juga sesuatu yang ada dalam dada. Sungguh, sulit melihat apa yang ada dikepala mereka.


Ada beberapa murid yang tanpa sadar mundur selangkah, tangan yang menggenggam pedang juga diselimuti getaran. Meski Array terpasang dengan meyakinkan, tapi tetap saja ketakutan tidak bisa diobati. Jika metode ini tidak berhasil mereka benar-benar harus mengambil jalan lain. Gelud, baku hantam, berkelahi, terserah namanya apa intinya itu adalah jalan terakhir.

__ADS_1


"J-jaminan! Ya, jaminan. Kalian bisa mengambil sesuatu sebagai jaminan." Lu wei tersenyum bodoh lagi. Sungguh, jika tidak bisa yasudahlah gelud saja. Mau bagaimana lagi, benarkan?


Jujur saja, kaum malas seperti dia mengutuk seseorang yang menciptakan war atau hal semacam ini. Tunggu, Lu wei , kau mengutuk dirimu sendiri?


"Kami sudah punya jaminan."


Benar. Kenapa otakku jadi bulat begini? Meruncinglah, cepat. Sebuah kejadian yang membuatnya terlihat bodoh? Tentu saja ini. Bisa-bisanya dia menawarkan jaminan, sedangkan mereka sendiri sudah wajib mengambil jaminan itu tanpa adanya masalah. Nyawa.


Otakmu kurang olahraga, makanya membulat. Li na juga rasanya ingin menyentil otak Lu wei saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.


Setetes keringat imajiner menghiasi pelipis Lu wei, dihancurkan oleh kalimat yang keluar dari lawan bicara.


"Namun, jika kalian memang benar-benar bersungguh-sungguh untuk melakukan itu, maka itu bisa. Ada konsekuensinya juga, dan tentu saja lebih besar."


Tertegun, cengo, melotot semua muka menunjukan ekspresi tersendiri. Sungguh? Tidak ada kesalahan kata? Benar ini yang telinga mereka tangkap? Lidahnya tidak tergelincir, 'kan?

__ADS_1


__ADS_2