
Salah satu dari mereka menjawab. Ketakutan terpampang dengan jelas tanpa objek yang menutupinya. "B-bukan, bukan begitu ... kami belum mendapat izin dari tuan kami."
Mendapati jawaban seperti itu dengan kasar li na mengusap wajah berlanjut dengan memijat pelipisnya pelan. "Hey, qingqing katakan pada mereka untuk makan."
Desiran menggetarkan darah. Apa tadi qingqing? Oh, kesampingkan dulu kawan. "Kalian cepat makan."
Voila! Seketika mereka seolah telah dihidupkan tombol on dari pemilik mereka.
Masih dengan tangan yang mencoba menenangkan urat dipelipisnya, li na bergumam tanpa sadar. "Makan pun harus izin, apakah jika mereka ingin mengeluarkan feses juga harus izin? Bagaimana jika itu terkeluarkan tanpa sengaja? Apaka---"
"Berhenti! Itu menjijikan!"
Yeah, sudah kuberitahu sebelumnya. Ming mei memang penyuka kebersihan.
Tidak ada tanggapan dari li na, tampaknya jiwanya memang lelah akhir-akhir ini.
Sembari menunggu kelimanya duduk di pojok ruangan dan mulai berbincang. Pembicaraan dilakukan selih mungkin supaya hal yang dibicarakan tidak bocor kemana-mana.
__ADS_1
"Jadi, apa yang harus dilakukan pada mereka selanjutnya? Mereka tidak ingin dibebaskan."
"Tinggal timbun mereka di kediamanmu apa susahnya?"
Woho, akhirnya si nolep angkat bicara. Tentu saja bukan lin qili, ini A-li tercinta yang menjawab.
"Jika aku bisa melakukan itu aku tidak akan mengeluh dan bertanya." ******* lelah tak mampu ditahan lagi.
Alasan yang masuk akal.
"Kalau begitu apa kau tidak punya setidaknya rumah kosong milikmu sendiri? Itu bisa menjadi tempat berteduh sementara." Li na berpikir mungkin ada baiknya jika mereka, orang-orang itu punya teritori tersendiri atau tempat berteduh. Dengan ini mereka bisa menunda memikirkan apa yang harus dilakukan pada sekelompok orang itu.
Li na mengerang lelah. Ya ampun ini masih pagi, otaknya belum sepenuhnya bangun.
"Sebenarnya bukan apa yang harus dilakukan pada mereka saja yang kupikirkan, ada hal lain yang lebih memenatkan otak." Tandas, Tuan Muda qing meminum teh itu sekali teguk. Rupanya tenggorokannya memang butuh dilonggarkan.
"Apa?"
__ADS_1
"Apa kau tiba-tiba mengalami amnesia? Kau lupa apa yang sering menimpa keluarga yang menerima budak yang bukan dari rampasan perang?" Setelah berpikir, ming mei agak termenung. Benar, dia amnesia.
Ming mei melanjutkan, "Kebanyakan dari mereka berakhir dengan kasus pembunuhan yang mengerikan dan beberapa dari mereka kultivasinya menurun drastis hingga tahap mereka hampir menjadi orang biasa."
"Maksudmu ini bayarannya?"
Ming mei mengangguk. Pembicaraan ini membutuhkan pemikiran yang mendalam, Teman.
"Hal ini masih menjadi misteri, bagaimana sebenarnya hal itu bisa terjadi. Bahkan paman kaisar pun tampaknya tidak memiliki jawaban yang pasti." Pupil ming mei menyorotkan sinarnya kepada yang bermarga lin.
Lin qili membenarkan. "Benar, ayah sampai pusing saat laporan-laporan berisikan hal itu terus-menerus menyemprotnya dari beberapa bulan yang lalu."
Jadi jaminan keamanan nyawa itu bukan bayarannya? Melainkan nyawa si pemberi keamanan? Tapi kenapa? Bukankah mereka tampak seperti anjing yang setia? Saat li na sepenuhnya memasuki mode berfikir, sebuah keributan menariknya secara paksa.
Gadis hadiah sepertinya memiliki kesulitan memegang cangkir teh dengan benar. Pecahan cangkir teh menyebar menghiasi meja makan kayu itu.
Gemetar hebat tidak menyelimuti tubuh ringkih itu. Eh---
__ADS_1
Apa? Kenapa? Apa yang terjadi, ini menyimpang.