Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
130


__ADS_3

Kecepatan yang tidak manusiawi! Sangat menjengkelkan! Jika saja Lu wei tidak profesional, dia akan memilih menendang semua brandal kecil itu!


Lihatlah betapa bagusnya posisinya. Rambut seolah disengat listrik, angin seolah ingin melucutinya dan bahkan! Dia hampir tidak bisa berkedip!


Aduh ya ampun! Jika Lu wei jatuh maka ...


Maka, ya. Itu akan epic tentu saja. Bola mata Lu wei melotot saat mendapati objek bersifat keras di depannya, hatinya tidak pernah salah beropini. Brandal kecil itu berhenti, dan dia menabrak pohon berakhir memeluknya.


Lu wei mengerang, dan melirih, "Sepertinya aku salah karna menganggap para brandal kecil sama seperti hantu-hantu yang lainnya. Huh, mereka bahkan lebih menjengkelkan."


Bagaimana tidak menjengkelkan? Jika itu hantu dewasa, jangan harap bisa mengusik Lu wei. Jikapun bisa, jangan harap bisa melewati api dewa miliknya. Lalu ini? Mereka itu bayi! Dia masih memiliki nurani, oke! Mendengar bagaimana mereka bisa terbentuk saja dia sudah bersimpati.


Huh, serahkan saja semua kesalahan dan kekesalan ini pada para kuda jantan dan bunga-bunga! Mereka hanya tahu membuat tanpa mau mengurus! Menguras emosi, sungguh.


Sudahlah.


Bintang-bintang dan burung imajiner mengitari kepala Lu wei. Rasa pusing belum sepenuhnya terusir, tapi dia harus profesional lagi. Dia harus tetap memeluk pohon karna jika tidak dia bisa jatuh lagi.

__ADS_1


Bayangannya hampir tidak terlihat, dikarenakan para bayangan yang menumpuk menghalanginya. Mungkin jika bukan bayangan, mereka sedang berbaris membentuk formasi.


Satu bayangan mencuat dari balik semak-semak. Berjalan mendekat hingga tepat berada di samping bayangan Lu wei.


Untuk sejenak waktu seolah melambat. Angin membawa debu dan menghancurkan keringat. Bayangan itu seakan menatap bayangan Lu wei. dengan intens, kepalanya miring beberapa derajat. Jika saja dia berwujud, Lu wei pasti sudah memainkan pipinya.


Tangan terangkat lambat, mulut bergumam tak pasti dan itu semua dilakukan tanpa disadari diri. "Anak yang ... "


Bayangan tangannya sudah berada hampir tak berjarak dengan kepala brandal kecil itu. Namun, bayangan itu beringsut mundur. Terhenyak dan lenyap.


Lu wei juga terhenyak, dia menurunkan tangan yang masih menggantung di udara. " ... Tidak diinginkan."


Lu wei menggeleng dan berakhir untuk fokus kembali. Dia mengalihkan pandangan dari telapak tangan menuju para bayangan.


Li na berkomentar, Kau kenapa?


Satu kepala bayangan menyembul dari balik dahan pohon. Lu wei ingin tertawa melihat itu. Dan dia benar-benar tertawa!

__ADS_1


Bodoh!


Hayoo, kamu ketahuan!


Meski tawa terasa samar, tapi angin menyampaikan dengan baik! Para bayangan itu sontak menjadikannya atensi utama!


Lu wei meneguk saliva susah payah. Dia ingin turun tapi rencananya bisa saja hancur!


Detik demi detik bayangan-bayangan itu semakin mengikis jarak. Setelah pertimbangan beberapa kali dia akhirnya memilih meloncat turun dan lari.


Aku bodoh karna tidak lari dari tadi!


Ketahuilah Lu wei, kau memang berotak telur!


Hey, berlari apanya? Tidakkah kau sadar jika tubuhmu bahkan tidak bergeser sedikitpun? Oh, benar, matamu tertutup. Astaga, baka.


Astaga apa lagi ini?

__ADS_1


Anak kecil yang tadi hendak ia sentuh sekarang tengah mendekap lengan bayangan Lu wei.


__ADS_2