Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
176


__ADS_3

Disertai sedikit tidak kalem, lin qili menjawab dengan alis bertaut sejenak. "Itu akan mengganggu mere---"


"AIYAA SANGAT BUDIMAN SEKALIII!!!"


Sebenarnya, siapa yang mengajari lin qili  menjadi sebudiman ini? Berterimakasihlah pada murid itu karna sudah memberi otak Li na pencerahan. Aku buruk karna bodoh daritadi. Astaga, bagaimana bisa aku tidak menggunakan itu daritadi?


Tanpa membiarkan detik bertambah, li na terbang melesat dan secepat kilat menggaet hal yang akan membantu.


Daun yang diselimuti embun.


Menaik beberapa kaki, memandang yang di bawah kaki. Menghela nafas sejenak, dan mulai mengangkat hal yang akan membantu itu.


Daun diangkat, sesuatu sebening kristal meluncur turun dan jatuh tepat diujung jari telunjuknya.


Mulut li na terbuka tapi Bai Xing-fu yang menyela tampaknya berfungsi sebagai pembekap ....


"HENTIKAN, A-WEI! MEREKA AKAN TERGANGGU!"


... Yang sementara.


Li na membuka mata ditemani paru-paru yang berelaksasi. Mulutnya sudah selesai berkomat-kamit. Dua hal yang tadinya ditopang telapak tangan sudah bisa mandiri.


Daun dan embun seolah pesawat tanpa sayap. Namun, tetap bisa melayang.

__ADS_1


"JANG---"


"CEPAT DATANG DAN BANTU KAMI, SIALAN!"


Teriakan Li na menjadi dorongan dua hal tadi untuk bergerak. Daun dan embun memisahkan diri dengan memilih jalan berbeda, seolah memunggungi. Satu melesat menyusuri air, dan satunya lagi menabraki dedaunan.


Teriakan lin qili bagaikan suara rajawali di tengah kilau matahari. Jauh tapi jelas.


Setelah beberapa puluh detak jantung, angin besar membawa bising datang.


Orang-orang dari dua arah membawa hal yang berbeda. Satunya membawa daun, ranting ataupun batu di antara anggota tubuhnya. Entah itu rambut, lengan baju atau bahkan mulut.


Sedangkan yang satunya lagi membawa ikan di kepala yang tidak lama singgah kepala, berjatuhan membentuk hujan.


Pekikan terkejut tersiar secepat kilat dan sesingkat kilat juga.


Dari kerumunan, beberapa orang dengan rupa penuh wibawa mencuat dengan raut serius. Melayang di depan kelompoknya, membuka mulut mengeluarkan perintah.


"Bagi beberapa kelompok, yang satu ikut memperbaiki tabir, lainnya, ikut menyerang, yang lainnya lagi beri pertolongan bagi yang sudah terluka!"


"Kalian mendengarnya?!"


Kata "Ya" terdepak seketika. Jubah yang tadinya membentuk barisan dengan warna senada berganti bercampur aduk.

__ADS_1


Terbang bersama tanpa memikirkan itu, ini siapa.


Langit malam diwarna begitu banyak warna.


Cahaya keemasan membentuk garis, mielintasi ruang kosong, memisahkan lagi dan membuat batasan kembali.


Cahaya yang tak kalah terangnya dari emas, menguar dari kertas kuning berhiaskan cinabar. Meliuk membentuk pusaran, menancap, membawa kehancuran.


Kerja sama sudah dilakukan beberapa kali. Api dewa sudah berulang kali mencemari udara.


Akhirnya ....


"SELESAI!"


Entah kenapa, hawa-hawanya sangat indah untuk berkata dengan nada sewot,  yang tidak memiliki kekasih berupa rem. Ayok, gass, gan.


Peluh membanjiri setiap sudut kulit, membasahi seolah memandikan. Tak jarang beberapa keringat itu menambah perih pada kulit yang terbuka.


Di antara asap dan hiruk pikuk ini, li na sedang bersandar di gerobak yang tampaknya diberkati dewa karna tidak hancur dari gangguan hujan badai angin ribut halilintar, dan semua kekacauan ini. Dia mengusap keringat di garis rambutnya, dan meraup wajahnya sejenak. "Gila, aku membunuh berapa tadi?!"


"Shixiong, shixiong! Tidakkah kau melihatnya?! Aku menghabisi lebih dari selusin---ya! Dalam sekali tebas! Kau melihatnya?!"


"Brengsek, kulitku menggelap dibedaki asap hitam."

__ADS_1


__ADS_2