
62
Satu tetes cairan bening membasahi pipi, kemudian menjajahi tangan halus di bawahnya.
Tidak tahu apakah rasa hangat dari tubuhnya bisa sedikit membakar rasa dingin yang menginvasi kakaknya, intinya dia hanya berharap itu bisa. Deru nafas memberat. "Jiejie ... M-maaf."
Sebuah elusan pada bahu sama sekali tidak membantu. Dan sang empu yang melakukan itu yakin itu tidak membantu. Lin qili mendaratkan bibirnya di dekat telinga Lu wei. Membisikkan beberapa kata.
Hanya saja, itu sama seperti hal sebelumnya. Tidak membantu, Lu wei tahu. Tahu akan apa yang terjadi jika dia terus terjebak dalam emosi ini.
Li naa terheran-heran. Meningkat apanya? Kenapa kata-kata itu begitu menyebalkan? Sudah lama aku terjebak di sini tapi teka-teki ini belum terurai! Apakah aku yang kelewat tidak peka atau bagaimana?! Bukan, bukan itu! Wajar saja aku bingung, dalam buku Lu wei bukanlah pemeran yang banyak dijabarkan. Hanya ditampilkan sebagai pemantik emosi para pembaca karna pisau lunak miliknya. Tidak pernah ada bagian yang secara spesifik menelaah dirinya, kecuali tentang kemampuan menonjolnya itu.
'Hentikan, itu bisa meningkat.'
Meningkatkan kadar frustasi maksudmu?! Ah, sudahlah, kawan. Li na lelah lahir dan batin.
__ADS_1
Kemelut orang-orang itu terbuyarkan akibat celetukan.
"Bisakah ada yang memberitahu apa penyebabnya? Tolong jujur, agar aku bisa lebih maksimal dalam mengobati nona ini."
Tenggorokan lin qili dan Xing'er tercekik rasa bingung. Ingin rasanya memuluskan tenggorkan hanya saja suasana tidak memungkinkan.
Terbata-bata, itu hal yang terbaik yang bisa dilakukan Xing'er. "I-itu ... Itu .... "
"Tercemar energi gelap."
Sontak, semua mata tertuju pada si penyabotase jawaban.
"Ahh, ya ya ya! Tercemar energi gelap! Ini karna kecerobohan kami! Kami begitu penasaran dengan gelembung api di perbatasan. Itu salah kami."
Hempasan nafas kasar yang tertahan, akhirnya terlontar. Tabib itu tampak bingung tapi emosi marah sedikit tertoreh dalam nada ucapannya. "Anak muda memang sulit diatur, jika sudah begini baru mengerti dan mulai mematuhi. Benar, bukan? Apakah mata kalian ditutupi rasa malas? Bukankah di papan pengumuman sudah tertera peringatan untuk menjauh dari perbatasan atau jangan dekat-dekat dengan laut hitam juga sumber air?"
__ADS_1
"Maaf."
"Nona ini ...."
Mendapati nada tanya juga gelagat bingung, Lu wei menjawab seperlunya. "Lu wei ." Tubuhnya mulai menegak, hendak memberi hormat.
Namun, sebuah tangan dengan kasar menghempas tubuh setengah berdiri itu. Suara objek jatuh disusul ranjang yang berbunyi cukup keras membuat hati seseorang mengeras.
Tidak ada tangapan? Tentu saja. Lu wei tidak menyisihkan sedebu saja tempat dalam otaknya untuk menyimpan tindakan itu. Apatis, karna ini biasa.
Suara beberapa langkah kaki bersamaan dengan suara wanita paruh baya mengisi beberapa telinga.
"Shi'er! Apa yang terjadi padanya?! Kenapa bisa?!"
Meski tidak menangkap secara langsung wajah itu, nada suara lengkap dengan deru nafas berat itu sudah cukup membuat Lu wei mengerti. Dan, yeah. Itu terjadi.
__ADS_1
Kerah Hanfu yang tadinya terpajang apik ditarik dengan tidak aesthetic. Bau mulut---bukan bermaksud lain pemirsa, ini penggambaran yang jujur--- beserta teriakan memekakkan telinganya.
"Kau! Pasti kau! Dasar anak sialan! Apa yang kau perbuat hah?!"