Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
106


__ADS_3

Perhiasan itu sepertinya mudah dihancurkan dengan injakan, tapi itu hanya kelihatannya bukan kenyataanya. Tubuh murid itu dibalikkan. Posisi kepala kini di bawah. Lanjut digerakkan, atau lebih tepatnya dikocok. Sangat cepat seolah Perhiasan itu ingin mengeluarkan semua organ yang menempel di tubuh inangnya.


Desisan ngeri, telapak tangan yang menutup mata, hingga melotot membuat Lu wei semakin tidak bisa mengendalikan diri.


Lu wei berteriak, "Apa maksudnya ini?! Kau bilang hanya menunjukan hasil pengujian takdir?" Lu wei meludah, "omong kosong yang hakiki! Hentikan atau kau dan bawahanmu semuanya kubantai?"


Pedangnya teracung, menunjuk pohon yang berjarak puluhan meter didepannya, tapi dia menyadari sesuatu yang lain dari ini. Ujung pedang yang seharusnya menabrak udara tanpa masalah, kini mendapati penghalang. Pedangnya seolah menusuk pagar besi. Ada Array. Hal tersebut membuat Lu wei berdecih, dan menyayangkan waktunya yang sudah lalu bersama pohon laknat itu.


Pohon itu menjawab tanpa emosi di dalamnya. "Kau tidak akan bisa. Aku tidak peduli apa pandanganmu terhadap ini, aku hanya bertugas menunjukan kejujuran."


Sedetik setelah perkataan itu lengkap, penderitaan si murid yang terombang ambing tampaknya telah usai.


Namun, berganti ke hal lain. Tubuhnya di banting dengan sangat keras, dia bisa merasakan ada sesuatu yang manis mulai naik ke ketenggorokan. Dia muntah darah beberapa kali.

__ADS_1


"Hasil pengujian menunjukan, rasa tulus kurang banyak. Anda melirik karna fisik."


Sontak, rasa simpati yang memenuhi beberapa wajah kini menguap pergi entah kemana. Tergantikan ucapan berperan sebagai bisa.


"Turut bersyukur akan hilangnya akhlak."


"Kukira kau tak pandang apa-apa ternyata buaya." Nice quotes! Hey, dia terkesan seperti sudah banyak mengalami.


"Fisik, fisik, jadikan saja ikan kekasihmu. Dia banyak fisiknya!" Makhuk hidup ini lelah sungguh.


"Aku perlu menujukan anjingku yang cantik, barangkali dia berminat."


Wuihhh, cabai baru saja memasuki telingaku, aduh jadi lapar. Li na antara kagum juga ngeri mendapati semua wujud emosi meski bukan dia tujuannya.

__ADS_1


Lain halnya dengan Lu wei dia sedang menyesali beberapa kata yang keluar yang menunjukan pembelaan untuk si murid tadi. Dia membatin, Lu wei bodoh, kau membela keranjang yang bermata. Huh, mulut ini sudah tidak suci karna membelanya.


Ada yang punya kacaaa??? Makhluk hidup ini butuh! Cepat berikan, tapi jangan menagih ongkir!


Bagaimana bisa? Bukankah dia sama? Berapa jumlah mantannya ditambah pacarnya ditambah gebetannya ditambah incarannya ditambah ...  ditambah apalagi lah terserah! Orang tua ini terlanjur lelah.


Bukankah dia juga buaya?! Tapi kenapa dia seolah tidak?! Hah??? Astaga jika seseorang mendengar curahan batinnya dia mungkin akan erosi.


Baiklah demi meredakan api amarah, mari berpositif thinking. Mungkin dia memang buaya betina, tapi buaya betina yang putih bukan hitam. Lagipula, dia melakukan pekerjaan sebagai buaya betina juga bukan karna iseng-iseng melainkan karna desakan kebutuhan. Juga, jika dipikir dia ini bermanfaat loh.


Dia membasmi para buaya dengan pekerjaannya itu. Membantu secara tidak langsung dan mendapat uang, betapa nikmatnya.


Baiklah suatu julukan sudah pasti makhluk hidup ini berikan pada Lu wei---dan Li na. Tukang Ghosting.

__ADS_1


Li na menanggapi cuitan hati Lu wei Rupanya dia satu kubu dengan Lu wei Ya, kau memang bodoh. Keranjang bermata seperti dia memang memunculkan penyesalan hanya dengan mengenalnya.


__ADS_2