Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
155


__ADS_3

Li na tersadar ada sesuatu yang menyorotkan pendarnya pada dirinya. Menoleh dengan pipi menggembung menampung tanghulu dan bertanya, "Apa ada yang salah, Yang Mulia?"


Mendapati kepala Lin qingxuan yang berpaling dengan tegas membuat Li na sedikit was-was. Takut-takut rambut-rambut itu menciumnya lagi.


Diselimuti es dan secercah warna merah ditelinganya, Lin qingxuan menjawab, "Tidak ada."


"Hanya .... "


"Hanya?"


Setelah meneguk ludah, barulah Lin qingxuan melemparkan jawaban. "Hanya saja, punyamu sepertinya lebih enak."


"Ahh?? Punyaku?" Li na menunduk untuk melihat kepunyaanya itu. Tersenyum manis merasa ini adalah keberuntungan. Dia dengan bersemangat menyodorkan. "Ini! Yang mulia, ambil saja, saya tanpa paksaan!."


Pada kenyataannya, Li na lah yang mengambil. Tanghulu yang tadinya sudah bersisa setengah jumlah sudah berganti tuan. Li na menukarkan punyanya dengan punya Bai Xiang.


Alasan senyum manis itu hadir adalah, dia mendapatkan lebih banyak rasa manis. Tanghulu milik li belum termakan lebih dari seperempat. "Rasanya sama saja, tapi jika itu yang anda mau maka itu yang seharusnya ada."


Semuanya berjalan dengan benar, tapi sepertinya ada yang tidak benar di sini. Bukan, bukan karna Lin qin yang bertambah baik melesatkan rambutnya.

__ADS_1


Melainkan sesuatu.


Di mana semua tawar menawar itu? Di mana ******* kekecewaan karna salah menebak teka-teki atau kalah dalam undian? Di mana suara tangisan anak yang dihasilkan dari permintaannya yang diacuhkan sang ibu? Di mana teriakan keluhan dan perkelahian kecil tentang "Kenapa kau menjual sebegitu mahalnya? Kau ingin memeras ya?"


Kemana?


Lenyap begitu saja karna kesadaran dan kelapangan hati?


Kemana?


"Suasananya sangat baik."


Lu na celingak celinguk. Depan, diisi keramaian yang terasa sepi, belakang juga.


Samping kanan, rasanya terlalu indah dan menghanyutkan. Lonceng yang menggantung disebuah toko berdentang, angin yang menjadi dalang. Lampion berbentuk bunga peoni dibuat kecil-kecil dan digantungkan melilit pilar toko itu. Namun, ada yang salah.


Sejak kapan nyala api berwarna ungu?


Api Untuk

__ADS_1


Tepukan pada bahu membuat Li na terhenyak sampai hampir memuntahkan tanghulu. Hampir saja ia mengumpat jika orang yang membuatnya terhenyak tidak lebih dulu menyerobot bicara.


"Anak muda, badai akan datang, apa kalian punya payung?"


Strategi marketing yang bagus. Li na tersenyum dan menjawab, "Tidak ada, tapi kami bisa segera pergi untuk menghindari badai. Terimakasih, Kakek."


"Haha, tidak apa-apa, sayang sekali, aku tidak bisa meminjam." Bersamaan dengan itu, dia membuka payungnya yang sudah bobrok dan tertawa sembari melangkah menjauh.


"Ohh, kupikir penjual payung ... Astaga---"


Dia menelan sisa tanghulu lebih awal dari biasanya, hampir tersedak saat mendapati sesuatu yang lain. "Hey, betapa mulianya orang-orang ini."


Kakek tua itu berjalan sembarangan. Baik payung maupun dirinya sendiri, saat itu bergerak maju sesuatu ikut terseret dan berakhir membuatnya ambruk.


Adalah biasa jika orang-orang yang ditabrak setidaknya melepehkan ludah atau mengumpat, t-tapi ini ....


Mereka berdiri dengan wajah biasa, dan bahkan meminta maaf pada kakek tua itu! Betapa mulianya!


"Sangat baik." Tanghulu sudah habis, semua kemanisan rasanya mencekik sekarang. Ludah sukar tertelan.

__ADS_1


__ADS_2