
115
"Bukankah seharusnya ada cadangan? Jangan katakan itu juga hilang."
"Benar! Cadangannya hilang!"
"BANGSAAAATTTTT!"
Seketika angin dan udara tidaklah membuat segar tubuh atau menurunkan suhu tubuh, kini mereka bagai Tsunami! Mengguncang tubuh seolah ingin menghancurkan tubuh sekaligus roh!
Ranting pohon berderak, daun memunculkan gemersik. Debu-debu membutakan mata. Kegelapan semakin menenggelamkan.
Suara tubuh jatuh tersiar bersamaan, tidak ada umpatan sebagai wujud kekesalan. Tergantingkan dengan raut takut, dilengkapi dengan peluh yang membelai wajah.
__ADS_1
Lu wei belum mengakhiri posisi menonton filmnya, dia masih santai bahkan sempat membuat puisi tentang pemandangan ini. Benar-benar sangaaaat menjengkelkan.
Xing'er yang pengelihatannya sejernih kelelawar tak mampu menahan geram. Dia berteriak, "Kau! Keluar! Ingin menjadi penghianatkah?!"
Mengerti untuk siapa teriakan itu dilayangkan, lu wei tentu saja menoleh. "Ehhh, apanya yang menjadi penghianat. Array ini tidak bisa kupecahkan, lihat." Di akhir kalimat ia melakukan pembuktian. Sebuah aliran energi mengaliri pedangnya, membuat pemandangan mengagumkan. Warna biru gelap mengalahkan debu yang berwarna abu, memantulkan kulit wajah yang sehalus keramik. Sayangnya pemandangan mengagumkan itu tidak semengagumkan pemandangan di belakangnya---sekelilingnya.
Lu wei masih menusukkan pedang pada array, belum sadar akan sesuatu. Namun, setelah beberapa kali tusukan yang disisipi lebih banyak kekuatan akhirnya melahirkan retakan. Retak dan hancur. Lu wei hampir bernafas dengan lega, kakinya bahkan sudah siap untuk berlari tapi sesuatu di bawah membuatnya terkejut dan berakhir cegukan.
Berpuluh-puluh tubuh tengkurap membentuk lingkaran,tak membiarkan Lu wei menjamah sejengkal tanah. Naik ke atas, Lu wei menemukan toples yang terbuat dari hantu, dan dia adalah isinya. Lu wei terkepung, bawah, atas, kanan, kiri, semuanya memberinya tubuh pucat. Tubuhnya diperangkap di tabung berbahan dasar hantu! Sebuah inovasi yang menyeramkan!
Masih termenung dan berdungu, tapi sebuah celah menariknya dari kebodohan. Sebuah celah yang ditimbulkan dari beberapa hantu yang terpental membuatnya tersadar. Energi bepusat di setiap jari.
Lu wei melayang beberapa senti, mundur seraya mengibaskan tangan. Tak lupa dia menyerangan pada beban yang menganggu kakinya. Angin membawa serangan bagai kabar menyenangkan, menghancurkan dalam hitungan detik.
__ADS_1
Ayunan tangannya bagaikan kipas bambu yang tenang, tapi sayang itu hanya bagaikan bukan kenyataan.
Salto Lu weu lakukan, suara kaki menonjok tanah tersiar setelah itu. Kini, disisinya bukan lagi wajah pucat melainkan wajah kecut Xing'er. Tak ada waktu untuk saling lempar bisa, sesuatu yang lebih penting menunggu untuk diselesaikan.
Kaki menapaki pedang tanpa oleng, sejurus kemudian dua kubu saling mendekatkan diri. Membuat tabrakan yang tidak terwujudkan akibat serangan dari salah satu pihak.
Serangan membombardir, tubuh yang terpotong acak adalah hasil dari itu. Membuat hujan daging busuk yang membuat lambung loncat. Hantu-hantu lemah itu tidak terlalu mengkhawatirkan.
Beberapa hantu yang menyandang kata 'mengerikan' masih terbang meresahkan. Wujudnya sangat menimbulkan ketakutan.
Cekikikan, tangisan, bahkan lengguhan menjijikan membuat kadar menakutkan semakin meningkat. Ditambah kondisi tubuh yang sama sekali tidak aesthetic.
Ada yang tanpa bola mata, ada yang tak berkulit, ada yang betisnya hampir copot, lidah lebih panjang dari tubuh, dan satu lagi, ini adalah yang paling estetik. Kepala membawa organ-organ dalam tanpa kulit dam daging yang menutupinya.
__ADS_1