
Apa perlu orang rua ini memberi toa pada hakim harta dan menyuruhnya mengulangi perkataannya agar mereka percaya? Tidak usah sungkan, diri ini ikhlas.
Mata Lu wei membesar sedikit, berbagai ekspresi tertutup oleh raut biasa saja. Setelah beberapa detik berlalu, dia terkekeh. Terdengar manis bagi beberapa orang. Namun, kekehan itu tersingkirkan oleh beberapa kata dari Penagih Harta yang rupanya tadi tersangkut ditenggorokan.
Penagih harta berucap, "Untuk mengantisipasi adanya hal yang tidak-tidak, kami akan memberi sesuatu sebagai pengingat. Untuk pembayarannya bisa dilakukan satu kali langsung atau terserah kalian."
"Terimakasih! Terimakasih banyak! Aku mewakilinya, dia berjanji akan melaksanakan tanggung jawabnya." Lu Wei menghentakkan salah satu kaki dengan pelan, semoga saja mereka mengerti.
Untung saja itu diterima dengan baik. Semua murid menyerukan kata yang sama---terimakasih dengan khidmat. Tak lupa, bungkukan badan juga turut dilakukan.
Asap hitam bergumul di depan sana. Tepat setelah ucapan terimakasih dilontarkan, tanpa mempedulikan sesuatu yang tidak penting itu para Penagih Harta sudah lebih dulu pergi.
Sontak, helaan nafas terhempas dengan kompak. Panjatan rasa syukur dengan segera terucapkan. Ada juga yang akhirnya terduduk selonjor dengan lemas, tremor yang didapatnya rupanya terlalu melemaskan kaki. Aiyo, ini baru dimulai, di dalam sana masih ada sesuatu yang lebih lagi.
__ADS_1
"Ohohoho, bukankah ini sangat baik? Aku memang pintarr." Senyuman miring tapi manis mampir sejenak, tetapi terhempas oleh kata yang terucap dengan sarkas.
"Pintar menciptakan, menyebabkan, memancing masalah maksudmu?"
Lu wei menanggapi dengan kekehan pendek. Satu tangan terulur, mencakup pundak sahabatnya dan menepuk pelan. "Terserah mulutmu sajalah."
Selang beberapa detik, dia berganti pose. Kedua tangan terlipat apik di depan dada. Ditemani senyum pongah, Lu wei berkata, "Bagaimana? Ginjal kalian tidak menguap, 'kan?"
"Tidak lucu!"
"Astaga, kenapa yang terlempar malah daging, hey kembalikan, Shijie!" Raut sebal dibumbui sedikit malu terlukis di wajah imut murid laki-laki itu. Tangannya mencoba meraih potongan daging yang sekarang berposisi sekitar beberapa puluh senti di atas kepalanya. Tak terlewat, kaki juga melompat. Namun, faktor tinggi badan membuat proses perebutan harta kembali, menjadi terhambat.
Bukan Lu wei jika tidak meresahkan. Tangannya membuat pola, jika hampir tergapai dia akan meninggi, dan sebaliknya. Senyum mengejek juga turut dikakukan. "Ambil kalau kau bisa."
__ADS_1
Sayang sekali, ini tidak sesuai ekspektasi. Shidi yang menggemaskan itu rupanya sudah tidak terpancing kail lagi. Murid tadi berhenti, bibirnya sedikit mengerucut mengakibatkan tangan Lu wei refleks memberi tamparan kecil. "Bibirmu sepertinya bisa dikucir."
"Semba---"
Setelah memasukan potongan daging pada mulut bundar itu, tangannya yang tidak bisa terkontrol mencubit pipi berisi itu. Ya ampun, jika dia tampan bukan ini yang akan Lu eei lakukan. Apa yang akan dia lakukan? Apa pantas ditanyakan?
Sebuah kata menyedot semua mata. "Puas?"
Lu wei mendapati siapa yang berkata, dan mengerti untuk siapa kata itu mengudara. Terpampang Jin Huang dengan berbagai emosi bergumul dalam wajahnya, tersamarkan oleh raut datar tapi bibirnya tetap diselimuti getaran.
jin Huang mengulang kata. "Puas?"
"Perutku belum kenyang, maka kata puas belum ada. Para saudara seperguruan sekalian, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah ucapkan terimakasih pada dua calon pasangan di sini. Berterimakasihlah dengan sangat sungguh amat besar kepada mereka."
__ADS_1
"A-apa maksudmu?"