
Peluh menetes dari anak-anak rambut, membasahi leher membuat hasrat untuk mandi melonjak pesat. Dalam array, Lin qingxuan bertingkah seperti seorang gadis yang takut prianya kehilangan kepala karena melindunginya. Meski tidak berteriak, penekanan di setiap kata menunjukan itu.
Merasa ini terlalu memeras keringat dan menguras kesabaran, Li na akhirnya memilih jalan itu. Sebenarnya, dia belum yakin dengan pasti. Namun, waktu itu saat dia melihat Lu wei menggunakan jalan itu, dia semakin penasaran untuk mencoba, dan itu memupuk rasa yakin.
Setelah menusuk satu perut, dia melompat dengan kepala hantu sebagai tumpuan. Melesat menuju kelam malam, sosoknya yang memakai pakaian serupa seolah di makan langit malam.
Hantu-hantu yang menyangka bahwa orang yang menghalangi jalan mereka telah kabur, mendekat dengan penuh keyakinan ke arah Tabir.
Mata biru kehijauan di atas sana, memandang tajam mencerminkan seringaian setan. Sudut bibirnya menaik sejenak, memperlihatkan kemurnian senyum.
Bibirnya sedikit terbuka, sesuatu dengan rasa amis dan warna merah segar menetes perlahan. Sudut bibir itu diwarnai cinabar dari darah.
Li na mengangkat telunjuk, rasa iritnya seketika bergejolak. Melihat darahnya menetes dari sebuah lubang sekecil gigitan gigi, membuatnya merasa mubazir. Banyak orang di dunia ini kekurangan darah, tapi dia malah menyia-nyiakan darah untuk ini. Dia menjilatnya tanpa berpikir panjang.
Namun, darahnya sepertinya tidak pelit. Lubang itu terus mengucurkan darah, Li na hanya akan menyedekahkan kali ini.
__ADS_1
Jari telunjuknya yang berdarah menelusuri sisi ramping bilah pedang. Sedikit menekannya, hingga sebuah lubang mencuat dari kulit diikuti darah yang merembes.
Matanya seolah menyala saat jari dengan darah yang masih belum membeku menari di bilah pedang. Menggambar mantra dengan asal, tetapi tetap berhasil.
Kelam malam tidaklah kelam lagi, cahaya keemasan berkilauan dari tulisan mantra itu. Menerangi seolah ingin membakar bumi. Begitu terang sampai rasanya mata Li na sariawan.
Dia memilih menghiraukan itu. Dia menggerakkan pedang dengan asal. Membentuk gelombang yang memerangkap para hantu.
Dan, membuatnya seolah ikan dalam perapian.
Angin malam biasanya akan memadamkan api, tetapi kali ini malah memilih untuk menjadi sekutu. Semakin besar api, semakin kecil teriakan-teriakan.
Suara sepatu menyentuh tanah tidak bisa menjamah telinga. Namun, keindahan proses mendarat itu tidak bisa dilewatkan mata.
Bertopang satu kaki, dia bagai ballerina yang meliuk indah dan anggun. Hanfunya berkibar lengkap dengan tinta panjang miliknya. Di antara nyala api biru, dia terlihat sangat mengagumkan.
__ADS_1
Para rakyat tidak henti-hentinya bergumam kagum. Para pria yang melihat itu sudah mengelap liur beberapa kali.
Di balik tubuh tinggi dan pinggang ramping, tersembunyi Li na yang termangu. Menatap api biru dan asap hitam.
Dia membatin, Ya ampun ini pencemaran udara yang sangat besar yang pernah kulakukan. Apa jika mama melihatnya, dia akan menendangku untuk ikut menjadi asap?
Kesan mengagumkan akan lenyap seandainya dia mengatakan itu.
Li na berbalik dengan senyum di wajah. Berjalan penuh percaya diri, mengulurkan jemari dan membiarkan darah mulai menetes. Berniat menghilangkan tabir, tapi ....
Dia menangkap sebuah belati yang diarahkan tepat ke dada Lin qingxuan.
Orang ini begitu terang-terangan, apakah dia masih anak bawang?
Matanya menyorot belati itu.
__ADS_1