
Dia adalah wanita yang memeluk Li na beberapa waktu lalu. "Aku membeli nanas dan beberapa pil pengaman."
Li na mengangkat alis. "Nanas? Nanas untuk apa?"
"Uhmmm ...."
Wanita ketua menyambar dengan berang. "Dia adalah pelacur bodoh di sini! Dia kebobolan sekitar tiga bulan yang lalu. Parahnya, janinnya seolah bukan terbuat dari cairan, melainkan dari sesuatu yang keras hingga sangat susah mengugurkannya. Nanas katanya akan melancarkan---"
"Ahhh! Aku mengerti! Aku mengerti!" Pandangan Li na memaku Bi Sha. "Jadi, kau membeli Nanas karna kau sedang hamil?"
Tatapan tajam dan terkesan mengerikan padahal rasanya Li na hanya mendinginkan sedikit pandangannya, membuat wanita itu tersendat saat berbicara. "T-tentu saja ... Memangnya apa lagi?"
"Bisakah aku memintanya? Air liurku sudah menganak."
Bi Sha termangu. Matanya berkedip beberapa kali dan akhirnya menjawab dengan sedikit terbata. "K-kau, baik ... Tentu."
Wanita Ketua---Nona pemimpin, menjawab dengan senyum yang berakhir menjadi tawa manis. "Ahh, Nona ini terlalu murah hati. Anda sudah menyelamatkan kami, nanas rasanya tidak cukup untuk membayarnya. Ayo, masuk saja ke Rumah kami. Belum sepenuhnya rusak, rasanya tidak sopan jika tidak memperlakukan kalian dengan baik."
__ADS_1
Li na tentu saja tertawa, tangannya melambai menandakan penolakan. "Aiyaa, tidak perlu, tidak perlu. Kami hanya ingin nanas, setelahnya kami akan pulang. Benar begitu... Ge?"
Isyarat berupa kedipan mata sudah tertangkap mata. Lin qingxuan hanya bisa mengangguk. Eh! keliatan tidak, ya, telinganya? Apa terlihat bercahaya karna warna merah? Semoga tidak.
"Ahhh! Ya! Aku tahu, aku tahu! Ahahahah, ya! Aku tahu!"
Apa yang dimaksud aku tahu? Meski gejolak bertanya mendesak, dia masih tidak bisa terkalahkan dengan mudah. "Mana nanasnya? Aku sudah tidak sabar."
"Bi Sha! Cepatlah!"
Li na menyadari sesuatu. "Ahh, maaf melunjak, diletakkan di sana saja. Di sini banyak debu, hehe." Telunjuknya mengarah pada satu kedai yang tidak terlalu bobrok.
Nona pemimpin memasang muka di mana kalimat "Bedebah! Seharusnya tadi tidak usah sungkan" terpampang jelas. Matanya menyayu dan lekukan bibir yang menjadi datar. Li na tidak melihatnya, sungguh. Dia sibuk bernafas.
Bi Sha juga bereaksi serupa dengan Nona Pemimpin, hanya saja menutupinya dengan senyum. "Baik."
Li na menggebrak meja untuk mengusir debu-debu. Bergegas duduk setelah membersihkan lantai juga. Nanas sudah diletakkan, dari warnanya tampaknya itu akan membuat Lin qingxuan terkena sakit mental.
__ADS_1
Putih.
Tanpa ragu, mulut sudah mengunyah satu irisan nanas. Memakannya dengan wajah santai dan mengangguk-angguk. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa menahan liur, ingin mencicipi, tapi warna nanas itu menendang keinginan mereka.
Li na menyodorkan satu potongan ke arah bibir Lin qingxuan. Lim qingxuan sedikit terkejut hingga kepalanya bergerak ke belakang. Hendak menggeleng dan menolak, tapi Li na lebih dulu mencegat. "Ini sesuai dengan seleramu, Ge."
Oke, Lin qingxuan percaya Nanas itu manis---baru saja percaya.
Bibir tipis itu terbuka dan berakhir melahap. Hening sejenak, Bai Xiang rasanya mendalami momen ini. Dia mengunyah dengan lambat dan akhirnya mengeluarkan kata. "Benar, ini manis."
Bi Sha kehilangan warna di wajahnya.
Nona Pemimpin membalik meja dengan wajah memerah marah. Tangannya meraih surai hitam Bi Sha, menjambaknya hingga wajah Bi Sha menengadah ke arahnya. Dan, sudah diduga.
Bi Sha mendapat tamparan tak terelak.
"Kau berani!!!"
__ADS_1