
53
Waktu itu bertepatan sekitar lima tahun yang lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke 18 Lu shi, dia dilamar dari giok terbaik abad ini. Suatu keberuntungan yang menghasilkan kepedihan.
Keluarga penjilat mana yang tidak ingin anaknya dipinang keluarga kerajaan? Rasa iri berkolaborasi dengan dendam terebus hingga mendidih di benak mereka. Para Nona Muda keluarga lain juga tidak susah-susah menyembunyikannya.
Lalu apakah keluarga Lu tidak melawan? Bukan tidak mau, tapi tidak bisa. Dalam setiap Klan, dibagi menjadi seperti piramida. Yang tertinggi adalah yang paling menonjol di antara yang lain. Sayang seribu sayang, keluarga Lu bukanlah si tertinggi itu. Melainkan pada posisi ke tiga.
Bayangkan, betapa banyak bubuk kebencian yang tersebar akibat deklarasi itu? Seorang pangeran melamar putri tak terkenal? Tolong, ini bukan cerita Cinderella!
Huh, memikirkan ini saja sudah membuat hati lu wei kembali diselimuti api amarah. Sabar, sabar. Orang sabar jodohnya rupawan.
Faktor-faktor itu melahirkan suatu kepedihan tersendiri bagi kakaknya. Meski di luar tampak tidak apa-apa, tapi Lu wei bisa melihat ada sejuta kesedihan yang tersamarkan dalam netra menenangkan milik kakaknya itu.
Sejak saat itulah dendam ini tertanam. Semakin hari tumbuh dikarenakan banyak asupan pupuk. Bukan hanya rasa dendam yang turut bertambah, tapi juga sesuatu.
__ADS_1
Lantas, apakah keluarga Lu tidak menyerah saja? Maksudku memilih memutuskan pertunangan ini? Tidak bisa, sudah kubilang tidak bisa. Posisi mereka tergencet, antara menjaga reputasi, juga melindungi orang sendiri.
Jika mereka ingin membelot dan membatalkan pertunangan itu, sudah pasti banyak kecaman diserangkan pada mereka. Entah itu hanya sekedar gertakan ataupun ancaman, tapi efeknya tetap saja membuat mereka semakin tertekan.
Baiklah, para pemirsa sudah cukup asupannya 'kan?
Apa tadi membuat jiwa gelap kalian bergejolak?---oke ini berlebihan. Siapa yang paling membuatmu bergairah? Keluarga Lu? Para pembully? Kaisar? Atau lin qingxuan--- opss! Aku harus pindah planet!
Jadi, bagaimana? Apa Lu wei berlebihan? Harusnya tidak.
Hanya bercanda, tolong jangan acungkan jari tengah padaku.
Selanjutnya, apakah Lu wei tidak berusaha selain ini? Tentu ada, tapi banyak hal menjeratnya untuk berbuat lebih. Termasuk kakaknya, dia sendiri yang bilang untuk tidak memperpanjang. Huh, Lu wei malah merasa dia yang paling bersemangat dalam hal ini.
Tidak masalah. Sekarang sudah tidak masalah, lebih tepatnya harusnya tidak akan ada masalah. Sudah ada adik yang penuh bakti ini, siap siaga melindungi dengan segenap jiwa dan raga.
__ADS_1
Akhirnya turet lawan tidak sepenuhnya aman! Baiklah hero kita sudah muncul! Sambut New Players! Mana konfeti?
Deskripsinya seperti game saja, tapi ini memang game. Ya, ya, yaa ... Permainan yang menyenangkan. Xixixi.
"Hey!" Sebuah tepukan menemani pelontaran kata. Sontak, cengkraman pada bandul giok itu melemah, dan si empu menoleh.
"Apa, Bodoh?"
"Astaga mulutmu! Kita satu kelas" Lin qili awalnya merasa sedikit--- em jangan dibahas--- tapi kemudian dia lebih memilih memotong daripada memperpanjang pembicaraan. Mengalihkanya ke hal yang ingin dia sampaikan.
"Heh? Benarkah? Baguslah." Lu wei tersenyum miring.
Mendapati hal itu lin qili mengerti. Oho, tentu dia tidak terkejut. Dia hanya menggeleng pasrah, sudahlah dia lelah.
"Kyaaa astaga! Tadi aku melihatnya! Melihatnya! Giok terbaik memang yang terbaik!"
__ADS_1
"Aku juga melihatnya! Darahku berdesir! Aku hampir mimisan!"