
Angin malam yang mendinginkan tulang ditembus dengan cepat dan bersemangat. Lu wei tidak nyaman jika memegang seseorang dengan posisi seperti ini, alhasil dia menggantinya. Pedang yang ditunggangi dua makhluk itu bergetar, menandakan ada sesuatu yang di tahan. Sebuah kekehan? Yap. Lu wei berkata bermaksud menggoda. "Bagaimana, apa itu menakjubkan?!"
Shidi itu meludah, mukanya sudah dipastikan dijajahi semu merah. Dia berteriak tepat di depan kuping Lu wei. "Menakjubkan pantatmu! Bodoh! Lepaskan aku! Ini memalukan!"
Ini ... Lu wei menurutku bridal style lebih bagus. Ha, berharap pose hayalan kalian diwujudkan dalam pemandangan di depan--- tidak, atas itu? Tidak, posisinya lebih Aesthetic tentu saja.
Satu tangan Lu wei memerangkap kedua paha belakang si Shidi, menyampirkan tubuh gembul itu dengan santai di bahu seperti menyampirkan debu.
Mengantisipasi kejadian isi lambung keluar membuat Shidi itu melingkarkan tangannya di leher Lu wei, sedang kepala berada di sisi kanan kepala lu wei. Posisinya seperti ular yang sering ia lihat bergelayut pada pohon di sekitar halaman belakang rumahnya.
Teriakan bagaikan lengkingan suara keledai, sungguh menyiksa indra pendengaran, tapi Lu wei hanya membalas dengan tertawaan. Awas, jangan sampai karna tawamu membuatmu me---
__ADS_1
"Aku tertawa sampai ingin membantingmu, Shidi." Heh! Baru saja ingin kuberi wangsit! Jangan sampai, dasar meresahkan!
"Banting saja! Perlu kau ketahui aku tahan banting!"
Lu wei mengeluarkan smirk, pandangannya menyempit. Tatapan mata yang awalnya beraura friendly, kini berubah sedikit mengerikan. Bukan mengerikan seperti akan membunuh, tapi lebih kejahil. Tentu saja itu membuat batin si Shidi terguncang kembali.
"Benarkah?"
Sesenggukan membuat Lu wei tersadar. Sungguh Lu weu hanya berniat bermain tidak sampai membuatnya menangis Lu wei melakukan tindakan refleks. Apa itu? Tentu saja sesuatu yang memalukan bagi si Shidi.
Menepuk-nepuk jalan keluar kotoran! Astaga, sopan sekali dipikir Shidi itu bayi?
__ADS_1
Si Shidi tidak kuat menjawab sehingga hanya mengeraskan tangisan, mengakibatkan Lu wei tersadarkan, lagi. Tangan Lu Weiyang awalnya berada di atas paha belakang--- If you know what i mean, orang tua ini ingin sopan makanya menggunakan kata-kata lain--- kini kembali ke posisi semula. Seusai itu Lu Wei ingin menggaruk tengkuk tapi tidak bisa, jadilah hanya kekehan yang dilaksanakan. "Maaf, maaf, hehe ... Jangan menangis, baik? Atau aku akan benar-benar membanti---"
Kicep. Langsung kicep, memang anak baik. Lu wei tentu saja memberikan pujian bernada ledekan. "Anak pintar!"
"Berisik!"
"Baiklah, sekarang saatnya menjelajah ... yang sesungguhnya." Hempasan nafas terhempas berbarengan dengan badan yang sudah berganti arah.
"Sesungguhnya pantatmu, jadi yang daritadi dilalui itu apa jika bukan menjelajah?"
Lu wei menghela nafas. Derap langkah berhenti, disusul terlontarnya jawaban. "Teman, jangan memperjelas statusmu. Banyak-banyak lah membaca. Ingat kataku yang tadi? 'Bukan tempat biasa, butuh banyak usaha. Jika ingin mengetahui dan mengerti isi, ada biaya yang menjadi kunci'. Mengerti? Biaya ada banyak bentuk, salah satunya adalah ini. Masalah, masalahlah biayanya. Anggap saja ini adalah tempat dimana kau harus mempunyai sesuatu sebagai penanda kau pantas ada di sini dan pantas untuk menjelajahi. Apa tempat ini? Tempat dengan segudang masalah, 'kkan"
__ADS_1