
Telapak tangannya di kepala Li na, berakhir mengelus rambut. "Kau ini, aku tahu kau bukan rindu diriku, tapi rindu traktiranku."
Li na memasang wajah terluka, membawa tangan Lin qili untuk digenggam. "Oh tidak, itu benar."
Lin qili memperbagus suasana dengan membawa tangan Li na ke dadanya. "Oh tidak, hatiku remuk."
Seketika tawa dengan keras, keluar dengan bebas dan tersebar sangat luas. Lin qili dan li a sama-sama tergelak dan saling memberi timpukan.
"A-Li, aku tahu kau membawa oleh-oleh, cepat keluarkan!"
Mendengar itu, tawa lin qili lenyap, dia berkedip malu. "I-ini, maaf, A-Wei, aku pulang dengan terburu-buru. Tidak ada oleh-oleh."
Li na hanya bercanda, tapi malah begini. Dia memilih mengganti pembicaraan. "Terburu-buru?"
"Aku melihat sinyalnya. Awalnya ragu dan berpikir itu adalah ulah jahil anak-anak yang memainkan petasan berpola sama seperti sinyal, aku sering tertipu karna itu. Namun, aku melihat hantu yang bagai arus menerjang area kalian. Tanpa pikir panjang, aku dan orang-orang yang melihatnya berakhir menghampiri."
"Lalu kenapa lama sekali?"
Lin qili terkekeh dan menjawab, "Jangan lupakan Jalan Bersih, A-Wei."
__ADS_1
Jalan Bersih adalah jalan di mana tidak adanya perlindungan sama sekali. Area ini tidak berisikan satu hal pun yang bisa menjamin keamanan. Tabir tidak melingkupi, tidak ada kuil yang setidaknya bisa dijadikan payung dan menahan hantu kelas rendah.
Sesuai namanya, Jalan Bersih. Itu benar-benar hanya jalan, bersih, panjang, dan menakutkan.
Li na lebih heran lagi. Kali ini bahkan sampai terkejut. "Jalan Kosong?! Jadi kau keluar daerah?! Pantas saja aku tidak menemukanmu saat ke luar."
"Aih, keluar?"
Li na merasa bodoh dan bersegera meralat, "Ahh, jangan menangkap hal lain dulu! Aku keluar hanya bersama Kakakmu saja! Tidak pernah sendirian! Aku ini bertanggung jawab!"
Lin qili terkekeh melihat wujud pembelaan diri itu. Dia memilih menjadi jahil dengan menaikkan alis. "Benarkah?"
"Kau yang akan mati! Berani-beraninya bersikap seperti ini pada Yang Mulia ini!"
Bisa diukur seberapa jahil Lin qili dari tawanya. li na benar-benar gemas.
Saat jari tengah li na sudah terasa hangat, barulah dia menghentikan aksinya. Mendudukkan diri di bawah pohon jeruk. "Aku lelah."
"Aku tidak bertanya."
__ADS_1
Sudah cukup!!! Li na mendelik. "Betapa mulianya! Pangeran kedua klan lin mencuri!"
"Kata-kata itu sudah sangat melekat pada dirimu, sudah terlalu basi bagi telingaku"
Lin na benar-benar tidak tahan. "Saksikanlah! Dia bahkan menghina!"
Lin qili menggeleng, memandang langit kemudian merubah posisinya. Yang tadinya duduk bersila menjadi berbaring dengan kedua tangan yang menjadi bantalan. "Kakakku, apa sudah baik?"
"Sudah sangat baik tentu saja! Siapa dulu perawatnya!"
Tidak ada yang salah, lin qili bergumam membenarkan seraya mengangguk. "Itu bagus, kakakku dia ...."
"Dia?"
Lin qili tersedak tawa, berakhir membelokkan lidah. "Kakakku, dia akan sembuh, tentu saja."
Tunggu, tunggu sebentar. Ada yang aneh. Apa kalian menemukannya? Belum mememukannya? Ayo cari! Semangat kawan! Cari dengan teliti!
Meski otakmu memanas, kamu pasti bisa menemukannya! Ya! Itu adalah gerak-gerik Lin Qili. Dia terlihat membendung harapan yang tinggi tetapi juga menyembunyikan kekhawatiran yang dalam
__ADS_1