
34
Lin Qingxuan bergeming. Jika diselami lebih dalam lagi, mata secerah harapan masa depan yang indah itu mentorehkan sebuah emosi. Seperti seseorang yang tengah berdecih meremehkan? Ya, agaknya.
"Pergi."
Helaan nafas mendahului jawaban. "Aiyooo, lihatlah ... apa segini saja tata krama Klan lin yang tersanjung itu? Tidak kusangka mereka bahkan berani mengusir orang yang hendak melanjutkan makan."
"Pergi."
Kata terulang lagi, sama halnya dengan tawa.
Kepala li na terdistorsi rasa pusing. Ah, dia bingung pasalnya adegan ini tidak ada dalam cerita asli. Sebenarnya dari dia datang pertama kali saja sudah sangat amat menyimpang dari cerita asli. Hey! Dia itu banyak beban jangan menambah bebannya dengan membuatnya pening!
"Baik-baik aku akan pergi setelah aku menghabiskan satu ini saja." Dia mengulurkan tangan, sontak satu tubuh menyembul dari bola asap hitam di sampingnya.
Tercengkram sempurna leher si korban. Orang itu membuka mulut bersiap menyantap hidangan. Ada kalanya jika ingin makan, janganlah membiarkan orang lain menyaksikan.
__ADS_1
Sudut matanya menangkap bayangan satu serangan. Dengan tenang dia menjadikan korbannya sebagai tameng. Dan, yap!
Layaknya semangka yang dipecah, si korban lenyap tanpa raga dan roh yang utuh. Hanya tinggal nama saja.
"Astaga! Berdoalah! Meminta pada dewa untuk keringanan dosa! Pangeran, kau sudah membunuh orang! Ya ampun! Ini akan menjadi gosip panas selama seratus tahun!"
Genggaman bertransformasi menjadi cengkraman, sangat erat. Li na bahkan sedikit kasihan pada pedangnya.
Gemuruh berbagai emosi membuat mata sedikit terisi. Terlihat, tapi masih ada raut datar sebagai sekat. Sudah kubilang sebelumnya, mungkin ... Mata memberitahukan segalanya.
Sorot yang dihasilkan mata seindah dan sejernih permata milik Lin Qingxuan itu tampak berbeda. Bukan lagi penuh rasa enggan, tapi kini terisi oleh rasa ketidakpercayaan, keterkejutan, kekecewaan, tak lupa amarah ikut meramaikan.
Setelah menepuk pundak adik sepupunya, dia melanjutkan dengan melontarkan kata. "Jangan memasukan kail itu ke dalam mulutmu."
Heh? Tidak berhasil? Li na berpikir itu akan seperti obat yang di iklankan, sekali minum sembuh.
Gerah dengan tawa yang menggerahkan hati itu. Li na menyergah, "Berhenti mengatakan omong kosong, Bodoh! Apa kau butuh obat penjernih mata? Atau perlu kuajarkan tata krama? Aku khawatir dengan matamu yang agaknya sudah mulai memburam itu." Kali ini li na tak tahu keberanian spesies apa yang mendiami dirinya. Dia bahkan berani mengangkat alis lengkap dengan raut sinis.
__ADS_1
Perlu diketahui, seseorang di seberang sana yang pasti adalah 'orang penting'. Karna, orang kaku seperti lin qingxuan saja mengenalnya.
Apalagi dilihat dari penyambutan pertemuan dari masing-masing pihak, jelas bukan sesuatu yang baik.
Mungkin otak orang itu sama miringnya seperti otak Li na. Orang itu tidak menghentikan tawa, melainkan menambah volumenya.
"Leluconmu lucu, tapi sayang itu menjengkelkan."
"Aku tidak bertanya."
First blood!
Kenapa tidak langsung victory saja?
Untuk beberapa detik, suara kentut nyamuk bahkan bisa didengar di sini karna sunyi yang mampir tiba-tiba.
"Baik, baik." Jubah abu nyaris hitam, menembus sudara kembar dari asap kendaraan. Sosok itu semakin mendekat
__ADS_1
Pandangan Li na terlebih dulu berlabuh pada senyuman miring, namun memiringkan otak beberapa perempuan, yang tertoreh di wajah seseorang itu.