Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
116


__ADS_3

Ohooo! Siapa itu? Bukan, bukan si orang-orangan sawah! Ini adalah sebaliknya, A-Li! Ya, ampun maafkan orang tua ini karna sudah mencampakanmu.


Seseorang yang tak di sangka itu membuat xing'er berusaha sopan dengan membalik badan. "Maksudmu?"


"Itu tergantung kemauan, jika ingin lanjut maka lanjut, jika ingin berakhir maka berakhir."


Sungguh jawaban yang bisa membengkokkan otak---otak memang tidak lurus astaga!--- sangat tidak jelas, seperti janji manis mantan.


Kekehan pendek menggetarkan hati, oknum yang melakukan tentu saja Lu wei. Terpaan sinar bulan bagaikan filter yang membuatnya lebih cantik, angin berkontribusi dengan menggoda rambutnya. Cahaya temaram sedikit membuat tawa Lu wei menakutkan.


"Baiklah! Aku mau!"


Detik berikutnya, sesuatu yang dikhawatirkan terrealisasikan. Array itu pecah, membuat beberapa hantu hampir saja terjatuh karna kurang seimbang. Jika diperlambat, itu akan indah, tapi kenyataannya itu menakutkan.


Lengan mulai digapai oleh telapak tangan dingin dengan kuku yang membuat goresan samar, kaki mulai dibebani, punggung mulai digerayangi. Tak ada waktu untuk mengumpat, menebas tubuh lebih harus dilakukan.

__ADS_1


Namun, jika dicermati semua umpatan yang tertahan itu sudah menjadi nadi. Lu wei terkekeh akan itu, tubuhnya melayang tanpa pedang. Mengamati dengan wajah geli pemandangan di bawah. Netranya memantulkan gerakan acak juga cepat yang berlangsung entah sampai kapan. Angin menggelitiki telinga, dia menyadari sesuatu. Suara benda jatuh tersiar disusul Lu wei yang bergumam, "Dapat."


Kembali fokus, kembali fokus, kesampingkan dulu.


Sesuatu terlukis di udara hampir tidak bisa dilihat netra, sesuatu yang dihasilkan berupa kabut yang menutupi area bawah. Seusai kabut terbitlah terang, untuk menghilangkan semua debu itu hanya ini yang Lu wei lakukan. Semua tubuh hantu yang masih utuh terangkat, detik berikutnya itu lenyap. Kali ini benar-benar lenyap, bukan hanya sesaat.


Awalnya hanya cincangan, sekarang mungkin malah serpihan.


Kilatan biru tua menyala di sekitar serpihan-serpihan itu. Semua mata mendongak dan mereka dihadiahi bedak berbahan dasar sangat langka. Muka-muka itu tertimbun terlalu banyak serpihan mengakibatkan beberapa tersedak dan beberapa bereaksi seolah tenggelam di laut. Yang paling kasihan adalah yang mulutnya terbuka, bisa dipastikan mereka akan mencuci lidah mereka dengan air surgawi.


Lu wei mendarat tanpa emosi, pandangan hanya tertuju pada pakaian. Mengecek tiap inchi hanya untuk menemukan setitik kotoran, dia menghela nafas lega saat tak menjumpai kotoran. Dia juga menepuk-nepuk rambut.


"Terserah kau saja, itu multifungsi." Lambaian tangan dilakukan di susul kaki yang mulai melangkah, berakhir menggaet bahu lin qili. Beromong kosong lagi.


Melupakan suatu hal lagi. Pohon LaknatCinta! Oh, tapi sepertinya tidak apa, dia masih tak berdaya akibat semua lemaknya dicuri.

__ADS_1


Pohon yang awalnya tegak itu juga sedikit terlihat melayu. Agaknya dia tertekan.


"Mereka tidak akan bangkit lagi kan?" tanya salah satu murid seraya mengacungkan pedang kearah tanah.


Lu wei menjawab, "Tidak akan."


"Bagaimana bisa itu dipercaya?"


"Itu bisa dipercaya kalau kau percaya."


Murid tadi berdecak, ingin rasanya dia menjitak. Namun, dia harus tetap sopan. Keheningan datang sejenak dihancurkan oleh suara Xing'er.


"Sekarang apalagi? Apa yang harus dilakukan untuk lolos?"


"Aku pernah berkata apa kuncinya, benar?" Lu wei. mengangkat alis disertai senyum manis. Kakinya melangkah tanpa sedikitpun resah mendekati Pohon LaknatCinta.

__ADS_1


Dia menendang-nendang salah satu akarnya yang menonjol seraya tangan bersidekap dan mulut mengeluarkan kata. "Kalian tidak akan bisa menyangkal lagi."


Tubuh rubuh berakhir merengkuh. Posisi Lu wei saat ini memeluk separuh Pohon Laknat Cinta, dengan posisi jongkok. Sangat manis, begitu juga dengan perlakuannya.


__ADS_2