Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
32


__ADS_3

Semua pasang mata tercuri atensinya karna suara nyaring itu. Setelah selesai memunguti pecahan, dan membereskan kembali kekacauan yang terjadi pada meja, gadis hadiah tadi meminta maaf pada teman semejanya. Kini tinggal meminta maaf pada yang lebih tinggi.


Gadis itu berdiri, kemudian berlutut hampir bersujud jika saja Qing Ji tidak mencegahnya. Kata maaf keluar lagi. "Maaf, maafkan hamba. Hamba memang tidak berguna, tolong beri hukuman sebagai pengingat."


Kepalanya masih tertunduk, tapi li na sedikit menangkap emosi lain pada gadis itu. Bukankah ini terlalu ambigu?


"Tidak, itu hanya cangkir teh tidak perlu diperpanjang. Kau bisa kembali makan." Tak lupa, senyuman ia tampilkan. Namun, reaksi dari lawan bicara benar-benar membuat otak qing ji merasa sakit karna terus merasa heran.


Gadis tadi menegang, dia mulai merangkak. Tangan kecil itu dengan gemetar memeluk kaki Qing Ji erat sampai rasanya seolah ingin membangkitkan hasrat menendang milik seseorang. Mulutnya terbuka mengeluarkan kata. "T-tidak anda harus memukul saya! Lukai saya sesuka anda, tuan! Anda memiliki hak sepenuhnya pada saya!"


Biasanya seseorang mengemis belaian, t-tapi ini ... dia malah meminta hukuman. Apa ini definisi dunia terbalik?


Sebenarnya konsepnya bagaimana sih?


"Apa perlu kepertegas lagi? Duduk, dan makan."


Wohhh. Entah apa yang merasukimu, junior tersayang. Agaknya dia kebanyakan minum obat, atau terterangi cahaya ilahi? Entahlah, tapi intinya aura bangsawan yang dikeluarkan dadakan oleh qing ji edikit memunculkan kesan keren dibenak Li na.

__ADS_1


Gadis hadiah membeku, wajahnya menjadi seperti patung seseorang yang tengah terkejut. Matanya berkontraksi melambangkan ada sesuatu.


Nada bicaranya dinetralkan sedemikian rupa. "B-baik, hamba mengerti."


Tetap saja, analisis Li na tidak mudah dilalui. Dia menangkap nada marag. Marah di sini lebih condong ke arah saat permintaanmu tidak terpenuhi. Bukan marah merujuk kebenci.


Kepalanya tidak gatal, tapi rasanya otaknya lah yang gatal. Refleks, Li na menggaruk kepala bagian belakang saat bingung atau frustasi.


Ini lebih sulit daripada membalas gombalan-gombalan para buaya di dunianya.


"Aneh."


Tunggu! Siapa yang bicara tadi?


Oho, rupanya Lin Qingxuan sudah dalam mode on! Rohnya telah pulang! Horeee!


Perlukah kita membuat perayaan?

__ADS_1


Kesampingkan.


Aneh, memang. Bagaimana tidak? Gadis tadi terlalu menunjukan ketidaksenangan miliknya. Terungkap saat dia menggunakan sumpit untuk menusuk lauk seperti sedang menggunakan pedang. Matanya juga memancarkan aura-aura jengkel.


Menjerat otak dan memaksa untuk berpikir, menggarukinya dengan rasa penasaran. Uhh, kejam.


Eh, sepertinya kita terlalu fokus pada sesuatu ini. Ingat? Sudah terhitung satu malam mereka pergi dari istana. Lalu, apakah rasa cemas tidak mengusili benak bibi cantik itu?


"Eh, apakah tidak apa-apa? Kita pergi untuk sekedar cuci mata, tapi ini lebih dari cuci mata. Akankah ibumu baik-baik saja Lin Qili?"


Pupil lin qili menyusut disusul raut terkejut tampil di wajahnya. Bagaimana bisa dia lupa hal ini?


Buru-buru dia mengaktifkan kemampuan telepatinya. Benar saja, begitu banyak laporan mengenai ajakan berbicara dari ibunya.


Tanpa menunda detik, dia bersegera memanggil ulang. Namun, sepertinya sang ibu sedang memiliki kesibukan.


Tak ada pilihan lain selain meninggalkan pesan.

__ADS_1


[Ibu, maaf semalam kami tidak pulang. Diperjalanan kami mendapat sedikit kesibukan. Dan juga, kami mungkin tidak akan pulang beberapa hari, apakah ibu mengijinkan?]


"Ada apa?"


__ADS_2