
Masih sama---tidak! Tadi dia mendapati satu bayangan yang beringsut dan kembali bersembunyi. Sepertinya itu bayangan yang hendak disentuhnya. Lu wei menaikkan alis. Dia masih belum paham.
Karna dorongan penasaran, Lu wei memilih untuk berdiri. Dirinya sudah siap melangkah pergi, tetapi terhenti karna sesuatu. Tidak, ini bukan array. Sesuatu ini lebih berbentuk dan mengikat.
Tali? Kalau begitu tali apa?
Li na menjawab sesukanya, Tali gantung diri.
Tak ingin berlarut-larut dalam kebingungan, Lu wei menggapai pedang, bersamaan dengan itu mulutnya bergerak membacakan mantra. Satu tebasan, dua---lima. Tidak berbuah.
Li na berkomentar, lagi, Oh kasihan, oh kasihan, aduh kasihaaan.
Lu wei mengerang dan membalik badan. Baiklah, dia harus bisa dia ajak kerja sama. Lu wei berkacak pinggang dan berkata, "Apa niat hidupmu begitu rendah sehingga hanya mau menurut? Huh, selain kere kau juga penakut rupanya?"
Belum terpancing, ayo runcingkan lidahmu lagi!
__ADS_1
"Ayolah, aku bahkan sudah bermurah hati mengeluarkan kata untukmu dan kau masih menundukan kepala? Betapa tidak sopannya." Lu wei menambah kesan meyakinkan bahwa dia kesal dengan gelengan kepala.
Akhirnya usahanya tidak terlalu memancing amarah miliknya. Lin qingxuan menengadah dan seketika pahatan yang tak cukup berpredikat sangat tampan menyapa netra Li Yue.
Tidak terpesona, Lu wei justru ingin menonjoknya.
"Berdirilah."
Sungguh, Lu wei benar-benar kasihan pada hantu yang terjebak di tubuh Lin qingxuan. Dia tidak bisa mengeluarkannya---karna memang tidak ada, Bodoh!---
Bagaimana bisa Lin Qingxuan menurut?!
Tanpa kata, sosok itu menegak. Monoton dan datar, akan terlihat membosankan jika orang itu tidak tampan. Sayangnya bagi Lu wei tampan atau tidak tampan selama itu Lin qingxuan sama saja menyebalkan dan menjengkelkan.
Lu wei antara heran dan bersyukur memilih melanjutkan, "Angkat tanganmu."
__ADS_1
Seharusnya dua pasang lengan menunjuk langit sekarang, tapi entah otak lin qingxuan tertinggal dimana sampai-sampai dia salah melakukan itu.
Tanganmu seharusnya menghadap langit, Bodoh. Bukan ke samping. Huh, jika Jin Huang di sini, aku akan menendangnya memasuki pelukanmu.
Li na memilih untuk tidak memilih salah satu, Lin qingxuan, otakmu sepertinya tersangkut di pohon apel. Lu wei, kau begitu baik.
Kenapa aku berharap padanya? Aku gila? Lu wei menggeleng untuk menghilangkan beberapa rasa dan pemikiran. Helaan nafas terhempas, Lu wei memilih untuk bijak saja. Kakinya melangkah mendekati Lin qingxuan
Satu langkah, dua langkah, entah kenapa Lu wei merasa semakin kesini dia semakin merasa sedang di awasi. Matanya memicing sedikit, rasa waspada mulai muncul.
Posisi Lu wei dan Lin Qingxuan bagaikan seseorang yang bertabrakan di jalan. Lengan hampir menyentuh lengan, hanya sebatang jagung sebagai jarak yang terlampir. Lu wei mendongak sedikit dan berkata, "Pedangmu, kupinjam."
Tidak peduli apa itu persetujuan, pedang Lin qingxuan sudah dirampas tangan orang yang sopan.
Meski tubuh sudah berbalik arah, tapi sudut mata masih bisa menangkap sesuatu. Entah apalagi kesalahan yang menyerangnya, dia melihat Lin qingxuan mengerjap dan berakhir melotot.
__ADS_1
Bersamaan dengan tubuhnya yang berbalik, sebuah seruan samar terdengar.