
Namun, melihat alisnya yang hampir menyatu membuat Lu wei tanpa sadar meneguk ludah.
"Ini masih kurang!" Yoo, kembali lagi. Semua yang telah pergi kembali lagi.
Keringat dingin menelusuri pelipis jin Huang. Perutnya kembali membuatnya mengeluarkan erangan tertahan. Dia menatap si objek penyebab ini semua. Lu wei. Lagi-lagi dia.
Astaga, kupikir dia cukup kaya. Untung aku menendang si sialan itu untuk ikut. Semoga saja dia mau membantu.
"Hei, Yang Mulia Putra Mahkota, tolong beri bantuan sedikit. Kau kaya, bermartabat, dan pastinya peduli akan calon istrimu. Bayarlah! Atau kita tidak bisa melanjutkan misi kita dan nyawa teman-teman k---"
Sungguh, Lu wei patut mengembangkan kepala. Yeah, dengan ancaman tentunya, memangnya dengan apalagi? Membawa teman-temannya dalam perkataan memang keputusan bagus.
Detik berikutnya, semua murid melotot. Bagaimana bisa itu terlempar layaknya debu? Astaga, berlian, uang, emas, bagaimana bisa dia punya begitu banyak? Ya ampun, rasa iri mengisi semua benak murid-murid. Termasuk orang tua ini juga.
"Masih kurang!"
__ADS_1
Omo.
•••••
Iya, gelud lagi. Aduh, andaikan pecinta war ada di sini, mereka akan menonton dengan estetik.
Tidak tahan dengan ini, formasi terbentuk kembali. Array yang ukurannya sedikit lebih besar terbentuk kembali, dengan sangat cepat. Lu wei menggaruk alis seusai membuat array.
Lu wei memandang ke depan.
Bagaimana jika ada yang tampan? Bukankah sia-sia jika dilewatkan? Bukankah juga sepertinya mempunyai pacar hantu itu epic?
Huh.
Sebuah tabokan pada punggung membuatnya berbalik. Xing'er terlihat seketika. Mata menyipit, mulut yang sepertinya ingin komat-kamit membuat Lu wei menerbitkan senyum miring bodoh.
__ADS_1
"K-kau! K-kau apa yang kau lakukan tadi?! Apa m-maksudmu menempatkanku dalam situasi itu?! K-kau! Kurang akhlak!"
Itu jin Huang. Ya ampun, orang tua ini takjub akan kesabarannya, padahal sepertinya mengeluarkan semuanya akan terasa lebih ringan. Ya, seperti yang tadi itu. Kau ingat?
Sepertinya bukan hanya Jin Huang yang bertanya. Semua murid juga bertanya hanya saja lewat mata. Tatapan mata itu terlalu lurus, menyerang Lu wei intens.
Lu wei menghela nafas. "Sungguh, aku tidak berniat seperti itu t----"
"Apa maksudmu tidak berniat seperti itu?!"
Tentu saja rasa sebal ada, tapi bukan waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Nada sabar yang dipaksa ia pakai. "Aku belum selesai, dengarkan dulu. Mungkin di sini tadi aku terkesan jahat, tapi coba berpikiran lebih luas. Nona Jin yang terhormat, kau tidak perlu menutupinya, semua orang punya keburukannya masing-masing. Kau tidak perlu tidak bahagia hanya untuk menjadi sempurna."
"Aku bilang tidak ada yang kututupi!"
"Aku bilang dengarkan dulu!" Lagi, dia menghela nafas, kakinya ia gerakkan untuk mendekat. "Rasa sakit yang diberikan Penagih Harta itu disesuaikan tiap-tiap orang, itu juga tidak akan berhenti jika sedekah yang diberikan tidak bisa dibandingkan dengan seberapa banyak ia pelit. Jadi, dengan aku membuatmu membayarnya bukankah aku juga membantumu meringankan rasa sakitnya?"
__ADS_1
Beberapa anak yang tadinya loading tapi kini sudah konek lantas membulatkan mata. Astaga, loadingnya lama sekali. Tentu saja! Ternyata karna jin Huang juga pelit!