
Lin qingxuan menurunkan bulu mata dan berkata, "Hanya tinggal menunggu."
Menunggu apa? Maafkan aku yang ditakdirkan dungu. Meski kepalanya dipenuhi tanda tanya, Li na tetap mengeluarkan anggukan.
Namun, setelah dua detik berpikir, dia memutuskan untuk menyengir dan bertanya, "Menunggu apa, Yang mulia?"
Dia mengangguk menandakan dia mengerti, tapi jika dia terbukti tidak mengerti dikemudian detik, wajahnya akan lebih buruk. Lebih baik hancurkan sekarang saja.
"Menunggu badai datang."
Sekitar beberapa dupa mereka di sini, keganjalan baru-baru ini terdeteksi. Baru saja, seolah ingin memastikan bahwa ini terjadi di saat-saat terakhir.
Langit yang mulai tenggelam disertai angin malam menghancurkan keringat. Mata Li na terus bergulir mencari yang bukan keganjalan.
Hingga, saat arah selatan menjadi utara, sesuatu yang bukan keganjalan akhirnya terdeteksi.
__ADS_1
Ketenangan yang mendera ditoko ikan itu hancur bersamaan dengan cabai yang mancur.
"Kau pikir ini pasar milik nenekmu?! Tidak ada uang berani mengambil!"
Detik setelahnya, kebisingan itu memancing pekikan yang melengking. Ikan-ikan bagai hujan, dan kios itu runtuh seketika.
Semuanya begitu kompak dan cepat. Semua keramaian yang terasa sepi itu kali ini berganti menjadi keramaian yang terasa tidak ramah.
Pekikan melengking di mana-mana, ruang yang tadinya transparan memunculkan tangan-tangan. Mencuat dan menempel pada badan bagaikan kulit. Jika dilepas maka robek dan memperlihatkan warna merah.
Teriakan menganak disetiap detik, sejurus kemudian pasar ini dipenuhi teriakan dan pekikan yang menyiksa telinga. Begitu juga dengan serangan yang menganak dan melawan tangan-tangan di setiap detiknya.
Kertas kuning dengan cinabar meliuk liar di atasnya, terbang dan menancap di setiap benda padat. Orang-orang yang masih belum mendapatkan masalah, menggapai dengan cepat kertas-kertas kuning itu, menempelkannya di dada disertai mulut yang mengeluarkan doa.
Sayang sekali, tampaknya kertas kuning hanyalah sekedar kertas. Jimat-jimat itu tidak bekerja sebagaimana harusnya.
__ADS_1
lin qingxuan dan Li na sontak terkejut. Tangan yang memegang pedang beralih tegang. Dipikiran mereka, saat ini yang perlu dilakukan adalah menyerang dan memberi perlindungan. Kertas jimat seharusnya menjadi perlindungan, tapi mengapa malah menjadi 'menyerang' untuk musuh?
"Ini diluar dugaan."
"Tunggu, tunggu, sebenarnya apa yang terjadi?!" Masa bodo dengan nada tinggi, yang dikhawatirkan adalah kepalanya saat ini. Bukan tidak mungkin dia yang selanjutnya terkapar di tanah.
Untungnya Lin qingxuan tidak terlalu gila kesopanan, dia menjawab, "Hantu kelas dua, jumlahnya sudah banyak tapi sepertinya belum keluar sepenuhnya, sangat sulit menerka apa yang bisa kita lakukan."
Meski liukan pedang menabrak setiap tubuh-tubuh pucat, semakin ke sini rasanya semakin banyak jumlah yang tertebas.
Tubuh-tubuh yang mengeluarkan asap semakin banyak. Bola mata tanpa manik mereka berputar liar dan mulut mengeluarkan lolongan. Darah seketika lenyap menyisakan warna pucat.
Tidak! Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik!
Siapa yang setuju akan itu? Sesuatu yang berlebihan efeknya akan relatif buruk, itu adalah sesuatu yang sudah sering kita dengar.Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik!Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik!Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik! Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik! Ini adalah bentuk penekanan. Dan Li na saat ini benar-benar sedang merasakan kata-kata itu.
__ADS_1