
Ya ampun suhu!! Hahahahha! Oke, tawa tidak bisa ditahan lagi kali ini. Jika saja li na bisa bergerak sepuasnya jangan harap hal-hal yang disekitarnya akan baik-baik saja. Jika dia tertawa di dekatmu, jangan harap pundakmu aman dari pukulan.
Semua yang bernafas di situ kembali berjengit. I-ini t-tolong perut mereka, sepertinya keram. Hey, keluarkan saja jika sudah tidak tahan. Nah, kan benar. Suara cekikikan yang ditekan volumenya sedemikian rupa tersiar. Ada beberapa yang mampu menahannya dan berakhir dengan mengatur nafas.
Yeah, gosip dimulai. Tentu bukan secara gamblang, di ruang komunikasi mereka berdiskusi---cihh--- dengan estetik.
Kere. Kau sedang membicarakan dirimu sendiri atau bagaimana? Kau mengatai calon kaisar kere? Lidahmu tergelincir lagi?
Xing'er berbeda atensi. Langkah yang sedikit dipercepat akhirnya menggapai lu wei. Sembari mengeluarkan kata, ia menyampirkan tangan ke pundak Lu wei. Sedikit susah karna perbedaan tinggi.
"Hey, kalau kau butuh uang bilang saja, kau bisa menghutang padaku---"
Lu wei berdecak saat ucapan polos---bodoh---yang dilengkapi raut serupa menerobos telinga. "Bodoh, bukan itu. Apa kau tadi tidak mendengarnya?"
Oh, maafkan maafkan. Niatmu terlecehkan. Rupanya ini strategi yang lain makhluk hidup ini pikir strategi marketing.
__ADS_1
"Oh, suara ge---tunggu!"
Anggukan dari Lu wei semakin membuat Xing'er yakin. Sudut mulutnya sedikit berkontraksi, tanpa sadar dia memandang ke belakang. Senyum terpaksa disunggingkan. "J-jadi karna itu? Maaf, aku beruntung hari ini karna tidak membawa uang."
"Aiyo, martabatku hancur secara tidak langsung karna berbicara dengannya, tapi uang sama sekali tidak menyentuh tanganku. Jika begini, apa nanti aku akan dituduh pencuri?"
"Mungkin. Aduh, Kawan nasibmu malang. Berdoa saja dia atau mereka hanya sedang lewat, dan semoga saja orang-orang di sana termasuk orang-orang yang murah hati." Decakan menganak. Terkesan miris dan menggambarkan seseorang yang turut bersedih hati, tetapi raut yang terpatri sangat-sangat kontradiksi.
Membuat Lu wei menatap dengan sengit, berakhir mendengus. Kembali melotot saat mendengar seruan dari arah belakang.
"Mampus!"
Tawa muncrat akibat reaksi yang sangat-sangat sesuai di atas. Xing'er benar-benar merasa perutnya tergelitik. Aduh, hal yang menanti bahkan belum terjadi tapi perutnya sudah begini.
Xing'er hanya bisa menepuk punggung Lu weiseraya berkata, "Sabar." Hanya saja, mulutnya memang nista, tawa kembali keluar seusai kata terlontar.
__ADS_1
Benar saja, sesuai dugaan. Satu tuduhan terserangkan. Membuat sudut mulut Lu wei berkedut.
"Lu wei ! Setidaknya jika kau miskin jangan jadi pencuri! Kembalikan uangku!"
Setidaknya jika kau bebek, jadilah bebek yang murah hati. Rasanya, gejolak untuk berkata sesuai sanubari sangat-sangat tidak bisa ditahan. Untuk mengontrolnya Lu wei akhirnya menghela nafas.
Dia berbalik, melangkah dengan mulut yang mengeluarkan kata. "Ada banyak opsi di sini. Lantas, kenapa langsung padaku?"
Si bebek itu melangkah mendekat. Rasa marah tergambarkan dari raut juga nafas yang terhempas dengan kasar. Raut dungu, juga bisik-bisik menjadi latar belakangnya.
Lj wei mengernyit saat sebuah telunjuk terarahkan pada wajahnya. Semakin dekat membuat tangan terangkat, menjadi sekat tapi singkat, dan berakhir menepisnya. "Tidak usah menunjuk seperti itu, tidak sopan."
Decihan terpaparkan sebelum kata terucapkan. "Mencuri, sopankah begitu?"
"Memfitnah, sopankah begitu?"
__ADS_1
Sebuah senyuman tersungging, kala yang tersindir tambah memberang.