Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
50


__ADS_3

47


Lu wei masih belum tunduk. Kakinya ia ayunkan mencoba memberi sapaan kasar pada betis lawan. Namun, yang tersapa hanya debu yang berterbangan di udara.


Getaran yang dihasilkan tubrukan dua objek menjatuhkan beberapa helai daun. Rasa sakit menjajahi punggung Lu wei yang membuat kedua empu mengumpat seketika dan bersamaan. Sakit, sialan!


Betapa berbudi luhurnya giok terbaik abad ini. Dia memojokan seseorang! Ya! Memojokkan seseorang! Jika leluhurnya melihat ini, sudah pasti semburan batuk darah akan menghujani tanah.


Memang begitu penggambarannya! Ya, memojokkan. Mungkin apabila seseorang melihat posisi itu mereka akan segera menutup mata atau memilih masuk ke perut ibunya lagi dengan pipi yang panas. Perlu kuperjelas untuk meminimalisir rasa bingung kalian! Tapi tentu saja tidak dengan gamblang oke! Saya berusaha sopan! Hargailah!


Kedua tangan Lu wei dicengkram juga ditekan pada pohon. Tubuhnya juga sama, jalan berkelit atau kesempatan merubah posisi sangat sedikit akibat tubuh besar lin qingxuan yang menutupi.


Bukan tanpa alasan raut pasrah tergambar, Lu wei menyadari jika kakinya hanya sebatas pukulan sayap lalat jika digunakan untuk menyerang kaki lin qingxuan yang layaknya kaki gajah itu. Bedanya hanya dikerampingan saja bukan kekuatan dan kekohannya.


Jeda beberapa menit hanya diisi dengan selaman lebih jauh ke dalam mata. Keduanya sama-sama memantulkan mata berbeda aura.

__ADS_1


Rasa merinding menelusuri leher Lu wei akibat terlalu tipisnya jarak yang terpaut dengan bilah pedang. Ya, Pedang itu hampir menculik nyawanya. Lagi, bagi li na


Li na merasakan hatinya bergetar karna takut. Apa setiap kali pertemuan harus mengorbankan sesuatu? Kenapa selalu nyawa yang menjadi taruhan?!


Sebuah suara menyusup membawa rasa dingin seperti tombak es. "Kau kalah."


Lu weimendengkus geli. Cengiran sinis tersungging bertepatan sebelum kata terucapkan. "Benarkah?"


Ingat ada sesuatu yang terlewatkan! Berpikirlah! Gunakan otakmu, teman!


Pedangnya juga sedari tadi masih tergenggam erat. Menyadari hal itu Lu wei tentu saja tidak membuang kesempatan. Menukikkan dan menggerakkan dengan sangat tipis sampai-sampai otak lin qingxuan terbodohi.


Ujung runcing itu berada tidak lebih dari selembar kain tipis di atas kepala lin qingxuan. Siap menusuk kapan saja!


Suara tepukan tersamarkan oleh gemuruh angin. Di belakang, Kaisar beserta antek-anteknya memandang puas pemandangan yang tersaji.

__ADS_1


Tepukan, sorakan dan beberapa taburan bunga membuat ketenangan yang tadi mendera hancur seketika.


Sontak, kedua sejoli itu mengakhiri pose mereka. Lebih tepatnya lu wei yang mengakhiri, siapa sangka otak lin qingxuan bisa lengah juga? Dengan paksaan yang mendarah daging dia menendang betis lin qingxuan dengan selembut yang ia bisa. Akhirnya dia bisa menghirup udara selain aroma cendana.


Masih setia dengan pose tepuk tangan, Kaisar berucap penuh kegembiraan. "Bagus, bagus. Kalian memang cocok."


An chi tertawa dia juga ikut menyokong. "Benar, baru kali ini ada seseorang yang bisa menyaingi A-Xuan."


Semua dayang juga tampaknya memiliki pemikiran sejalur. Tak henti-hentinya mereka memandang Lu wei dengan tatapan seolah memandang dewi.


Aku merinding.


Aku juga.


Ya, li na juga merasakan hal yang sama dengan Lu wei. Astaga! tatapan itu membuatnya geli sendiri. Meskipun di dunianya dia bagaikan seleb, tapi ada kalanya dia merasa risih jika ditatap terlalu intens. Apalagi dengan binar seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2