
Lin qili meringis dan menjawab didahului kekehan manis. "Belum dicoba, bagaimana bisa tahu hasilnya."
"Permisi-permisi, seseorang ini tidak ingin menjadi nyamuk. Ajak aku bicara juga, ayolah." Jangan salahkan li na! Salahkan mulut mereka yang ambigu da rasa dungu!
"Sayang sekali, ini hanya sampai segini."
Laser dibalas laser, ambil daging mentah dan lemparkan diantara tatapan itu. Bukan hanya matang, itu akan gosong.
Lin qili menyela dengan menepukkan telapak tangannya. Dia memilih menunjukan sesuatu yang dibawa olehnya yang lain. "Ahhh, Aku hampir lupa ...."
Setelah satu tegukan dia akhirnya melanjutkan, "Kau akan punya pekerjaan beberapa hari kedepan."
Mata li na seketika menyala. "Benarkah?! Apa itu?"
"Jawabannya ada di pagi hari."
Jika kau bertanya apa ada kata bingung, kagum, dan keluhan pada hari ini, tentu saja ada.
__ADS_1
Lin qili benar-benar tepat waktu dan sangat disiplin. Tepat jam lima pagi, dia memberi tahu li na tentang pekerjaannya.
Sungguh, lu na kagum dengan kepribadiannya. Sangat niat. Tidakkah dia sadar dia punya wewenang menyuruh seseorang untuk menyampaikannya?
Lin qili memberinya tugas yang ... susah-susah gampang sebenarnya.
Merawat orang sakit.
Susahnya adalah, orang itu sakit apa? Sakit fisik? Sakit jiwa? Atau sakit hati? Jika orang itu sakit hati, li na adalah dokter yang sangat-sangat cocok untuk mengobati hal-hal seperti itu.
Namun, jika itu sakit fisik atau jiwa yang ada li na malah memiliki hal yang sama. Sudahlah, memangnya li na ini tidak sakit jiwa? Bukankah otaknya tidak simetris?
"Oh benarkah? Bagus! Taruh di sana." Seusai menujuk salah satu tempat, tangannya tidak lagi menguleni adonan mie, melainkan mengusap peluh di lehernya. Tentu saja yang digunakan adalah bagian tangan yang tertutupi pakaian.
Meski terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya li na sudah mengeluh beberapa kali. Orang-orang ini, ahhh, aih, andai saja ada mie instan, aku tidak akan mengeluarkan peluh ataupun mengeluh. Lihatlah, aku seperti badut sekarang.
Dikarenakan belun adanya kompor listrik, ataupun mie instan, dirinya harus memasak sesuatu dengan tidak instan.
__ADS_1
Ha, jika dia demam ini adalah obat terbaik.
Lu na menepuk tangan untuk menyingkirkan sisa tepung atau noda lainnya. Meringis jijik saat mendapati semuanya kotor, rambut, baju, badan, uh. Oh, jangan lupakan wajah yang tertutupi topeng ini! Peluh terperangkap, udara hanya sedikit yang terasa. Membuat risih tercipta.
"Bibi, aku ingin mandi dulu. Aku rasa kau tidak perlu kuberitahu langkah selanjutnya." Dagu mengarahkan pada sebuah panci.
Pelayan itu mengangguk dan mengiyakan.
Kerah rendah berbentuk bersegi, Hanfu biru tua, dihiasi pernak-pernik berupa jepit giok yang mengantung diantara tinta hitam. Tidak terlalu istimewa, tapi kenapa rasanya itu mencuri semua mata?
Apa ada yang salah? Apa karna topeng? Apa karna makanannya? Atau karna aura kecantikannya? Oke, hentikan.
Rasa bingung hanya mampir sekelebat, dikarenakan ditendang rasa acuh.
Tangan yang membawa nampan sedikit terbebani dan hampir saja membuat keluhan unjuk diri. Bukan karna beratnya, melainkan karna jalannya.
Ini seperti ujian yang disiarkan saat akan melakukan ujian, bukan s
__ADS_1
Di hari sebelumnya. Susah, menyushakan, menakutkan, apalagi kata-kata yang cocok? Baiklah, ulangi saja, Susah, menyushakan, menakutkan,Susah, menyushakan, menakutkan, Susah, menyushakan, menakutkan. Ahh, terlalu menyebalkan, yaa