Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
187


__ADS_3

Dua langkah, satu langkah. Dan Li na berhenti melangkah. Ingin rasanya dia bersembunyi di ketek Lin qili saja. Hal selanjutnya akan benar-benar mencuri mukanya.


Sayang sekali, giok dipinggangnya bergoyang melewati garis imajiner yang menjadi penentu aman atau tidaknya wajahnya.


Seruan Tuan Jin membuat li na harus menebalkan muka.


"Ahh, sudah di sini."


Jika dia memilih mundur, itu akan membuatnya terlihat seperti pecundang.


Jika dia memilih maju, itu artinya dia harus melapisi wajahnya dengan semen.


Jika dia tetap di tempatnya, itu akanĀ  membuatnya seperti orang gila yang berpura-pura menjadi orang-orangan sawah.


Pilihannya tidak ramah, bintang satu.


Terlalu singkat untuk menggunakan otak, pada akhirnya dia tetap memunculkan wajah.


Jin Huang tampak puas sekaligus mengejek, hanya saja dia menyamarkannya. Alasannya? Orang di sampingnya.


Dia tersenyum dan menghempaskan kipas, dan terkikik lirih. Meski hanya matanya yang terlihat, sudah dia yakini dia sangat manis sekarang. "Aiyoo, seharusnya tidak perlu seperti itu, Ayah."

__ADS_1


Tuan jin sepertinya memiliki gangguan jaringan, dia salah tanggap. Wajahnya menorehkan kekesalan. "Bukankah kau yang memintanya?"


Pupil Jin Huang menegang sejenak, kipas teremas makin keras.


Jika tidak beresiko, li na akan tertawa sampai mengotori bajunya karna berguling-guling di tanah. Betapa indahnya interaksi ayah dan anak ini, bhahahahhaha.


Mulutnya sedikit berkedut, dia melirik lin qili yang sepertinya tidak menangkap momen tadi. Tenang, atau malah melamun?


Hal itu membuat mood li na turun lagi.


"Sungguh, aku kagum dengannya. Panggilannya bahkan sampai memecahkan Terompet Keong Emas milik kita, bukan hanya itu, terjadi tsunami kecil tadi. Ayah juga terkena airnya bukan?"


"Paman kecilmu bahkan memerangkap beberapa ikan dimulutnya."


Ingin rasanya li na ikut tertawa dan berbicara ngalor ngidul bersama mereka, hanya saja dia dan mereka bukan satu kubu.


"Dia melakukan itu bukan untuk diri sendiri."


Tuan Jin: " .... "


Jin Huang diselimuti api, hatinya direbus dengan racun, sedangkan ginjalnya disambar nuklir.

__ADS_1


Siapa tadi? Siapa yang berbicara untuk siapa? Bagaimana bisa?!


Dalam kontras, Li na merasa senang sekaligus tidak enak.


Li na merasa senang, karna setidaknya mukanya yang jatuh ditangkap Lin qingxuan. Sedangkan rasa tidak enak miliknya adalah kasihan. Kasihan karna Lin qingxuan harus membuang emasnya hanya untuk orang sepertinya.


"bukan untuk diri sendiri" Sungguh, li na tidak seperti itu.


Tuan jin tetap melanjutkan tawa. "Tentu saja itu benar. Tapi soal dia bisa lolos dari jeratan tagihan karna---"


"Aku yang ak---"


"TIDAK PERLU!"


Urutannya adalah, Tuan Jin dipotong, lin qingxuan memotong, dan li na memotong. Benar-benar kumpulan orang yang sopan.


Tawa canggung ditemani garukkan di tengkuk. "Ahhahaha, tidak, tidak perlu, Yang Mulia. Aku yang menjadi kejaran tagihan, bukan Anda. Saya mampu."


Apakah dia mengatakan saya mampu? Apa yang dia punha selain lidah penjilat? Dia bahkam hidup di dalam tubuh Orang lain. Bagaimana bisa dia begitu percaya diri?


"Ahhahaha, tidak, tidak perlu, Yang Mulia. Aku yang menjadi kejaran tagihan, bukan Anda. Saya mampu."

__ADS_1


Hahahaha, jiwa dengan nama Li Na ini memang benar-benar sesuatu. Dia apa julukan yang pantas untuknya? Apakah dia punya uang? Tidak!


Jika Lu Wei mendengar ini dia akan tertawa selama tujuh hari


__ADS_2