Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
87


__ADS_3

"Jadinya ...  Itu sebabnya guru menyuruh kita menjelajah sendiri, karna jika dia ikut semua masalah tidak akan menghampiri. Jika itu semua tidak ada, bukankah kita hanya akan mampir tanpa punya oleh-oleh apapun?"


"Merdu sekali suara pengarang handal."


Lu wei menatap sedikit sebal pada sosok pelontar kata, si kawan sepersesatannya, Xing'er , tapi sayangnya dia sedang tidak dalam mode satu kaum. "Aku berkata dengan sungguh-sungguh kali ini. Intinya, masalah adalah tiket masuk!"


"Ya, ya, ya, itu menurutmu, masih pemikiranmu, tidak perlu kami anggap valid, 'kan?" Xing'er memutar bola matanya seusai mendapati balasan dari Lu Wei. Sebuah hendikan bahu disertai wajah aneh.


Kekosongan mengisi beberapa detik, setelahnya langkah kaki dengan lirih mengisi, suara ranting kayu patah juga kadang menghiasi. Sampai suatu suara memecahkan seluruh kekosongan ini. Lu wei menyeletuk, "Eh, kenapa tidak bisa lewat?" Tangannya menyusuri setiap sisi yang bisa dijangkau, Lu wei engambil kesimpulan. "Ohh, array."

__ADS_1


Jari telunjuk dan jari tengah sudah dirapatkan, bahkan sudah diacungkan tapi sebuah ledakan kecil membuatnya urung. Lu wei mendapati siapa yang menyabotase acara unjuk diri miliknya. Awalnya dia ingin menerapkan prinsip senioritas, tapi saat melihat siapa yang melakukannya hal tersebut dengan senang diurungkan. "Shidi, selain menggemaskan kamu juga ternyata mengesankan."


Salah satu hadiah dari perkataannya---yang paling mencolok adalah uap yang tersembur dari mulut. Menguap. Siapa? Tentu saja Xing'er Yang lain? Mereka tidak terlalu tahu kalau itu gombalan terselubung. Lain halnya dua orang, si Shidi dan yang satu lagi. Shidi tersebut hanya membalas dengan dengkusan.


Namun, agaknya si Shidi juga satu kaum dengan Lu wei. Seraya berkata, dia menunjukan bakatnya yang mengesankan. "Jangan nodai aku dengan gombalanmu, aku masih kecil."


Astaga, eskpresinya seperti gadis yang akan dipetik pertama kali, Lu Wei kau tidak akan melibas adik kelasmu juga, 'kan?


"Memangnya siapa yang bilang kau sudah besar? Hah? Dasar gumpalan lemak!" Toyoran ia hadiahkan, melahirkan sesuatu yang serupa sebagai balasan. Terus, terus, ayo teruskan saling mengejeknya. Orang tua ini akan menyiapkan alat-alat geludnya, juga konfeti jika salah satu dari kalian menang.

__ADS_1


Err, sepertinya acara geludnya kembali tertunda. Lengkingan suara dengan kejam menusuk telinga. "Kalian semua jangan menjadi siput! Cepat kemari!"


Segera setelah kalimat itu mengudara, derap langkah berubah menjadi lari. Semburan pertanyaan terlontarkan, tumpang tindih sedikit tidak jelas. Lu Wei masih menatap depan dengan mata membulat, berkedip cepat sebagai wujud syok lainnya. Xing'er menyadarkannya lewat guncangan di daerah bahu.


"Dimana adikku?!" Bukan, bukan Xing'er suara ini lebih berat. Tentu saja karna dia laki-laki.


Rasa syok belum terusir sepenuhnya, membuat Lu Wei mengeluarkan jawaban yang tidak meyakinkan. "A-aku tidak tahu."


"Apa maksudmu?!"

__ADS_1


"T-tanyakan saja pada pohon di belakangmu, aku sunguh tidak tahu." Hadiah dari perkataannya adalah geplakan pada punggung. Belum, belum sempat keluhan terpaparkan sebuah sinar menyedot habis seluruh orang rmtua yang berada di sekitar.


Sontak, setelah cahaya itu redup pekikan juga raut dungu terdapat di mana-mana. Karna mereka bingung, ini dimana???


__ADS_2