Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
96


__ADS_3

Rasanya jika mulutnya sudah berbusa, dia baru bisa lebih diajak kerjasama. "Bukan yang itu, Bodoh! Semua murid tadi bertingkah seperti dihipnotis sesuatu, kan? Sesuatu itu apel, betul? Nah, yang kupertanyakan kenapa kau tidak terpengaruh?"


Hendikan bahu Lu wei lakukan sebelum mengeluarkan jawaban. "Ya mana ku tahu, aku kan tidak tahu, aku orang bukan tahu."


Sebuah tawa menggelegar keluar dari mulut penuh dusta Lu wei diakibatkan dari pose yang dilakukan Shidi. Posisi kuda-kuda berakhir gerakan singkat tapi apik juga ajakan baku hantam. "Ayo gelud."


Sesuatu membuatnya menelan tawa, mengakibatkan Lu wei tersedak udara. Kepalanya sekarang diapit ketek si Shidi, uhhh jangan ditanya, asem tentu saja. "Hey, lepaskan! Ketekmu bau dosa."


Wahahaahahaha! Bau dosa! f*ck! ahahahahaha!


"Tutup mulutmu!"


"Ada apaaa???!!!" Dasar tuman! Mulutnya orangnya, perilakunya benar-benar tuman! Heh, tuman! Dilarang malah melakukan, dasar aku----uppss


Bola mata Lu wei membesar beberapa persen, berakhir dengan kedipan mata yang lebih cepat. Dia melirih sekaligus bertanya, "Siapa?"


"Pohon."


"Jangan bercanda ahhh." Sembari mengecoh tangannya yang bebas sedari tadi akhirnya mendapat jatah berulah. Sebuah tusukan ia hadiahkan pada pinggang seseorang yang mengapitnya dengan tidak elit ini.

__ADS_1


97


Rasanya jika mulutnya sudah berbusa, dia baru bisa lebih diajak kerjasama. "Bukan yang itu, Bodoh! Semua murid tadi bertingkah seperti dihipnotis sesuatu, kan? Sesuatu itu apel, betul? Nah, yang kupertanyakan kenapa kau tidak terpengaruh?"


Hendikan bahu Lu wei lakukan sebelum mengeluarkan jawaban. "Ya mana ku tahu, aku kan tidak tahu, aku orang bukan tahu."


Sebuah tawa menggelegar keluar dari mulut penuh dusta Lu wei diakibatkan dari pose yang dilakukan Shidi. Posisi kuda-kuda berakhir gerakan singkat tapi apik juga ajakan baku hantam. "Ayo gelud."


Sesuatu membuatnya menelan tawa, mengakibatkan Lu wei tersedak udara. Kepalanya sekarang diapit ketek si Shidi, uhhh jangan ditanya, asem tentu saja. "Hey, lepaskan! Ketekmu bau dosa."


Wahahaahahaha! Bau dosa! f*ck! ahahahahaha!


"Tutup mulutmu!"


"Ada apaaa???!!!" Dasar tuman! Mulutnya orangnya, perilakunya benar-benar tuman! Heh, tuman! Dilarang malah melakukan, dasar aku----uppss


Bola mata Lu wei membesar beberapa persen, berakhir dengan kedipan mata yang lebih cepat. Dia melirih sekaligus bertanya, "Siapa?"


"Pohon."

__ADS_1


"Jangan bercanda ahhh." Sembari mengecoh tangannya yang bebas sedari tadi akhirnya mendapat jatah berulah. Sebuah tusukan ia hadiahkan pada pinggang seseorang yang mengapitnya dengan tidak elit ini.


7


Shidi beberapa kali terjengit, urat nadi kotak imajiner terpasang dipelipisnya. Sungguh, kenapa orang di keteknya ini menggoda sekali untuk dicincang.


"Diam."


Okeh. Entah beberapa kali Lu wei bernafas tapi agaknya banyak, hening itu runtuh bertepatan dengan bersihnya oksigen di daerah sekitar hidungnya. Lu wei hendak bersyukur pada dewa, tapi sebuah kata membuatnya tertunda dan sudah dipastikan tidak jadi.


"Huh, pasangan? Dasar bodoh, aku akan mengutuk takdir jika menakdirkanku mempunyai jodoh seperti dia."


Mendengar pencemaran atas dirinya, tentu saja Lu wei tidak bisa mentutup mata dan telinga. Matanya sedikit menyempit. "Kenapa? Aku mengesankan tahu."


"Mengesankan dalam hal menyebalkan."


Sudah dipastikan Lu wei membatu. Kenapa orang-orang sebegitu beraninya? Kenapa sering sekali melecehkannya? Padahal jika dilihat-lihat mukanya ini bisa terbilang jutek, kata-katanya juga seperti pisau, tapi kenapa itu sama sekali tidak berarti? Oke, tingkat kebadasan seharusnya ditingkatkan untuk mengantisipasi hal yang sama kembali terjadi.


Berhenti beromong kosong. Shidi itu berlutut, tangannya berakhir menggaet salah satu apel.

__ADS_1


"Apa kau melakukan sesuatu tadi?"


__ADS_2