
Berdecih, kemudian dia menepis dengan apatis ucapan berbalut nada manis itu. "Aku tidak takut gelap, hanya takut pada sesuatu yang ada di dalamnya."
Y-ya, ya benar juga---aihh. Ini sama saja mengatakan bukan takut kamar mandi, hanya saja takut pada yang menunggui. Begitu? Xixixi.
Oh, belum selesai rupanya? Xing'er melanjutkan, "Nona mudamu masih enak dipandang? Aku iri dengan matamu yang terlalu jernih."
"Ka---"
"Psttt!"
Apa? Ada apa?! Jangan bilang ada di belakang?! Tunggu, tidak ada unsur horor dalam novel!!!
Hening datang lagi, jika tempatnya bisa lebih dikondisikan hening ini akan menenangkan sanubari. Sayangnya tidak, hening ini bukannya menenangkan malah menyekik.
An chi melirih, "Anak-anak berkelahinya tolong liat kondisi, ada baiknya ditunda dan lebih baik lagi jangan dilakukan. Suara berisik bisa menarik sesuatu."
"A-apa itu?"
"Iblis perenggut jiwa."
__ADS_1
Slapp---clingg!
Dua bola mata menyorotkan cahayanya, tepat mengenai wajah mulus An chi. Sayangnya keindahan itu saat ini tidak bisa dikatakan keindahan. Faring para murid tercekik, mengakibatkan proses tertelannya ludah menjadi sulit.
"Iblis pengganggu jiwa?"
An chi mengangkat wajah guna memastikan siapa yang berkata---bertanya. "Aku yakin Nona muda kedua Lu pasti sudah pernah mendengar tentang iblis pengganggu jiwa. Ilusi yang mematikan."
"Sayang sekali, ilusi dan mimpi ... itu indah."
Anggukan kepala An chi lakukan. Rupanya ilmu pengetahuan secara tidak langsung akan didapatkan melalui petualangan kali ini. "Benar, sayang sekali padahal jika saja, jika saja! Mimpi itu adalah kenyataan. Aiyo, ini masih belum kedalam. Kuharap kalian tidak melakukan apapun sebelum ada instruksi."
An chi menepuk jidatnya pelan saat menyadari sesuatu. "Baiklah baiklah, aku tahu pengelihatan kalian belum mencapai penglihatan terbaik, jadi tidak apa-apa jika kalian menyalakan cahaya---lewat mata!"
Huh, hampir saja. Jimat-jimat sudah hendak digunakan, untung saja lidah An chi gesit. Jika tidak? Siap-siap saja, dirimu akan mengalami mimpi indah.
Ranting bergoyang, daun melayang. Angin menyapa cepat, menggetarkan setiap objek yang terdapat.
Picingan mata, menoleh dengan cepat. Sebuah perintah terdengar mustahil untuk ditolak. "Matikan cahaya!"
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, tanah seperti sedang berkumur(?) mungkin. Intinya bergetar membentuk gelembung.
Huh, glutuk glutuk yang meresahkan.
Gelap lagi, hanya tersisa bulan yang setia menyinari. Namun, glutuk-glutuk itu masih belum reda. Hanya sedikit berkurang volumenya.
"Menghindar dari bulan!"
Secepat kedipan mata, para murid yang telinganya bolong sontak berlari mencari tempat berlindung. Entah di pohon atau apa, yang penting tidak tersinari bulan. Lu wei? Dia sedikit planga plongo di sini. Entah karna apa, dia terkesan bodoh.
"Jangan terlalu jauh! Tenang, jangan takut!"
Aduh, Bibi. Maaf saja, tapi nada bicaramu malah membuat takut.
Tunggu, apa bumi tadi akan bersin tapi tidak jadi? Kenapa getarannya cepat sekali berhenti? Kasian sekali, dia pasti kesal karna tidak jadi bersin. Akan epic jika dia benar-benar bersin, haha bayangkan jika salah satu dari mulut bebek itu terpental dan berakhir menjadi umpan ikan.
Ya, dia tidak bohong, Kawan. Getaran---glutuk-glutuk---nya memang sudah berhenti. Namun, keringat dingin masih menjelajahi bagian tubuh sebagian besar makhluk yang menapak di situ. Begitupun dengan An chi.
"A-apa sudah berhenti? Bolehkah kami keluar?"
__ADS_1
Tidak, kali ini bukan xing'er.