Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
135


__ADS_3

"Ayolah ...." Gemersik daun terlampir setelahnya, membuat Lu wei samakin waspada.


Tunggu, rasa waspada Lu wei menurun karna menyadari suara itu tidaklah terkesan berbahaya. Malah terdengar menggemaskan. Apa itu para bayangan?


Agaknya, iya. Suara itu sedikit tidak jelas, dan dia tahu itu suara bayi.


Namun, tangannya tetap terayun. Dua pedang dengan berbeda aura digerakkan secara pasti, energi biru tua dan putih memberikan kombinasi yang sedikit bagus. Namun, sebagus apapun kombinasinya, tali itu bahkan tidak tergoyahkan.


Lu wei berdecak. Kata hendak mengudara tapi Lin qingxuan lebih dulu menyela, "Tidak bisa."


"Bisakah kau berbicara sedikit bisa dicerna?" Nadanya sinis, tentu saja.


"Talinya tidak bisa terbuka dengan energi Yang. Ini tali hantu, energi yang berseberangan tidak akan bisa menghancurkannya."


"Heh? Benarkah?" Lu wei menebas sekali lagi udara yang berisi tali hampir tak kasat mata itu. Dia mencebik setelah otaknya tidak bulat lagi. Benar. Aduh, bagaimana ini.

__ADS_1


Jangan bilang kau tidak bisa membukanya ....


Mata Lu wei tak memusatkan atensi sejenak, dia melamun. Sebuah kesimpulan ia dapatkan. Tanpa membalik badan, pedang yang ia pinjam tanpa izin sudah ia kembalikan.


Jika pedang itu manusia, dia pasti terlihat sedang salto atau Roll belakang. Sejurus kemudian, suara tabokan menyapa telinga.


Tanpa membuang detik, ujung lancip dilumuri kilap memikat terjulur di samping leher hampir tanpa sekat. Keterkejutan masih belum mengisi wajah Lin Qingxuan.


Lu wei mendengkus, entah kenapa aura yang mengelilinginya sedikit berbeda dari yang tadi. Lin qingxuan hampir saja memiringkan kepalanya.


Ohoo, ini yang kunanti! Entah sudah berapa kali Li na menyaksikan dua orang ini baku hantam, tapi reaksinya tetap saja sama.


Dengungan samar tercipta dari tabrakan dua benda. Bilah pedang membawa rasa dingin yang menusuk kulit, meski tipis dan terlihat elastis bilah ramping itu tidak bisa Lu wei remehkan kemampuannya. Pedangnya sudah tak terhitung berapa kaki bersilaturahmi dengan pedang Lin Qingxuan.


Liukan, tebasan, tusukan, serangan energi, sabetan, lesatan, semuanya meramaikan menit, bergantian dan kadang bersamaan. Kekangan tali membuat kebebasan bergerak terkekang. Lu wei menyeringai, dan menjilat bibirnya. Rasa ini ada hadir lagi.

__ADS_1


Berkelahi dengan Lin qingxuan memiliki rasa tersendiri. Tertantang, kebencian, hingga candu. Yang terakhir sudah pasti karna dorongan kekesalan dan keinginan balas dendam.


Seketika bayangan-bayangan menyakitkan, menyerang dirinya, memenuhi pikiran.


Penolakan, punggung dingin, apatis, air mata, pembullyan.


Lu wei benar-benar ingin membunuh lin qingxuan, menyiksa ratusan atau bahkan reinkarnasinya dengan cara yang lebih menyakitkan. Semua itu tidaklah sebanding dengan air mata kakaknya.


Lu wei terhanyut. Denting pedang mengawali bisikan Lu wei, "Kau ... Aku membencimu."


Tidak ada riak dalam wajah itu, tetapi tekanan pada pedang sedikit mengendur. Tidak peduli akan itu, Lu wei memilih menangkis pedang yang menghalangi pedangnya.


Posisi kembali seimbang, dua orang itu beradu kembali. Yang satu dengan kebencian yang seolah bisa membakar neraka, yang satu masih tidak terbaca.


Ditemani liukan tubuh dan tebasan pedang, Lu wei bersenandung---bukan, tapi mengeluarkan bisa. "Jantungmu begitu menggoda untuk diremas, ususmu ingin kucincang, ginjalmu rasanya akan bagus jika dijadikan keripik! Dengar ini, Lin qingxuan yang terhormat, AKU MEMBENCIMU!"

__ADS_1


__ADS_2