Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
154


__ADS_3

Lin qingxuan berbalik dan Li na rasanya sudah pasrah mendapatkan sesuatu. Sabetan benda tipis tidaklah terlalu bermasalah jika hanya satu, tapi jika banyak itu memunculkan masalah. Apakah Lin qingxuan pernah menjadi duta shampo? Kenapa saat dia berbalik badan, lagaknya seperti model iklan shampo, swushhh rambut itu mengenai wajahku! Untung saja topeng ini menyamarkan rasa sakit sekaligus jengkel milikku.


"Makan lebih baik duduk."


" .... "


Tidak ada gerakan selain duduk.


Semilir angin membuat rasa nyaman hadir. Sesuatu yang manis terdeteksi lidah, sejurus kemudian membasahi kerongkongan, saat tiba dilambung rasanya seperti memasukkan balok es.


Karna Li na orang yang begitu suka berbagi, selagi mulutnya terbuka dia juga menebarkan sesuatu yang bisa tumbuh. Menyentili tanah dengan biji semangka. Kekanak-kanakan, tapi itu menyenangkan.


Sayang sekali itu tidak bertahan lama, tangan yang berniat menggaet semangka terpaksa dibelokkan ke arah pinggang. Rutukan palsu harus ada. "Aduh pinggangku, sepertinya tulang pinggangku tegang."

__ADS_1


Alasan yang sangat-sangat tidak bisa dipercaya. Bai Xiang membersihkan sisa air semangka dengan sapi tangan sutra, belum menegakkan kepala saat menjawab, "Untukmu."


Rejeki ada bukan untuk ditolak, tanpa membuang detik semangka itu lenyap. Sembari mengunyah, Li na berkata, "Yang mulia, apa yang ingin anda lakukan selanjutnya? Hari masih panjang, tapi daftar kegiatan harian sudah selesai .... "


"Terserah."


Sayangnya, terserah bukan salah satu kandidat daftar kegiatan harian ....


Namun, sebuah cahaya mengusir kegelapan di otaknya. Mata Li na seolah sudah dicekoki pemutih baju. "Bagaimana jika bermain?"


Senyum di wajah Li na seolah diberi pengembang, berakhir terlalu besar, membuat itu meledak menjadi kekehan lirih. Tentu saja proses meledaknya ditutupi kepala yang menunduk.


"Tanghulu segar dan manis, siap menandingi kemanisanmu, Nona."

__ADS_1


"Bagaimana ini? Aku ada saingan." Tawa dibalas tawa, dan uang dibalas barang. Keduannya sama-sama diuntungkan. Li na karna makan gratis, penjual tanghulu karna tanghulunya terjual.


Sayang sekali, sepertinya seseorang baru saja tenggelam dalam kolam cuka. Sesuatu menjorok ke pandangan Lin qingxuan, kilatan yang membalut semakin membuatnya terlihat begitu manis dan segar. Sangat menyegarkan saat digigit, dan manis saat dijilat.


Li a menyodorkan tanghulu sembari mengunyah tanghulu. "Satu untukmu, Yang Mulia."


Lin qingxuan menerima dengan raut berkebalikan dari tanghulu.


"Rasanya manis ini cocok dengan selera anda."


Tidak salah, saat kunyahan pertama lidah Lin qingxuandimanjakan rasa itu. Rasa yang begitu dicintainya, tapi dia jarang mencicipinya selain dalam makanan. Dia mengangguk dan mengunyah lagi, kali ini lebih pelan.


Baru beberapa detik dia tidak bisa menahannya lagi. Sudut mata diisi bola mata coklat terang miliknya. Menatap lurus objek yang bisa saja memunculkan diabetes.

__ADS_1


Lentera-lentera merah mulai menggantung dan nyala api memenuhi, menghasilkan cahaya, menciptakan gemerlap yang indah. Pendar oranye semakin pekat begitu juga dengan keramaian. Angin membelai rambut, membuatnya terbang liar tak terkekang, dan itu juga indah. Ditemani itu semua,Lin qingxuan tidak tahu harus apa selain menjaga pandangan.


Sudah-sudah, lain kali Lin qingxuan jangan diberi gula, beri dia madu saja, atau lebih baik cabai? Diberi sajian seperti itu bukannya menikmati dan bersyukur tapi malah memandang seolah sukar. Ingat kata ibunya, "Tidak, bersyukur dan malah melunjak"


__ADS_2