Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
150


__ADS_3

Li na menggapai mangkuk dan mencicipi sedikit kuah berwarna merah. Berdecak saat menyadari ini sudah tidak panas lagi, mienya bahkan sudah mengembang. Sebuah cahaya menerangi kepala, berakhir membuat tangan mengeluarkan sihir. Api biru lagi.


Baru beberapa detik Li na hampir saja membanting mangkuk karna sengatan rasa panas. Dia buru-buru meletakkan mangkuk itu dan akhirnya bisa mengutuk dan mengumpat. Meniup mie mencoba menurunkan suhunya, karna dia takut jika lidah Lin qingxuan terbakar dia harus membayarnya dengan lidahnya juga, atau lebih parah lagi kepalanya.


Pintu yang terbuka menarik mata, dan seketika keindahan yang menyilaukan jiwa menyapa.


Hanfu putih membungkus badan dengan apik, sabuk dengan sulaman naga  membawa bandul giok yang menendang udara. Rambut yang hanya tersanggul setengah masih menyisakan jejak air. Dan jangan lupakan magnet utama dari keindahan ini, wajah semulus dan sehalus batu giok, embun seolah sudah menyucikannya membuat itu berkilau lembut.


Sudah-sudah, sudah diberitahu bahwa keindahan itu menyilaukan jiwa, bagaimana bisa keindahan itu dideskripsikan dengan lengkap jika jiwa saja buta?


Satu detik terisi mata yang berbinar kagum dan mulut yang hampir saja melongo mengeluarkan iler. Li na meruntuhkan hening. "Apakah Yang mulia ingin makan sekarang?"

__ADS_1


Entah apa yang membuat pandangan lin qingxuan goyah, terlihat seperti sesuatu yang dirobek dan seolah terdengar suara pecah. Lin qingxuan tidak pandai merangkai kata, jadilah hanya mengangguk.


Li na beranjak hendak minggir, tetapi lin qingxuan lagi-lagi mencegahnya lewat kata. "Tetap duduk."


Li na lupa belum menuangkan teh!!! Pantas saja lin qingxuan mencegahnya. Mencoba sesopan mungkin, akhirnya dia bisa menuangkan teh tanpa getaran yang kentara.


Dia hampir beranjak lagi, dan lin qingxuan mencegahnya lagi. "Tetap duduk."


Kali ini apa? Jangan bilang aku harus menyuapinya? Atau dia curiga aku menaruh racun dimakannya? Astaga bagaimana ini?!


Keheningan berisi kebingungan dan ketakutan itu dihancurkan dari debuman pintu yang terbuka. Li na refleks melatah, "Nyamuk kentut!" Oh ****. Meski sudah pasti kata terakhir tidak bisa dimengerti orang-orang yang mendengarnya, tetap saja karna Li na orang sopan dia memilih mengatakan itu dalam batin.

__ADS_1


Heh, itu patut dipercaya? Tentu saja bukan karna dorongan sopan, melainkan karna Li na tahu siapa yang sudah ada di sini.


Tangan lentik dengan kutikula yang berkilau lembut merebut mangkok dengan halus. Namun, tatapan si pemilik tangan lentik itu tidak bisa dikatakan halus. Mata itu seolah mencerminkan Phoenix api.


Hentakan yang dihasilkan dari mangkuk dan meja sedikit keras, membuat Li na memucat.


Suara halus tapi tegas membalut ucapan orang tadi. "Minum." Cangkir teh tentu saja dijulurkan orang itu.


Lin qingxuan menerima dan meminum teh itu, alis yang bertaut menjadi tenang. Jakun yang naik turun dengan cepat menandakan tenggorokan lin qingxuan memang sangat membutuhkan air.


"Astaga, A-Xuan lambungmu tidak terbakar, 'kan?"

__ADS_1


Perkataan itu membuat Li na terhenyak dan mengalihkan mata dari orang itu berganti ke orang ini. "Bibi?!" Dia juga mendapati Jin Huang.


Wah, wah.


__ADS_2