
"Tidak ada bekas sepatu yang menyeret tanah, itu artinya dia tidak terpleset."
Lin qili menunduk, tapi dia baru menyadari sesuatu. Maniknya sontak menyorotkan sinar terang, berkedip beberapa kali seperti lampu kedip. Desakan rasa bingung membuatnya menggaruk janggut. "Sepertinya masuk akal," jarinya menelusuri tanah, "Tanah di sini cukup lembek, jika dia terpeleset itu mungkin, tapi jika tidak ada bekas sepatu itu agak ...."
Perkataan itu terpotong disebabkan sesuatu yang dilupakan.
Bagaimana bisa kalian mengabaikan makhluk-makhluk di belakang ituuu???!!!
Angin yang meliuk dan ranting yang berderak membuat semua orang terhenyak, terkecuali Kaisar dan An Chi
Masih dengan mata terpejam, sebuah teriakan meluncur dan melengking tajam. "Kampret! Bangsat! Sialan! Si busuk itu! Arghhh tidak! Aku tidak mau meleleh! Tuhan tolong aku!"
Merasakan sesuatu yang tidak diharapkan tidak kunjung mengenainya, membuat Li na membuka mata.
Kilau es, hawa dingin, sunyi. Tunggu, bukannya harusnya dia mendapatkan sebaliknya?!
"Apa air berbalut api tadi menguap? Atau aku sudah di surga?" Jemari terangkat tujuannya adalah pipi, sejurus kemudian suara nyaring yang dihasilkan membuat gema yang samar. Di susul rintihan juga umpatan.
__ADS_1
Sembari terus menggosok pipi, Li na melanjutkan mengidentifikasi. "Ini sungguh surga? Pipiku bahkan panas dan sudah pasti merah, ini pasti benar surga! Aaa!!! Mama! Aku ingin menarikmu ke sini!" Tawa yang benar-benar tawa meledak setelahnya.
Namun, rasa sakit yang menyerang dahinya memadamkan tawa itu. Umpatan sudah siap mengudara, tapi terpaksa ditelan saat menyadari siapa yang tercermin dalam netra.
"Kau? Shijie? Huh? Kau di sini juga? Senang bertemu denganmu di sini, omong-omong sudah berapa lama kau singgah di surga ini?"
"Surga-surga, kepalamu penyok!"
"Huh ...."
Baiklah, mungkin dia terlalu banyak menyinyir sampai otaknya terkontaminasi bug.
"Dengan tingkahmu, kau pikir bisa menggapai surga?" Sungguh, meski perkataan itu tidak memiliki nada sinis tapi rasa sakit yang diberikan melebihi jitakannya tadi.
Li na mengerang dan memilih tidak melanjutkan. Pijatan pada pelipis bahkan belum membuatnya tenang. Dia mendongak, dan mendapati Ming mei dengan posisi yang belum berubah. Menyilangkan tangan di dada, sedangkan mata menatap lurus ke arahnya. "Shijie, uhh anu ...."
"... TUNGGU!!!"
__ADS_1
Terhenyak agaknya kurang detail. Mata menonjol seolah ingin cerai dengan saraf atau ototnya (?), mulut menganga sehingga bakpao bisa dimasukan dengan mulus, tangan bergetar begitu juga dengan ginjal. Agaknya.
I-ini ....
Tangan yang masih diselimuti gemetar Li na paksa untuk membuat warna merah di pipinya.
Satu kali---tiga kali.
Ini nyata!
"Ha, ayo terus, ayo terus, aku akan mengambilkan pisau." Jawaban berupa mulut yang masih menganga membuat Ming mei hanya bisa memutar mata.
Tubuhnya sudah berbalik dan siap melangkah pergi, tapi lengan baju yang memberat membuatnya urung.
Dia mendapati satu tangannya sudah berada dalam pelukan Li na.
"Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku ahhh!"
__ADS_1
Gemetar yang menghiasi perkataan itu memaksa Ming Mei untuk tetap di tempat. "Aku ingin memberi tahu yang lainnya dulu, tidak akan lama, memangnya siapa yang akan menculik seseorang yang meresahkan sepertimu?"