Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
25.


__ADS_3

24


Pendekatan, menjadi orang penting dihidupnya, menumbuhkan perasaan, beri dia kenangan. Dan terakhir, pergi dengan kenangan yang sulit dilupakan.


Ya, metode itu!


Menghilang, menghilanglah seperti rasa hangat dimusim dingin. Rubahlah dirimu menjadi transparan dan tidak bisa dilihat seperti hantu. Dengan itu, targetmu akan merasakan sakit yang mendalam. Sedalam palung mariana.


Rumusnya seperti ini ... Perkenalan ditambah pendekatan, dikalikan dengan kata-kata mutiara semanis madu serta kenangan tak terlupakan. Terakhir kurangi dengan, kepergian.


Eitt! Jangan harap 'kepergian' hanya sekali saja, kalikan seribu kali! Dengan ini, kamu menang!


Maksudku perlahanlah dan perlamalah tahap menghilangmu itu. Ingat kata pepatah, sedikit demi sedikit menjadi bukit.


Setelah itu semua berlalu, dan kau menjadi pemenang ... Seketika rasa senang seperti karpet ajaib yang menghantarkanmu ke tempat terindah.


Atau apakah metode kaliĀ  ini lebih cocok dimasukan ke friendzone? Ah! Makhluk hidup ini pusing, tolongg!

__ADS_1


Ini tidak patut dicontoh. Kukatakan lagi, jangan menirunya. Ini hanya diperuntungkan oleh orang yang benar-benar membutuhkannya.


Ya, membutuhkannya. Jangan pikir, metode ini bisa dipergunakan sesuka hati.


Dengar kawan, jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti.


Li na Maaf saja, sejujurnya dia memang tidak pernah disakiti. Tapi semua hal yang dia lakukan dalam hal 'memainkan hati pria' bukan untuk kepentingan pribadi.


Eh, benar bukan sih? Ah, begini saja setengah iya setengah lagi tidak. Sebenarnya dia melakukan ini sebagai beberapa pembalasan dendam, dan ada yang masuk faksi pekerjaan.


Siapa sangka? Pria durjana semakin merajalela? Media sosialnya sering diteror oleh perempuan-perempuan yang masuk ke mulut buaya. Mereka meminta keadilan dengan menyuruhnya memberi mereka pelajaran, tentu saja dengan embel-embel uang bayaran.


Pintar sekali! Dasar pemain hati orang! F*ck!


Oke, kembali.


Ming mei hanya bisa menghela nafas. Dia mengisyaratkan lewat kepala untuk mengikuti manusia-manusia di depannya. Dengan dingin, patung es di sebelahnya mengikutinya. Disusul lin qili yang otaknya masih loading.

__ADS_1


Tiba saatnya untuk memanjakan lidah. Aroma bumbu menyerbu menggelitiki lubang hidung li na Air liur dengan kuat ia tahan supaya tidak menghiasi daerah dagunya. Binar senang di mata cerah itu mengalahkan indahnya langit senja.


Tangannya di tarik oleh si tuan muda.


"Ayo, duduk."


Kelimanya duduk tanpa ba-bi-bu. Waktu menunggu diisi dengan beberapa candaan dan obrolan unfaedah. Tentu saja hanya dua dari mereka yang melakukan itu. Eh, tidak, sesekali lin qili menyelip ikut nimbrung.


Bersyukurlah pada kecepatan waktu. Kini kilatan minta diterkam dari daging terlukis sempurna dinetra yang melihatnya.


Li na dengan 'cacing perut tidak sopan' miliknya, juga dengan kelonggaran lambung langsung menyerbu dendeng itu.


Rasa gurih membasahi lidahnya. Pecah, lumer, begitu memanjakan lidah.


Mulutnya masih penuh, tapi karna dirinya orang yang 'berbudi luhur' dia tidak bisa menahan dorongan untuk berterimakasih. "Ini sungguh sangat sangat enak! Aaa! Terimakasih! Terimakasih! Mulai sekarang aku akan membantumu jika aku mau!"


Kunyahan terhenti oleh desakan rasa ketidakpercayaan. Dia hampir tersedak, rasa serat mencekik tenggorokannya. Tuan muda qing membatin, Membantumu jika aku mau? Wah, aku terharu.

__ADS_1


Akibat dari menahan itu, dia terbatuk setelahnya. Tanganya dengan cepat meraih cangkir teh, meminum hingga tandas isinya.


__ADS_2