Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
39


__ADS_3

Satu kata, tapi memiliki makna yang mendalam. Mengesankan.


"Jadi bagaimana? Aku sudah bersedia menemui kalian tapi aku belum kenyang, apa kalian berniat mentraktirku?"


Decihan memasuki gendang telinga. Orang penting itu terkekeh, selangkah demi selangkah sosoknya semakin jelas di bawah terpaan sinar matahari pagi.


"Siapa orang istimewa ini? Kau bahkan memeliharanya, sifatnya sedikit mirip dengan orang yang sudah mati."


Urat persegi sempat mencuat kala telinga Li na menangkap kata yang membuatnya ingin menonjok si pelontar kata.


Apa tadi? Memelihara? Eh, tapi benar juga sih. Bukankah dia sudah mendedikasikan dirinya sebelumnya? Menjadi anjing yang sungguh sangat setia, baik serta patuh sebelumnya. Bagaimana? Enak tidak ludah milik sendiri, huh?


"Jangan terlalu banyak menyampaikan kata pembuka, aku muak. Langsung keintinya saja."


Ini agak mengejutkan. Lin qili yang tampak seperti tidak memiliki rasa marah yang tinggi, kini berbicara dengan nada mengintimidasi. Amarah menyelimuti dirinya, dan perkataannya.

__ADS_1


"Eh kalau begitu, ayo langsung bertarung saja!"


Ancang-ancang sudah terkemukakan, tapi ming mei buru-buru mencegah. Dia memang sepertinya tengah lelah jiwa dan raganya. Buktinya sedari tadi dia hanya memilih bersilat lidah daripada bertarung secara keseluruhan.


"Tuan Muda Feng, agaknya kamu harus melihat tanah. Untuk memastikan tanah siapa yang kau pijaki." Datar, tapi menggetarkan, memunculkan kesan intimidasi yang kuat. Ditambah lirikan mata ming mei yang terus menerus menyoroti orang itu, tak berpaling seinci pun. Membuat aura-aura perang menguar.


"Apa peduliku?" Smirk kembali terbit


"Kau sudah melanggar perbatasan. Seharusnya anda tahu akan hal yang saya maksud, tak perlu diberi tahu seperti orang kekurangan saraf otak."


Orang penting itu tertawa lagi. Jujur saja, li na sedikit muak, apa dia pikir ini acara komedian?


Tawa semakin surut dipadamkan oleh detik, tapi berubah menjadi kekehan. Orang itu mendekatkan diri, menempatkan wujudnya sekitar sepuluh langkah di depan lawan.


Li na meneguk ludah, tanpa sadar satu kata menerobos mulutnya. "Tampan!"

__ADS_1


"Tentu saja."


Meski lirih, telinga seorang kultivator tidak bisa disamakan dengan telinga orang biasa. Lebih sensitif, bahkan mungkin suara pergerakan kutu dirambut bisa didengar. Ini hanya sekedar dugaan, kawan.


Li na berdecih malas.


Seraya memalingkan tatapan dari li na, orang itu mulai membuka hal inti. "Mengenai mataku buram atau tidak tahu perbatasan, apa aku peduli?"


Getaran semakin kentara. Amarah kedua lin tampaknya sudah tidak sabar untuk dikeluarkan.


Seperti kata pepatah, yang waras haruslah mengalah. Jadi, sebagai satu-satunya orang yang waras di sini, ming mei lah yang masih sudi untuk membalas. "Tanah sudah dibagi seadil-adilnya. Anda seharusnya mencari makan di teritori anda sendiri. Jika kami mendapati anda melakukan ini lagi, jangan salahkan kami jika hilang kesabaran."


Seperti halnya kamuflase bunglon, raut muka orang itu--- ah biar kuperjelas, Tuan muda feng--- secepat cahaya berganti opsi. Suaranya dibuat bergetar. "Aku takuuut!" Tapi kemudian gelak tawa kembali meledak.


"Hah, astaga tak kusangka sambutan dari kerabatku sangat-sangat tidak memuaskan. Aiyo, aku kesini bukan untuk mengacau atau apa. Bukankah, Putra Mahkota kalian yang terhormat itu baru saja bertunangan? Benar, 'kan? Jadi, demi menjaga keeratan kekerabatan, aku berniat berkunjung aku juga membawa oleh-oleh."

__ADS_1


Cih!


__ADS_2