Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
95


__ADS_3

Dia mengaduh sakit saat kepalanya ditoyor berulang kali, ingin rasanya dia membanting seseorang yang menjadi beban di bahunya, sayang sekali wajahnya membuat hasrat itu urung.


"Kapan kapannya kapan?! Aku menyesal ikut---"


"Yang namanya menyesal pasti ada di belakang, jika di depan itu namanya penasaran atau ikut-ikutan. Jadi kau yang mana? Jujur saja, kau ikut ke sini dengan niat membantu kakakku, atau punya niat selain itu?"  Mode serius on, nikmatilah. Omong kosong akan lebih di beri isi.


"Kau meragukanku? Aku sungguh berniat membantu Xiaojie, jika kau tidak percaya tanya saja pada Kakakku. T-tapi aku sungguh menyesal---bukan menyesal membantu tapi menyesal akan betapa lemahnya diriku. Menghadapi yang satu tadi saja sudah hampir membuat ingusku keluar. Kakakku, d-dia pasti marah kalau melihatku seperti ini." Ekspresi, intonasi, diksi, semuanya membuat Lu wei terdistorsi.


Deheman Lu wei lakukan sebelum menjawab dengan penuh kehati-hatian. "Lemah, kuat pada akhirnya akan menemui ajalnya. Jika mati, maka mati. Ku tanya, apa ada tolak ukur untuk seseorang supaya bisa menghindari itu? Tidak, tidak ada. Kau hebat, di matamu, di mata ibumu, di mata seseorang di bawahmu. Kau tidak sampai mengeluarkan roh karna kejadian tadi, kan? Ingus pun hanya sampai akan keluar, apa itu tidak hebat menurutmu? Hmm? Sesekali menengoklah ke bawah, jangan hanya menengadah."


Shidi itu berdecak. "Phei! Omong kosongmu lebih enak di dengar daripada ini."


Ya, sudahlah. Padahal Lu wei benar-benar serius tadi, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi? Apa dia harus menyeretnya mengeluarkan bulir bening lagi?


"Aiyaaa, kau, dasar bayi besar. Err, omong-omong tentang kakakmu ... Apa dia sedang dekat dengan seseorang?"


"Kenapa menanyakan itu? Ingin memberinya selamat karna sudah menaklukkan kakakku? Atau ingin beriri-iri ria? Atau berbasa basi busuk dengannya?"

__ADS_1


Jawaban sadis bermarga sinis itu benar-benar mengiris, tapi bukannya menjawab dengan hal serupa, Lu wei malah memunculkan tawa. "Shidi memang yang terbaik, sayang  sekali itu tidak seperti itu. Aku hanya ingin menambah teman saja kok."


"Menjadikannya tikus bagimu? Benar?"


Aiyoo, kenapa dia seperti peramal saja.


Kau berniat seperti jin Huang, hah? Atau jangan-jangan kau fans beratnya sehingga ingin meniru hal yang dilakukannya? Lu wei kau membuat otakku gatal.


Lu wei menjawab, "Tidak ... tidak seperti itu .... "


"Lalu?" Satu alis si Shidi terangkat. Apalagi ini, jangan bilang dia ingin membandingkan atau menjelek-jelekkan calon kakak iparnya.


Leher menoleh dengan kaku, dia terkesiap. "Bagaimana bisa kau tahu?"


"Karna aku pintar!" Bertepatan dengan berakhirnya kalimat itu, kaki tidak lagi bergelut dengan gravitasi. Menyerah tanpa syarat, membuat jeritan tersirat dengan emosi takut yang sarat.


"S*alan! Apa yang kau lakukan?!"

__ADS_1


"Menurutmu apa?" Lu wei tersenyum miring, seraya membanting seseorang yang memang sedari tadi ingin dibanting. Umpatan kembali tersiar dengan pelan.


Hmppp! Betapa sopannya! Lu wei kau patut mendapat predikat murid teladan. Bagaimana bisa kau sesopan itu, siapa yang mengajarinya, hah? Aku iri.  Li na terlalu sibuk mengomentari sesuatu yang sebenarnya sudah tidak aneh lagi. Saat dia tersadar li na ingin tertawa miris saja rasanya. Jadi daritadi kita hanya berputar, ya? Hai lagi, pohon apel gadungan.


"Pohon ini! Astaga, s*alan aku melihatnya lagi, menjauh, menjauh aku tidak mau tremor lagi."


"Apa maksudmu?" Lu wei merasa satu persatu bagian otaknya mulai terterangi cahaya ilahi. Sedikit demi sedikit, jangan terburu-buru. Pelan.


"Jangan berpura-pura dungu, itu tidak lucu." Jawaban itu didahului decihan, membuat kening Lu wei melahirkan kernyitan.


Sungguh, dia memang suka beromong kosong tapi kalau berbohong dia lebih tahu situasi. Tampang biasa saja terpampang menggoda untuk ditampol. "Aku benar-benar tidak tahu sungguh."


Shidi itu terkesiap tentu saja. Otaknya terlalu banyak lag makanya selalu lambat. Aiyaa, otaknya memang otak telur. "Benar juga ... Bagaimana bisa?"


"Apanya???"


"Bagaimana bisa kau tidak terpengaruh?"

__ADS_1


"Terpengaruh untuk mencuri semua apel yang ada di pohon itu dan menjualnya? Tent---"


Jawaban itu benar-benar membuat Shidi ingin memakan mentah-mentah lu wei jika bisa. Lagi, dia beromong kosong lagi.


__ADS_2