
An Chi hanya menjawab dengan senyum tipis sembari menyilir teh kembali dan menyodorkannya pada orang tadi.
Sedangkan Jin Huang yang tidak di sapa malah menyemburkan api. "Kau! Apa yang kau masak?!"
"M-mie? Aku memasak mie." Dia membenarkan letak topeng yang menutupi wajahnya. Takut-takut jika Jin Huang melihatnya dan Jin Huang akan menghasut Lin qingxuan atau orang-orang untuk membunuhnya.
"Ini bahkan tidak layak dimakan!" Jin Huang terbatuk setelah mengatakan itu, dikarenakan hidungnya dipenuhi sengatan udara pedas dari mie yang tadi ia hirup. Dia menaruh mangkuk dengan hentakan seolah ingin menghancurkan meja.
Mata hanyalah mata, tapi mengapa membawa kesan seperti senapan atau pisau atau belati saat ini? Bukan mata Jin Huang yang membuat Li na bergidik, melainkan orang itu. Tatapannya begitu menusuk, sampai sumsum tulang Li na mendingin. Mati! Aku akan mati! Apalagi jika selain itu?! Jodohku, aku meminta maaf karna tidak bisa melihatmu sewaktu hidup, aku ijin pamit, sekian.
__ADS_1
"Dia tidak bisa makan pedas."
Ludah akhirnya melewati tenggorokan. Jangan tanya betapa sulitnya, sulitnya sama saja dengan membuat dia peka. Meski canggung, Li na memaksa diri untuk menjawab. Jadilah perkataannya sangat memancing untuk ditarik keluar secepetnya. "B-be ... Benarkah? A-aku ... Aku tidak tahu, sungguh! Aku minta maaf!" Hal berikutnya memang sudah sepatutnya seperti itu.
Dahi yang membentur tanah beralaskan karpet sutra berulang kali bagikan debu yang berusaha membeli uang. Tidak berguna, tapi tetap dilakukan. Mulut yang terus menggumamkan maaf bagaikan tawaran untuk mempermurah detik dan nafas. Sudahlah, intinya Li na benar-benar menggantungkan kepalanya pada hal itu.
Namun, agaknya itu bukan sesuatu yang sangat-sangat mengagumkan. Huh, bersyukurlah, jangan hanya mengeluh. Bukan, bukan orang tadi yang bersedia mengulurkan tangan menghalanginya, melainkan bibi baik kita, An Chi.
"Ketidaktahuan memang sering membingungkan. Tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, intinya lebih baik menangani akibat yang ditimbulkan dari ketidaktahuan ini."
__ADS_1
Gambaran Li na saat ini bagai anjing yang menjulurkan ludah, liur menetes disertai buntut yang bergoyang. "Tidak, tidak, tidak. Ini kesalahan fatal, hamba bersedia menerima hukuman." Lagi, dia menjedotkan dahinya kembali, kata maaf berulang kali diloloskan. Topeng yang menghalangi wajahnya bukannya menghalangi rasa sakit malah memunculkan rasa sakit tersendiri.
Sementara An Chi sibuk menenangkan anjing yang terlalu bersemangat ini, Orang tadi tampaknya memiliki pendapat lain. "Kenapa bersikeras meminta dihukum? Kau mencintainya, heh? Hanya ditegur bukannya bersyukur, malah melunjak."
Aduh, bibi satu ini sepertinya benar. Tapi aku harus menjalani peran ini dengan sempurna! Kemari-kemari biarkan aku menjilatmu. "Maaf, maaf, maaf, telah membuat Yang mulia terusik. Tapi sungguh, saya memang salah."
"Sudah tahu salah, malah mengoceh! Menunduk dan bersujud, hanya itu!"
Ya, memang, tidak salah, yaa... Itu tidak salah. Salahkan saja Li na yang tidak punya otak. Sepertinya memang begitu, Jin Huang kepalanya tidak kosong. Dan Li Na lah yang hanya memiliki organbya tetapi tidak dengan fungsinya. Namun, apakah hal tersebut adalah sesuatu fakta?
__ADS_1