Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
93


__ADS_3

Belum, belum sempat keluhan terpaparkan sebuah sinar menyedot habis seluruh makhluk hidup yang berada di sekitar.


Sontak, setelah cahaya itu redup pekikan juga raut dungu terdapat di mana-mana. Karna mereka bingung, ini dimana???


Para murid yang menggendong temannya---korban hakim harta--- lebih menyedihkan lagi, pasalnya kaki mereka dituntut untuk lebih kuat dari biasanya. Mereka masih punya rasa kepritemanan, oke?!


Awalnya sebuah pekikan, kini bertransformasi menjadi umpatan. Kenapa? Coba suruh temanmu menjatuhkan sesuatu ke kepalamu. Ayo coba, biar kamu tahu dan kamu berkemungkinan melakukan hal serupa.


Apel? Mataku bermasalah atau bagaimana? Pohon itu bukan pohon apel. T-tapi ini ... Li na tidak punya waktu untuk menggerutu, rasa bingung menerornya. Ini, konsepnya bagaimana?


Belum sempat bingung itu reda, pemandangan yang ada malah membuat itu melejit, tambah membuat pelipis ingin dipijit. Li na berkomentar, Apel, hanyalah apel tapi kenapa mereka seperti sedang menangkap sesuatu yang sangat berharga? Lin qingxuan juga lin qili, aku heran dalam kondisi seperti ini mereka masih saja elegan. Bagaimana bisa?! Apa ini karma tinggal dikerajaan dipenuhi aturan itu? Astaga malang sekali. Aduh,jin Huang lebih parah, astaga ada rumput dimulutmu!

__ADS_1


"Hey, kalian gila, ya?" Tampang watados itu tidak menerima balasan apa-apa. Semuanya sibuk menggerayangi tanah sembari tangan menjamah tak tentu arah. Hal yang membuat Lu weilebih heran lagi adalah, Xing'er rupanya juga terpengaruh.


Gumaman beberapa nama terucapkan terus menerus, beberapa agak familiar. Mungkin.


Lu wei yang masih belum tahu apa-apa teralihkan atensinya saat melihat apel-apel yang berserakan tak bertuan. Jiwa iritnya bergejolak, membuat sebuah kantong kecil terlahirkan. Seraya memunguti semua apel-apel itu dia bergumam. "Sebuah pemborosan yang hakiki."


Namun, hal tak terduga tiba-tiba menghampirinya. Semua cicak dadakan itu sontak menegakkan badan. Menyerbu Lu wei dengan mata yang kosong.


Bisa apa lagi selain memberikannya? Dia tahu, dia tidak pelit kok. "Aiyo, ini! Makan hasil jerih payahku!" Sebuah apel mengahampiri masing-masing tubuh. Lu weilanjut berkecoh, "Kalian ini ada apa? Kenapa tiba-t---"


Lu wei seperti seorang pendosa yang hendak dirajam saat ini. Bukan, bukan batu, tapi apel. Hujan apel seperti akan menghancurkannya. Tak punya waktu untuk mengeluh lebih banyak, dia hanya bisa menciptakan array.

__ADS_1


"Bukan, punyaku. Kembalikan!" Semua mulut kini melontarkan hal yang serupa.


Ini, masalah selanjutnya, ya? Aduh, sedikit membebani otak. Huh, jika tidak demi Jiejie aku akan memilih melanjutkan pekerjaanku yang tertunda saja. Akhir pekan yang melelahkan, ini semua gara-gara si sialan.


Li na gatal sendiri mendengar curahan batin Lu wei. Dia membalas, Jika jin Huang mendengar bagaimana kau menyebut seseorang yang dia agung-agungkan dia pasti akan muntah darah biru.


"Sampai kapan k---"


"Kan kau buktiiikaaan ... Kapan kita bisa aman?! Aku ... Aku ingin pulang ke asrama saja, aku lebih suka bencana lembaran buku, sungguh."


Berkedip lebih cepat selama beberapa detik, itulah wujud respon spontan Lu wei saat dia menangkap kata-kata itu. Tersedak udara, dia hanya bisa berkata tanpa otak. "Kapan kita aman? Tentu saja  ... kapan, ya, kapan-kapan."

__ADS_1


Itu...


__ADS_2