
Shidi itu memandang dengan malas interaksi yang sungguh membuat matanya lelah, pupilnya bergulir mengikuti lu wei yang berjalan mengitari pohon tersebut.
Kira-kira jika pohon ini diberi wajah apakah akan indah?
Tidak, itu akan creepy. Sebuah bayangan menakutkan seketika terbayang di benak li na. Dia sering heran, dalam cerita, sepertinya tidak ada tagar horor tapi selama dia hinggap di raga ini ada begitu banyak yang membuatnya menyimpulkan kalau ini bukan cerita yang dibacanya.
"Sebelumnya maaf sudah mengganggumu errr ... P-pohon? A---"
"Pohon cinta."
Nilai estetika dari itu adalah 0,00001%.
Lu wei tersedak udara, dia akhirnya membuatnya menjadi tawa. Tawa canggung tentu saja. "Oh, b-begitu. B-baik, P-pohon c-cinta, bisakah beri sedikit penerangan tentang apa yang terjadi di sini?"
"Apa jika aku menjawabnya itu akan bermanfaat untukku?"
Bayaran lagi? Ya ampun sangat memeras kantong, aku bahkan sedang dalam fase fakir tahu. Hufftt, tunggu saja saat aku kaya aku akan menampar mereka semua dengan uang. Pada kenyataan, Lu wei hanya bisa menyengir manis yang dibuat-buat. Sedangkan si Shidi sudut mulutnya berkontraksi.
__ADS_1
Lu wei berucap, "A-anu, bayaran lagi, ya? Uuhh, aku tidak membawa uang."
"Siapa bilang harus uang? Aku mencium bau-bau kau itu kaya."
Jawaban yang diberikan benar-benar membuat Lu wei membesarkan kepala. Seketika ekspresi bangga tertoreh dengan senyum yang disamarkan. "Ah, aku kaya jika ada uang jika tidak maka aku miskin."
"Dasar bodoh, jika uang ada tentu saja kaya."
Li na tidak tahan untuk menjawab lontaran kata si Shidi. Tetanggaku dia kaya, tapi selalu bilang tidak ada uang.
"Tidak, maksudku kau kaya. Kaya akan pengalaman mengenai percintaan."
Sebuah tawa akhirnya terbit dengan bebas, besar, juga menjengkelkan. Ini benar-benar diluar ekspektasi, Lu wei benar-benar akan membesarkan kepalanya kali ini.
"Ahahahahah, ya ampun itu, ya ... Oh, aku tidak berpengalaman, kok. Mantanku juga baru sekitar 533 atau errr berapa ya .... " Sebuah toyoran pada kepala membuat aksi garuk tengkuk berakhir.
Mata menyipit, raut datar itulah yang terpapar. Ingin Lu wei berkomentar tapi atensinya kembali teralihkan.
__ADS_1
Pohon itu menjawab, "Ya ampun, kau tidak patut merendah. Prestasimu bisa saja dijadikan prasasti, aku sungguh kagum. Pantas saja kau tidak terpengaruh."
"Tidak terpengaruh?" Yeah, pelan. Sedikit demi sedikit, lanjutkan.
Tunggu, terkesan ambigu. Lah?
"Dunia ini penuh janji palsu, cinta yang hanya di mulut saja, tipu-tipu, ucapan manis yang memualkan, rasa manis yang hanya ilusi. Jadi demi meminimalisir sakit hati atau apapun dampaknya, siapapun yang masuk ke daerah Kejujuran takdir sudah pasti tidak bisa menghindari adanya pengujian kejujuran."
Shidi itu bergumam, "Jadi benar namanya Kejujuran Takdir? Haha, aku pintar."
"Pengujian kejujuran ditujukan untuk membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang tulus karna beberapa hal yang mendasari. Pengu---"
"Aaa kau terlalu baik, aku hanya bertanya kenapa aku tidak terpengaruh." Sopan sekali, dasar murid teladan.
"Terimakasih atas pujiannya, aku hanya bermaksud berbasa-basi tapi tidak sebasi orang lain, basa-basiku lebih berbobot. Alasan mengapa kau tidak terpengaruh adalah kau tidak tertebak."
"Tidak tertebak? Hehe, aku memang misterius." Lu wei terkekeh angkuh, itu padam akibat jawaban yang diserangkan.
__ADS_1
"Anak muda memang selalu percaya diri sampai tinggi diri. Hey, maksudku bukan kepribadianmu yang misterius tapi tentang tipe pasangan idamanmu. Ada begitu banyak mantan, tapi kau tidak menyukai setiap sikap yang ada, itu membuatmu tidak terpengaruh."
Tentu saja, Lu weu hanya butuh dolar bukan pacar. Same with me. sama dengan diriku