Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
30


__ADS_3

Sebuah kata menggambarkan orang-orang itu dalam pikiran li na . BODOH!


Apa mereka benar-benar betah dengan ketidakadilan? Bukankah seharusnya mereka bersyukur pada Dewa?


"Nona Xia, kupikir kamu mungkin berminat."


Sekelumit rasa bingung menyapa li na. Dia? Dia bahkan tidak punya jaminan keamanan nyawa, apa yang bisa dilakukan dia untuk orang-orang itu? Mengajari mereka menjadi penjilat atau mengajari tentang hal 'itu', heh?


Li na menjawab seraya menggelengkan kepala. "T-tidak tidak! Kau lah yang membelinya jadi kau yang berhak. Kenapa jadi aku?"


"Tapi aku membelinya untukmu!"


"Ya! Tapi uangnya tetap uangmu!."


Pepatah mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Ming mei yang sudah amat tidak tahan dengan situasi ini, menyela dengan kesal. "Berhenti! Itu bisa dibahas saat pagi. Biarkan mereka istirahat dulu."


Sudah seharusnya yang waras mengalah. Beberapa detik kemudian derap langkah kaki memenuhi ruangan itu. Satu persatu beranjak menjauh dan hanya tersisa satu gadis hadiah yang tadi.


Gadis itu masih menunduk. Li na memang tidak pandang bulu. Dia menepuk bahu gadis itu, mengakibatkan sang empu mundur beberapa langkah, sampai terjengkang memporak-porandakan meja di belakangnya.

__ADS_1


Tawa dikekang sedemikian rupa agar tidak keluar. Li na tidak menggigit dan tidak rabies, Teman. Kenapa kau memberikan respon seolah kau akan digigit buaya?


"Hey, hey, hey! Ada apa?"


Hanya gumaman permintaan maaf yang dia dapatkan membuat li na menghela nafas, sedikit muak.


"Aku hanya ingin menyapamu ... lupakan. Beristirahatlah."


"Tidak saya tidak ada hak untuk tidur sebelum tuan saya memberi saya izin." Gelengan kepala menyertai pelontaran perkataan itu.


Menyedihkan sekali. Bahkan tidurpun harus izin? Apakah bernafas juga harus izin?


Benar, 'kan. Satu kata yang sedari tadi menjelajahi telinganya hampir saja terlontar kembali dari mulut gadis itu.


Mulut si gadis masih bergerak-gerak tidak tentu, ada kata yang ingin diucapkan tapi sayangnya itu tidak diijinkan. Setelah menjungkirbalikkan otaknya, si gadis melirih, "B-baik, saya akan tidur."


Melihat perempuan di depannya tampaknya puas dengan jawabannya, dia bersegera menunduk sebelum berbalik. Belum satu langkah, sebuah suara kembali mencegatnya.


"Ah! Sebentar, siapa namamu?"

__ADS_1


Tidak sopan jika bertukar kata tanpa memandang wajah lawan, apalagi dengan statusnya yang lebih rendah daripada budak. Dia memutar badan, menunduk dan menjawab dengan nada rendah. "Saya tidak punya nama."


"Hah?"


"Tuan terdahulu saya tidak memberi saya nama. Itu artinya saya tidak berhak punya nama."


"Hah?"


Tunggu ... Apa semua yang bersangkutan dengan orang-orang itu tergantung pada tuannya? Mereka sebenarnya manusia atau manusia tanpa akal? Li na merasa otaknya gatal, bisa-bisanya mereka menerima semua itu dengan wajah biasa. Bahkan jejak senang sedikit menerawang dalam mata gadis itu. Aneh, begitulah deskripsi singkatnya.


Apa mereka dibayar dengan sesuatu yang membuat mereka senang. Lalu apa itu?


Sebuah kata menggambarkan orang-orang itu dalam pikiran li na . BODOH!


Apa mereka benar-benar betah dengan ketidakadilan? Bukankah seharusnya mereka bersyukur pada Dewa?


Sungguh! Apa mereka benar-benar betah dengan ketidakadilan? Bukankah seharusnya mereka bersyukur pada Dewa?


SekaliĀ  lagi!

__ADS_1


Apa mereka benar-benar betah dengan ketidakadilan? Bukankah seharusnya mereka bersyukur pada Dewa?


__ADS_2