Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
31


__ADS_3

30


Malam telah berakhir, tapi kebingungan masih mengusik bagian tertentu otak li na. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang berputar membuat otaknya gatal.


Mendengkus saat dia akhirnya mendapat titik terang. Ya ampun! Ternyata seperti itu! Hah, sepertinya otaknya kekurangan bensin, bisa-bisanya dia memecahkan sesuatu sesederhana ini dengan sangat lama!


Tentu saja jaminannya adalah keamanan nyawa, benar bukan?


Jika mereka mengabdi sampai pada keadaan dimana mereka menyerahkan kepala mereka, maka sudah dipastikan, yang menurut akan aman. Ya! Tentu saja konsepnya memang seperti itu!


Ck, otaknya itu malas atau bagaimana sih? Minta disayang atau ditampar sebenarnya?


Oh, ingatkan dia untuk meningkatkan kembali kelincahan otaknya. Akan berbahaya jika otaknya mengalami bug saat kepalanya terancam copot.


Helaan nafas pertama pada hari ini, berdoa saja itu tidak beranak. Kehangatan mulai menyapa kulitnya. Pendar oranye matahari terbit memang membangkitkan semangat.


Secercah senyum terbit bertepatan dengan matahari yang memunculkan diri, setelah sedari tadi meminta bantuan awan untuk menutupinya karna malu menyapa orang tercantik menurut orang tercantik itu sendiri, mungkin? Ha! Cih!


"Wah apakah setelah hari ini matahari akan terbit dari utara? Suatu keajaiban bagi seorang pemalas bangun terlalu pagi."

__ADS_1


Pagi-pagi sudah disuguhkan camilan berupa sindirian, nikmat sekali kawan.


Celetukan itu merebut sepenuhnya perhatian li na dari fajar. Jar, fajar, dimohon untuk bersabar. Ck, ck, ck


"Maaf saja, kau harus berdoa lebih rajin lagi untuk mendapatkan keistimewaan kesempatan menemukan momen itu. Aku tidak bangun pagi, tapi aku tidak tidur."


"Memangnya aku tanya?"


Langkah li na tercegah akibat jawaban diluar perkiraan itu. Hey! Itu kata-kataku jangan mencurinya!


Satu ketukan lembut mengurungkan atau lebih tepatnya meredakan hasrat bercekcok milik li na.


"Jiejie, apa kau sudah bangun? Oh, bangunkan A-wei juga di---"


Cih, hentikan aksi jengkelmu itu!


Terdengar sahutan penuh rasa bersalah yang nyata dari belakang pintu. "O-oh begitu, maaf aku tidak tahu. Tuan Muda qing meminta kita untuk turun dan sarapan."


"Kau bisa duluan." Kali ini ming mei yang mengeluarkan jawaban.

__ADS_1


Seusai merapikan beberapa hal, kedua gadis itu bersegera memenuhi ajakan.


Aura yang tidak mengenakan seolah berputar di ruangan khusus itu. Ya, wajar saja sih. Mereka tidak akrab, apalagi teman. Terlebih si dia itu.


"Kamu datang."


"Tentu saja aku datang karna makanan."


"Kupikir kamu datang karna merindukanku."


Decakan sebal tersiar saat gombalan tidak seberapa itu menghampiri li na. Aih, junior tersayang mohon tingkatkan lagi kemampuanmu itu, oke?


"Dramanya mohon ditunda dahulu. Aku ingin makan tanpa merasa mual akibat pertunjukan kalian." Ming mei menyabotase jatah jawaban li na.


Hanya kekehan yang mewakili jawaban. Perlahan hening mengisi, suara sumpit yang sesekali tak sengaja menyenggol mangkuk, hentakan cangkir teh, hanya itu yang sedari tadi mencoba meramaikan sunyi.


Berakhir sudah sesi makan elegan itu. Kelimanya beranjak hendak mengecek keadaan orang-orang di ruangan berbeda.


Hah, sudah terduga.

__ADS_1


Makanan masih suci, belum ternodai sumpit dan belum berkurang sedikitpun. Orang-orang itu tidak menunduk tapi pandangan mereka meredup. Saat mendengar langkah kaki yang mendekat orang-orang itu sepenuhnya tenggelam dalam kesunyian, bukan kebingungan.


"Heh? Kenapa belum dimakan? Apa tidak enak? Jika tidak enak berikan saja padaku, aku menyayangi makanan. Sayang sekali jika mereka dibuang." Sontak sebuah sikutan pelan menyerang pinggangnya. Li na menatap cengo ming mei.


__ADS_2