Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
60


__ADS_3

58


Waktu itu dia sempat kehilangan rasa sabar sehingga mengakibatkan keributan terjadi. Hal yang membuatnya sedikit kecewa adalah, lagi-lagi adiknya yang susah. Karna pada akhirnya, Lu wei lah yang berhasil membungkam mulut-mulut miring itu dengan 'pisau lunak' miliknya.


Lihatlah, betapa indahnya mahakarya yang dihasilkan 'pisau lunak' ini. "Jiejie, ada banyak laki-laki di dunia ini. Kenapa tidak memilih selain orang-orangan sawah itu?" Kurva bibirnya naik satu, membentuk lengkungan seperti busur jika dilihat dari samping. Panahnya? Tentu saja kata-katanya.


Tidak meleset! Gerombolan itu tersentak, juga terhenyak. Mereka membalik badan dan mulai mengeluarkan lengkingan yang menyakitkan indra pendengaran.


"Lu wei Kau benar-benar tidak tahu sopan santun! Berani-beraninya kau menghina pangeran pertama dengan menyebutnya orang-orangan sawah!!!"


"Dia buta sehingga mengatakan seperti itu!"


"Ketampanan yang memiringkan otak para gadis kau bilang orang-orangan sawah?! Dasar gila!"


Sudah kubilang, dia tidak akan menanggapi gonggongan itu. Menganggap semburan gonggongan itu hanya desauan angin saja, Lu wei memilih pergi masih dengan senyum juga mata yang hanya berfokus pada kakaknya.

__ADS_1


Hal itu tentu saja membuat kadar sebal melejit dalam hati para 'penggemar sejati orang es' itu.


Kali ini metode yang kumpulan itu gunakan setidaknya sedikit berkelas. Mereka tertawa, salah satu berkata sengaja membesarkan volume untuk menarik perhatian. "Kenapa kau tidak membalasnya? Takut, ya?"


Derajatnya terlalu tinggi---astaga sombong sekali MC satu ini---bukan balikkan badan yang ia berikan melainkan hanya tolehan kepala juga jawaban yang berbisa. "Bukan begitu, aku hanya tidak mengerti bahasa anjing."


Pergantian warna itu begitu sedap dipandang. Merah, putih, terus seperti itu sampai salah satu berkata dengan gelagapan. "Kau melanggar peraturan! Nomor 127, semua murid khususnya perempuan dilarang berbicara kasar! Lihatlah, betapa murah hatinya para guru. Menempatkan seseorang seperti dia dikelas Giok!"


"Kritikan, mengkritik tapi melakukan."


Oranh tua ini sebenarnya bosan hanya menggunakan kata itu. Biar ada variasi, ada baiknya diganti. Victory!


Hanya metafora saja para pemirsa. Hening merajai beberapa detik. Sampai salah satu sergahan memecahnya, tapi belum sempat lengkap satu siluet memasuki area pertarungan.


"Kam---!"

__ADS_1


"Hormat kami kepada pangeran pertama."


Bagaikan langit dan bumi ... Sudah tentu berbeda, ini adalah ciri-ciri penjilat yang setia. Hanya menjilat pada satu orang. Ketiga anak perempuan itu sontak merubah wajahnya dari cacing kermi kepanasan menjadi kelinci yang menggemaskan.


Cairan lambung Lu wei bergejolak, menyiksa jika tidak dikeluarkan. Baiklah, sabar, sabar, orang sabar jodohnya tampan. Satu decihan tetap tak bisa tertahan.


Awalnya muak, tapi saat matanya menangkap raut getir di wajah sang kakakk, rasa muak tergantikan dengan kebencian yang menyeruak.


Gengaman tangan mengerat, sejurus kemudian berganti menyeret.


"Jiejie, ayo kita pergi. Aku alergi wajah datar."


Ada riak yang mengguncang ketenangan di netra lin qingxuan. Lu wei sedikit puas. Berani membuat kakaknya menangis lagi, jangan harap bisa melihat matahari.


Tahu dari mana dia? Dari hari ini.

__ADS_1


Untuk memuluskan rencana, pihak istana mengusulkan sesuatu yang bisa menimbulkan rasa dibenak para mempelai. Setiap menjelang akhir tahun keduannya dipaksa untuk membuat interaksi. Entah apa itu terserah, yang penting tidak sampai melanggar batas.


Batas bagi lu wei sendiri ada banyak, salah satunya membuat sang kakak menangis, itu tidak bisa ditolerir.


__ADS_2