Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
97


__ADS_3

98


Melainkan ada berbagai ciri khas tersendiri. Ada yang terlalu kecil, terlalu besar, terlalu matang dan sedikit membuat pesonanya hilang, sangat hijau seperti baru saja lahir, ranum tapi hampir busuk, bahkan ada yang berwarna emas.


Emas? Woah, impressive.


"Errr ... Sepertinya alasanmu bisa dicerna."


"Huh, benar bukan? Sekarang jelaskan, bukankah kau sudah lebih dulu tahu? Apa yang sedang terjadi?" Sembari berkata, Lu wei berusaha mengusir debu yang menempel di pakaian.


Shidi itu terlihat bingung merangkai kata, tapi akhirnya dia bisa mengeluarkan kata meski tak semulus wajahnya. "Anu ... err, anu itu ... anu in---"


Tidak berguna. "Anu, anu, anu ada apa???." Nadanya meninggi setiap satu kata. Huh, berinteraksi dengan Shidi ini memang sedikit membebani hati.


Shidi itu mengulum bibir menghasilkan jeda sejenak. "Aku tidak tahu namanya apa, tapi akan kuberi nama, apa yang terjadi adalah Kejujuran takdir---bagus tidak? Kurasa tidak."


"Maaf, tapi aku tidak peduli akan nilai estetika ... Cepat lanjutkan!" Heran, sempat-sempatnya memikirkan nilai estetika hal itu. Ada baiknya diterapkan fitur anti omong kosong pada tubuh setiap manusia.


"Sejauh ini yang kuketahui adalah sesuatu yang sangat-sangat jujur sampai mengerikan. Jadi, tentang apa hal mengerikan itu aku tidak mau mengatak---"


"Kenapa tidak bisa?! Hah, jangan menggantung seperti itu." Ayolah sedikit lagi otaknya akan benar-benar terterangi cahaya ilahi, tapi malah yang menjadi cahaya ilahi mengundurkan diri.

__ADS_1


"Sudah kubilang aku tidak mau. Tidak mau bukan berarti tidak bisa." Tangan memeluk dada, dan alihan mata. Sungguh, membuat bangkit hasrat membanting tubuh milik Lu wei lagi.


Lu wei merotasikan bola mata sesaat setelah jawaban itu tertangkap telinga. Dia mengambil kesimpulan. "Jika kau tidak mau, maka aku akan mencari tahu sendiri."


Sebuah hal yang dilakukan setelah perkataan itu terlontar, hampir saja membuat bola mata si Shidi keluar. Hujan apel tidaklah terlalu bagus, itu sama saja seperti hujan timpukan. Aduh, awas kepalamu Lu wei


"Aduh, aduh, aduh, aaa ya ampun! Dasar bodoh harusnya memasang array dulu." Demi melindungi bagian-bagian tertentu di tubuhnya, Lu wei berjongkok dengan tanganĀ  yang bertaut diletakkan di bagian atas, sebagai pelindung kepala, Shidi tadi juga mengikuti. Makanlah karma itu, salah siapa kau terlalu sopan, orang tua ini kasihan pada pohon yang kau sleding itu.


Umpatan memang pantas dilakukan, sungguh umpatan-umpatan itu tidak cocok dengan wajah menggemaskan si Shidi.


Hujan apel telah usai, belum sampai rasa kesal usai suara sesuatu tersedak membuat mata membelalak. Sontak, badan ditegakkan ditemani mulut yang mulai bertanya. "Siapa?"


Shidi itu menjawab, "Sudah kubilang pohon."


Mulut sudah terbuka, kata sudah siap mengudara tapi sebuah suara membuatnya tertelan kembali. Shidi itu akhirnya hanya bisa menghela nafas.


"Berkata kasar, menggosip, tidak sopan, disarankan untuk mempunyai tipe dengan kepribadian yang berkebalikan agar seimbang."


"I-itu benar-benar bersuara? Astaga, apa ada hantu di dalamnya yang terjebak? Hey, jawab agar aku bisa membantumu keluar." Sudah dibilang tidak sopan bukannya mencoba anggun malah bertindak semakin tidak sopan, bagi si pohon tentu saja. Bagian dahannya berulang kali ditepuk-tepuk oleh Lu wei.


Pohon itu berkata, "Sakit, dasar kasar."

__ADS_1


"Oh, ohoho maaf, maaf ... hehe."


Maaf, maaf, hehe, maaf! Dasar kasar! Hahaha!


"Kenapa? Kurasa yang kulakukan tidak berarti, aku hanya mengambil apel-apel yang berjatuhan dan mengumpulkancnya dikantong---berniat menjua---"


"Sayang sekali itu berarti." Saat menyadari sesuatu dia berdecak, aduh dia memang otak telur. "Jangan pura-pura dungu, itu membuatku ingin melenyapkanmu."


Lu wei tertawa saja. Dia mulai melangkah mendekat dan ikut berjongkok. Saat satu pasang bola mata di sampingnya itu tengah serius menatap dan mencoba mencari sesuatu yang patut dicurigai, Lu wei menghancurkan keseriusan itu dengan sesuatu.


Apel yang tadinya bersiap untuk digigit kembali, kini beralih tangan melahirkan erangan kesal. Shidi itu mendelik, matanya memaku satu objek. Bekas gigi itu hampir membelah apel indah tersebut. Ekspresinya seolah jiwanya tergoncang. "Apa yang kau lakukaaan?!!!"


"Apa yang kulakukan selalu dengan pikiran. Aku lapar. Shidi, bisakah berbaik hati? Lagipula itu apel bukan tahi jadi pantas untuk diolah lambung. Kembalikan!" Tubuh Lu wei mulai condong, berakhir membuat posisi yang terkesan ambigu. Dia seperti seseorang yang sudah berpengalaman dan hendak menyantap hidangan.


Namun, jangan berpikir yang tidak boleh dipikir. Bukan saatnya otak untuk berpergian, tapi saatnya untuk bergatal-gatal ria. Shidi itu ingin menjengit tapi tertahan, dia hanya bisa menghela nafas. "Kau, astaga, dasar gajah. Apa lambungmu seluas daerah laut? Apa daging yang kusedekahkan tadi tidak cukup mengisi perutmu?" Apel ia julurkan, dilanjut dengan menggesernya bolak-balik pelan di depan wajah Lu wei. Dia melanjutkan, "Kenapa aku mengambilnya? Kutanya, kenapa kau seolah ingin menghanguskan bukti?"


"Eh astaga, apa benar begitu? Sungguh, aku hanya lapar." Nah, kan. Raut polos yang menggoda tangan untuk mendaratkan tampolan kembali tersajikan. Shidi itu akhirnya mendengkus.


"Kenapa juga kau memilih apel ini, ada banyak apel dan bahkan terlihat lebih bagus."


Satu alis Lu wei terangkat, sebuah bukti dia mulai serius. Namun nada bicaranya masih seperti biasa. "Kenapa kau bertanya sedetail itu? Aku memilihnya karna itu terlihat paling normal. Lihatlah." Kata terakhir terucap dibarengi telunjuk yang menunjuk arah samping kiri.

__ADS_1


Shidi itu berhenti menyipitkan mata, dia akhirnya tercerahkan kembali tapi saat pemandangan itu dicerna kembali otaknya kembali gatal lagi. Ada berbagai apel. Bukan apel fuji atau semacamnya, Pemirsa.


Bukan apel fuji, oke?


__ADS_2