
Lu wei seketika berteriak, "Saudaraku! Sepertinya ada yang terlewat! Bukankah seharusnya seseorang mendapat pertanyaan?!"
Hening sesaat, sepertinya butuh beberapa saat lagi sampai loading yang menyerang pohon itu berakhir. Pohon itu menjawab, "Errr ... Ah! Terimakasih sudah mengingatkanku! Tapi maaf, ini adalah peratuaran yang baru kutetapkan. Jika seseorang menjawab tiga pengujian dia tidak perlu mendapat pertanyaan."
Lu wei dengan pelan berdecih dan membatin, Bilang saja kau tidak rajin. Namun, pada kenyataan dia hanya bisa tersenyum manis disusul jawaban yang berkesan manis---sinis. "Tentu saja, aku ini rajin, kompeten, juga suka menolong. Baiklah jika itu peraturannya yang sekarang, ku sarankan jangan teralu banyak merevisi."
Tidak ada, tidak ada benda tajam yang mengintai Lu wei. Namun, demi mengantisipasi apapun yang bisa terjadi Lu wei diam-diam melapisi tubuhnya dengan sihir cangkang. Semoga saja tidak ada serangan hadiah untuk perkataanya.
Semua murid tahu betul apa arti perkataannya, beberapa murid agak tidak puas karna merasa mereka tidak diadilkan. Lain halnya dengan Jin Huang, dia akhirnya bisa bernafas dengan lancar.
Pohon itu tidak menjawab, mungkin dia tertusuk sampai tidak bisa bangun. Pohon itu membalikkan perhatian dengan memulai pengujian. "Pengujian pertama akan diperlihatkan, silahkan nikmati."
Namun, sekian detik telah terlalui, layar yang seharusnya dijajahi begitu banyak warna hanya menampilkan layar hitam kelam.
__ADS_1
Satu menit, lima menit, tuj---
"Hey! Kalian di dalam! Tidurkah?!"
Jika ditanya bagaimana suara Pohon Cinta, semua orang pasti bisa mengetahui tanpa mendengarkan. Suaranya seperti ibu-ibu garang yang mengomeli anaknya yang pulang larut malam. Itu mengingatkan li na akan sendok sayur kepunyaan kanjeng mami.
Sebuah kepala baik dengan rambut atau tanpa rambut mencuat dari balik layar. Hantu wanita yang baru keluar membawakan suatu pemberitahuan. "Maaf, Petinggi, kami akan menyalahkan tuduhan petinggi. Kami tidak tidur dan tidak pernah tidur, apa Anda lupa? Masalah yang terjadi di dalam sungguh membuatku ingin tersenyum manis atau tertawa miris."
Pohon Cinta tidak memedulikan sebuah aib rupanya, dia begitu profesional dengan langsung menanyakan apa sebenarnya masalah yang terjadi. "Masalah apa? Para bayi itu mengambil apel lagi?"
Li na dengan baik hati menjawab, Bayangan? Mungkin.
"Bukan, kali ini bukan para bayi yang mencuri. Kali ini tidak dicuri tapi digigit! Para bayi memiliki gigi susu yang tidak kokoh. Kebanyakan dari mereka hanya akan meminta diperaskan sarinya, tapi kali ini apel itu bahkan tergigit sampai hampir terbelah! Sudah jelas siapa yang begitu sopan."
__ADS_1
Belum, bom berwujud amarah belum meledak, tapi jawaban dari hantu wanita itu membuat Lu wei tersedak udara. Jangan nyatakan ... itu, dia? Aduhhh.
Jantung, paru-paru, tenggorokan, lambung, ginjal, usus besar, usus kecil, hati, empedu. itu semua diperlihatkan dengan gamblang. Oh, jangan lupakan darah yang melumuri dan terus berjatuhan bagai hujan.
Karna sesuatu sebagai pengenal tidaklah ikut terbawa, membuat hantu itu tidak dikenali. Apakah dia laki-laki atau perempuan, Lu wei tidak tahu.
Astaga! Aku berharap salah satu organnya jatuh, aku berniat mencurinya dan menjualnya saat aku kembali. Jantung lumayan harganya katanya.
Ternyata bukan hanya Li na yang berpikiran tak sesuai kondisi, rupanya Lu Wei juga. Diketahui lewat gumaman hampir tak nyata Lu wei
Lu wei bergumam, "Jatuh, jatuh, jatuhlah ... Jantung ayolaahhh, aaa ginjalnya juga tidak masalah, hey jatuhlah .... "
Eumm, jika berhasil terjual bagi hasil, oke? Orang tua ini juga seharusnya kecipratan.
__ADS_1
Oke, kembali dan berperilakulah sesuai kondisi.