
Kekehan masih ada walau Li na sudah mendudukkan diri. Lin qili ini kadang-kadang memang menggemaskan.
"Diam, kau bisa disangka kembaranku karna tertawa malam-malam!"
Bukannya mereda malah melunjak, tuman. "Ahahahah! Ya tidak apa-apa! Aku memang kembaranmu iyakan?!"
"Kembaran apaan yang membuli kembarannya?!"
Meski tawa belum reda, setidaknya volumenya tidak semenjengkelkan tadi. Lin qili berganti serius walau harus menggigit bibir demi menahan tawa. "Berhenti merajuk, baik? Aku ke sini membawa sesuatu."
"Dendeng rusa?" Sekarang, lihatlah hal yang memicu jari tengah untuk diacungkan.
Namun, Lin qili bukanlah seseorang yang mudah erosi, dia memilih terkekeh dan menjawab santai. "Itu akan ada di meja besok, aku membawa hal lain."
Li na mendekatkan kepala sembari menyesap teh untuk membuat mata tetap terbuka. "Katakan."
"Aku akan pergi."
Air seketika melompat dan berakhir membuat becek meja kayu, disebabkan karna hentakan yang li na lakukan. "Aiyaa, kau akan pergi tanpa mengajakku begitu? Aku di sini hampir mati, tapi dihidupkan kembali saat kau di sini, dan kau akan pergi? Jauh? Lama, ya?"
"Maaf, ini urusan yang tidak boleh dicampuri orang sakit."
__ADS_1
"Tidakkah kau melihat aku bahkan bisa kayang lima hari yang lalu?!"
Kekehan pendek mengawali jawaban yang sama pendeknya. "Tetap tidak."
"A-Li jahat, kumenangiiisss membayangkan betapaa kejamnya dirimu pada diriku ...."
Tangan yang memegang dada, disertai eksresi yang menjiwai. Li na, hati-hati kau bisa saja diculik para sutradara.
Lin qili hanya mampu mengangguk walau dirinya ternistakan. Bibirnya kembali memangut pinggiran cangkir.
"Urusan apa memangnya?" Lupakan dirinya yang tadi, tolong.
"Tunggu! Huihui?!" Li na menegakkan tubuh. Lesu dan kantuk terusir dengan instan. Matanya bahkan seolah mencerminkan api.
Lin qili mengangguk. "Benar, ini tidak bisa ditunda lagi."
"Aih, bukankah belum lama? Bahkan rasanya belum sebulan ...." Intonasinya kian memelan saat menyadari sesuatu, li na memilih melanjutkan dalam batin, Benar, bukankah aku menutup mata, bagaimana bisa aku tahu?
"Ditambah besok, sudah dua bulan."
Entah hal mana yang lebih mengagumkan, selisih waktu atau tubuh ini yang sangat sabar tertidur selama itu. Lj na cengo. "B-benarkah? Selama itu?"
__ADS_1
"Ya! Dan itu merepotkan!"
Li na berdecak saat telinganya terusik nada sinis itu lagi. Dia membalas dengan malas, "Sopan sekali, menendang pintu untuk masuk."
"Sopan tidak cukup, aku bahkan bisa lebih sopan." Suara tabrakan dua benda mengiri kata yang mengudara.
Yang waras haruslah mengalah. Mode lelah membuat Li na memilih memutar mata saja.
Terdengar langkah kaki yang kian dekat dan suara Ming mei yang rasanya sudah memakai filter. "Semuanya sudah siap, pagi ini bisa."
"Terimakasih, Jiejie. Duduklah, kau pasti lelah."
Suara air yang mengalir memukuli cangkir bagai obat tidur. Namun, hentakan yang terjadi setelahnya bagai kejutan listrik. Tidak bisakah dia jangan begini? Shena masih lelah untuk erosi.
Ming mei mengeluarkan pertanyaan. "Apa kalian sungguh-sungguh?"
Lin qili mengangguk. "Tentu saja, aku sudah membicarakan ini dengan ibu."
Perbedaan nada dan kesan terlihat dengan kontras. Meski nada Ming mwi sudah memakai filter, tetap saja tidak bisa menutupi kesan jutek miliknya. Lain halnya dengan lin qili yang seolah terlahir dengan berkah dari penyair. Lembut dan menyenangkan.
"Tapi ini terlalu beresiko, apalagi kita belum berpengalaman." Kali ini nada yang digunakan ming mei sedikit disipi rasa khawatir, mungkin.
__ADS_1