Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
174


__ADS_3

Li na melotot dan menjengit. "Astaga! Hati-hati! Jangan menarik celanaku!!!" Kakinya menendang asal, dan untungnya dikarenakan hantu-hantu itu belum pintar sepenuhnya, tarikan itu terlepas dengan sedikit mudah.


Li na menaik beberapa kaki dengan kaki yang tercabik kuku panjang milik Bi Sha . Dia terbang membawa Bi Sha, sudah baik, tapi Bi Sha malah memberinya cakaran, betapa budiman.


Li na menaikkan tangan, membuat gambar lingkaran dengan tubuh bi sha sebagai pensil. Membuat bi sha terputar di udara.


Saat wajah dan lidah berada sejajar, li na menghempaskan tangan. Seketika duri-duri yang menempel di lidah terdepak dengan kompak.


Tubuh-tubuh pucat yang berada tidak jauh sontak pecah membentuk genangan darah hitam dan menguarkan bau busuk.


Mendapati angin ganjal, li na menoleh ke arah bulan. Matanya seketika membulat seperti bulan purnama dengan binar yang terang melebihi bintang. Dia berseru, "A-Liii!!!"


Latar belakang langit malam yang bercampur sinar redup bulan, membingkai tubuh-tubuh ramping berbalut jubah putih salju. Giok di pinggang mereka bergoyang karna angin.


Hampir semua dari mereka berjatuhan seperti meteor. Sama seperti meteor, mereka membawa kehancuran. Tumpukan daging menjadi karpet merah mereka.

__ADS_1


Tidak mempedulikan siap atau tidak, berhasil atau tidak, Li na melempar Bi sha ke arah Lin qili. "A-Li!! Tangkap!"


Jarak yang lumayan jauh terlampaui dengan secepat enam kedipan mata. Meski tadi sempat tidak konek, lin qili tetap menangkapnya. Sebuah kantong melahap habis tubuh indah---sudah tidak--- milik Bi Sha


Kantong itu bergerak asal, gerakan cabikan paling banyak terlihat mata. Kantong itu lenyap setelah Lin qili mengibaskan lengan.


Li na bergegas menghampiri Lin qili, masih sempat untuk menanyakan keadaan. "Baguslah! Kau sudah pulang! Tepat waktu! Bagaimana keadaanmu?!"


Lin qili masih sama, masih satu jalan. Dengan senyum singkat dia menjawab, "Tentu aku baik. Tapi, nanti dulu tanya-tanyanya, sekarang lebih baik urus ini dulu."


Saat punggungnya menabrak punggung kakaknya, dia bertanya, "Sudah seberapa parah, Ge?"


"Tabir yang rusak terakhir adalah tabir daerah. Para kultivator menutup telinga, dan ekspektasi terlampaui."


Nada terkejut membalut jawaban Lin qili. "J-jadi dari tadi kalian hanya berdua saja?! Gege, kau yakin kau baik?"

__ADS_1


Tanpa melihat muka, lin qili ini peka dan maha tahu, wajah lin qingxuan pasti sudah pucat tak berwarna.


Sementara kakak beradik itu menghabiskan waktu bersama, li na memilih bijak untuk tidak menghampiri.


Dia memilih menghampiri para warga---penghuni Rumah Hangat dan tambahan warga lainnya--- yang sedang bersujud dengan segumpal dupa di genggaman.


Kuil itu kecil dan terletak di puncak bangunan. Tinggi, dengan tangga panjang menjadi jalan. Tangga itu tertutupi tubuh-tubuh pucat yang menggeliyat dan merayap.


Li na mendarat tepat di pintu kuil, dan tepat menginjak punggung salah satu hantu. Li na tidak ambil pusing dengan tindakan kurang sopan miliknya.


Di antara jari telunjuk dan jari tengah, segepok jimat sudah siap mendarat dan menancap ke tubuh pucat.


Kali ini tidak salah, mereka adalah hantu kelas rendah, diketahui dari beberapa hantu yang terlempar setelah menyentuh pintu kuil.


Menggerakkan ke samping, dan ke depan. Terakhir, dia menegakkan ke atas dan membuat gerakan menembak berakhir mengatupkan kedua jarinya.

__ADS_1


__ADS_2