
Lu wei menjawab, "Aku bertanya padanya punya uang atau tidak, dia menjawab tidak tahu. Jadi, karna dia tidak tahu biarkan aku mencari tahu. Barangkali ada keberuntungan yang tertutupi pakaian."
Apa yang terjadi saat ini sungguh susah dijelaskan. Dia hanya 'calon adik ipar' bagaimana bisa dia bertindak sebegitu beraninya? Menggrepe---eh.
Meski sudah diberi intruksi untuk diam ditempat, mulut jin Huang tidak memiliki alasan untuk diam. "Hey! Kau! Berani-beraninya! Aku saja yang calon istrinya tidak boleh sembarangan menyentuh! Tapi kau! Ka---"
Satu jari berdiri di depan bibir, melepaskan aba-aba untuk menghentikan kata kembali mengudara. "Diam, jangan ganggu."
Sudah dipastikan, hati jin Huang sudah gosong. Wajahnya memerah disertai tangan yang tergenggam semakin erat, dengan getaran yang semakin sarat. Matanya tertuju pada satu objek, Lu wei
Seakan hal yang menjadi latar belakang hanya hal yang tidak patut di pentingkan, Lu wei mencerocos dengan santai. "Di mana uangmu, sih? Di kelepak tidak ada, di lengan baju tidak ada, kau sengaja atau bagaimana?! S*alan tanganku sudah gatal, sudah tidak tahan untuk bergesekan dengan debu uang."
Lin qingxuan menjawab, "Sakuku di celana."
"Oh, begitu ...."
"Lu wei"
Dia mendongak. "Apa?"
__ADS_1
Apa, apa, pantatmu! Hey, kau sopanlah sedikit. Tentu saja dia marah! Hal yang seharusnya menjadi haknya malah kau sabotase begitu! Aku malu walau bukan aku yang melakukannya! Kau tahu, kau di sini seperti wanita nakal!
Desakan rasa tidak nyaman disisipkan dalam suasana yang mengerikan, membuat lin qili terbatuk. Dia dengan hati-hati menengahi. "Biar aku saja, biar aku saja yang mencari tahu."
Lu wei menurut saja. Lagipula hasilnya sama saja, dengan dia atau tanpa dia yang mencarinya, uang tetap harus ada!
Benar, saja. Sesaat kemudian, beberapa uang terjulur ke arahnya. Lu wei tersenyum singkat, berbalik dan menyeletuk dengan sinis. "Tidak kusangka, kau juga bisa berdusta."
Tak lama dari itu, suara tabrakan dua tangan mengguncang udara. Diiringi Lu wei yang berucap hampir berteriak. "Baiklah! Yang benar akan segera terungkap!"
Beberapa uang koin melayang, berputar membuat bentuk kapsul. Energi biru menyandingi juga menghiasi, membuat mata tidak bisa memalingkan atensi. Angin membully rambut Lu wei dengan menerbangkannya secara asal. Hanya saja itu malah membuat pemandangan ini semakin berkesan.
Sejurus kemudian, serbuk sedikit mengisi kekosongan ruang. Menyebar dengan renggang, terlihat tidak berguna tapi nyatanya tidak seperti itu.
Angin membawa serbuk itu menjelajahi segala arah. Sunyi mengisi kembali, tapi lagi-lagi Lu wei menghancurkannya.
T-tidak, bukan dia.
Lu wei sontak membuka mata. "Kenapa banyak sekali, B*ngsat!"
__ADS_1
Suara cekikikan membombardir dari segala arah. Tentu saja! Karna sekarang mereka membentuk lingkaran! Menutup segala arah! Melahirkan semburan sorakan yang menghujam kejam pendengaran.
"Apa yang terjadi?!"
"Kenapa bisa?!"
"Lu wei ! Kau memang b*ngsat!"
Decakan terlaksanakan sebagai tanggapan awal. Seraya mundur, Lu wei berteriak, "Siapa yang meminta bukti?! Ha! Minumlah air ludahmu itu!"
"Bukti apa! Ini pasti tidak benar!"
"Ya! Ini salah! Aku tidak seperti itu!"
"Aku tidak pelit!"
Meludah, suatu reaksi yang pas. Bagaimana bisa mereka mengelak saat bukti yang diberikan benar-benar akurat? Oh, benar rupanya, mereka tentu saja akan langsung menolak!
Ya! Tentu saja!
__ADS_1